Opini

QRIS di Pusaran Perang Tarif dan Ambisi Digital China-Amerika

QRIS di Pusaran Perang Tarif dan Ambisi Digital China-Amerika

Romi Aprilyansa. | Dokumentasi

Oleh Romi Aprilyansa, Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila

Dulu minyak jadi rebutan, sekarang data dan sistem pembayaran digital yang jadi medan baru. Dunia sedang berubah cepat, dan tanpa banyak disadari, Indonesia sudah masuk ke tengah-tengah pertarungan dua kekuatan besar: Amerika dan China.

Salah satu buktinya? QRIS. Ya, QR code yang biasa kita pakai buat bayar kopi, beli gorengan, atau naik ojek.

QRIS sekarang dipakai di lebih dari 30 juta merchant, dan sepanjang 2023, total transaksinya tembus Rp229 triliun. Di permukaan, ini terlihat sebagai kemajuan teknologi biasa. Tapi bagi Amerika, ini bisa jadi potensi ancaman.

Kenapa bisa begitu?

Karena selama ini, banyak transaksi digital Indonesia yang pakai Visa atau Mastercard. Fee-nya bisa 2-3%, dan uang itu sebagian besar lari ke luar negeri, ke Amerika. QRIS cuma ambil sekitar 0,7%, dan dikelola dalam negeri.

Artinya: makin banyak orang pakai QRIS, makin sedikit uang yang keluar negeri. Ini yang bikin Amerika mulai waspada, apalagi kalau sistem ini bisa terkoneksi lintas negara seperti sekarang sudah diuji coba dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Belum lagi rencana Bank Indonesia bikin Rupiah Digital, yang mirip seperti Yuan Digital milik China. Semua ini bikin AS makin khawatir kehilangan kendali atas sistem keuangan dunia.

Bahkan Donald Trump sempat menyebut sistem pembayaran alternatif sebagai ancaman bagi kekuatan Amerika.

Masuk Daftar Pantauan

Baru-baru ini, AS menempatkan Indonesia dalam daftar pemantauan kebijakan mata uang. Salah satu alasannya karena neraca dagang kita surplus.

Tapi bisa jadi ini juga karena kita mulai terlihat “berdiri sendiri” dalam sistem pembayaran. QRIS dan digitalisasi pembayaran bikin Indonesia dinilai sedang membangun sistem sendiri, lepas dari dominasi dolar.

Apa Risikonya Buat Indonesia?

Indonesia memang belum jadi pemain utama seperti China. Tapi langkah-langkah kecil seperti QRIS dan Rupiah Digital bisa bikin posisi kita makin strategis.

Ini bisa jadi peluang—kalau kita pintar memainkannya. Tapi juga bisa jadi tekanan, kalau kita tidak siap.

Di sisi lain, kita masih punya tantangan besar: utang negara tinggi, penerimaan belum optimal, dan ekonomi masih banyak bergantung pada ekspor ke China dan Amerika.

Kalau perang tarif AS-China makin panas, Indonesia bisa ikut kena dampaknya. Bukan cuma dari sisi perdagangan, tapi juga dari sistem keuangan digital yang mulai jadi perhatian.

Jangan Anggap Remeh QRIS

QRIS bukan cuma teknologi buat bayar lebih cepat. Ia adalah bagian dari cerita besar: siapa yang mengontrol uang, data, dan arah ekonomi dunia ke depan.

Saat Amerika dan China saling bersaing lewat tarif, teknologi, dan mata uang digital, kita sebagai warga Indonesia perlu lebih sadar bahwa sistem pembayaran juga bisa jadi alat politik global.

Mungkin keputusan kecil seperti pakai QRIS di warung tidak terasa punya dampak. Tapi dalam skema besar, itu bisa jadi bagian dari peta kekuatan baru dunia.

Seperti kata Bung Karno: “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah setia dan waspada.”

Dan jangan lupa juga semboyan beliau yang paling menggugah: Berdikari—berdiri di atas kaki sendiri.

Digitalisasi bukan sekadar soal aplikasi. Ini tentang kedaulatan. Dan Indonesia punya kesempatan untuk bangkit—dengan caranya sendiri. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda