Agus Mukhandar
Oleh Agus Mukhandar, Penyuluh Agama dan Ketua Dewan Dakwah Bandar Lampung
Program makan bergizi gratis di sekolah adalah ikhtiar mulia pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas generasi muda bangsa. Namun, ketika terjadi kasus keracunan makanan di beberapa sekolah, kepercayaan masyarakat pun goyah. Ini bukan hanya soal teknis pengadaan makanan, tetapi soal rasa aman, akuntabilitas moral, dan tanggung jawab kolektif.
Sebagai penyuluh agama, saya memandang bahwa tanggung jawab terhadap keamanan dan kelayakan makanan bukan hanya tugas administratif, tetapi juga amanah moral dan agama. Dalam Islam, memberi makanan kepada orang lain adalah amal besar, tetapi bila dilakukan tanpa amanah, bisa berubah menjadi dosa.
Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap bentuk kelalaian yang mengancam keselamatan jiwa, termasuk dalam pemberian makanan yang tercemar, adalah bentuk kebinasaan yang dilarang oleh agama. Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka yang terlibat dalam penyediaan makanan—baik dari kalangan pemerintah, penyedia katering, maupun sekolah—adalah para pemimpin dalam urusannya. Maka mereka pun harus siap mempertanggungjawabkan apa yang mereka suguhkan kepada anak-anak kita.
Agar program ini tetap berjalan secara aman dan efektif, beberapa langkah konstruktif bisa diambil:
Perketat standar higienitas dan keamanan pangan
Terapkan standar BPOM dan Kemenkes dalam setiap tahap proses makanan. Wajibkan semua penyedia makanan memiliki sertifikat laik higiene sanitasi.
Libatkan Dinas Kesehatan secara aktif
Pengawasan dan uji sampel harian oleh Dinas Kesehatan harus menjadi kewajiban, bukan pilihan.
Transparansi dan pelibatan masyarakat
Komite sekolah dan orang tua harus diberi ruang untuk ikut mengawasi dan mengakses informasi tentang makanan yang dikonsumsi anak-anak mereka.
Pendidikan Gizi dan Higienitas
Penyedia makanan dan guru perlu mendapat pelatihan tentang gizi dan kebersihan. Siswa pun perlu dibiasakan mencuci tangan sebelum makan dan menjaga kebersihan.
Audit dan evaluasi berkala
Audit independen perlu dilakukan secara rutin, disertai evaluasi dan sanksi yang tegas bagi pihak yang lalai.
Pemberdayaan UMKM Lokal yang Terstandar
UMKM lokal dapat dilibatkan sebagai penyedia makanan, asalkan mendapat pelatihan dan diawasi ketat agar kualitas dan keamanannya terjaga.
Namun, ada satu gagasan sederhana yang memiliki kekuatan moral luar biasa: program “Makan Bersama, Tanggung Jawab Bersama”. Yaitu, mengajak semua pihak—Badan Gizi Nasional (BGN), penyedia katering, panitia sekolah, hingga petugas distribusi—untuk ikut makan bersama siswa secara berkala.
Dengan pendekatan ini, tidak hanya terjadi pengawasan langsung terhadap mutu makanan, tapi juga tumbuh rasa empati dan tanggung jawab bersama. Jika makanan tidak layak, semua ikut merasakan. Jika aman dan sehat, semua turut merayakan.
Nabi Muhammad ﷺ mencontohkan adab dan kesederhanaan dalam makan bersama. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa beliau makan bersama para sahabat dengan penuh kasih sayang dan kebersamaan. Bahkan beliau bersabda:
“Makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan untuk dua orang cukup untuk empat orang…”
(HR. Muslim)
Hadis ini bukan hanya bicara soal cukupnya makanan, tapi juga mengajarkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur. Makan bersama siswa juga menjadi ruang edukatif untuk menyisipkan nilai-nilai gizi, etika makan, dan kepedulian sosial.
Sebagai penyuluh agama, saya mengajak semua pihak untuk tidak melihat makan gratis ini sekadar sebagai proyek bantuan pangan. Tapi sebagai ibadah kolektif—amal shalih yang harus dilakukan dengan niat tulus, cara yang bersih, dan tanggung jawab yang tinggi.
Karena sesungguhnya, membangun generasi bukan hanya soal memberi makan, tapi memberi rasa aman dan keteladanan. Dan itu dimulai dari hal sederhana: makan bersama, duduk sejajar, dan merasakan yang sama. []

Tinggalkan Komentar Anda