Opini

Opini: Pelantikan Kepala Daerah dan Demo Mahasiswa, Bagaimana Penyuluh Agama Melihatnya?

Opini: Pelantikan Kepala Daerah dan Demo Mahasiswa, Bagaimana Penyuluh Agama Melihatnya?

Agus Mukhandar

 Agus Mukhandar (Penyuluh Agama Bandar Lampung/Ketua Dewan Dakwah Bandar Lampung

 Pada tanggal 20 Februari 2025, pemerintah Indonesia melantik 961 pasangan kepala daerah hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Istana Kepresidenan, Jakarta. Namun, di tengah perayaan demokrasi ini, gelombang aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) turut mewarnai momen tersebut.

Mengusung tema “Indonesia Gelap”, aksi ini merupakan puncak dari serangkaian demonstrasi yang berlangsung sejak 17 Februari 2025 dengan sembilan tuntutan utama kepada pemerintah.

Sebagai penyuluh agama Islam, penting untuk melihat fenomena ini dengan kaca mata Islam dan memberikan pencerahan kepada masyarakat agar memahami situasi secara objektif dan sesuai dengan ajaran agama.

Sembilan tuntutan mahasiswa dalam aksi “Indonesia Gelap”

  1. Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, yang dianggap memangkas anggaran sektor pendidikan dan layanan publik.
  2. Penolakan pasal dalam RUU Minerba, yang mengizinkan perguruan tinggi mengelola tambang dan dinilai menimbulkan konflik kepentingan.
  3. Peningkatan kesejahteraan rakyat melalui kebijakan ekonomi yang lebih berpihak kepada masyarakat kecil.
  4. Perbaikan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) agar lebih efektif dan tepat sasaran.
  5. Penegakan hukum terhadap mantan Presiden Joko Widodo atas dugaan keterlibatan dalam berbagai kasus.
  6. Evaluasi kabinet Presiden Prabowo Subianto, terutama terkait kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.
  7. Perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk revisi kurikulum dan peningkatan kualitas tenaga pengajar.
  8. Penghentian kriminalisasi aktivis yang menyuarakan aspirasi rakyat.
  9. Transparansi pengelolaan anggaran negara, agar dana digunakan untuk kepentingan rakyat secara lebih akuntabel.

Pandangan Penyuluh Agama Islam

Sebagai penyuluh agama, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat memahami peristiwa ini dalam perspektif Islam:

  1. Mengedepankan Prinsip Tabayyun (Verifikasi Informasi)

Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Masyarakat harus berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi terkait demonstrasi dan kebijakan pemerintah, agar tidak terjebak dalam propaganda atau hoaks yang dapat menimbulkan perpecahan.

  1. Menjaga Etika dalam Menyampaikan Aspirasi

Islam mengajarkan bahwa menyampaikan pendapat harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak melanggar norma. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Demonstrasi yang dilakukan dengan damai dan beradab lebih efektif dalam menyampaikan aspirasi dibanding aksi anarkis yang merugikan semua pihak.

  1. Mendorong Dialog dan Musyawarah

Allah swt berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ

“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Mahasiswa dan pemerintah harus membuka ruang dialog untuk mencari solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi bangsa.

  1. Menghindari Fitnah dan Ujaran Kebencian

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْفِتْنَةُ نَائِمَةٌ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ أَيْقَظَهَا

“Fitnah itu sedang tidur; Allah melaknat orang yang membangunkannya.” (HR. Ibnu Hibban)

Sebagai penyuluh agama, kita harus mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh narasi yang membahayakan stabilitas negara.

  1. Mendoakan Kebaikan bagi Pemimpin dan Bangsa

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk selalu mendoakan kebaikan bagi pemimpin agar diberikan petunjuk dalam menjalankan amanah. Rasulullah ﷺ bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian.” (HR. Muslim)

Kesimpulan

Pelantikan kepala daerah yang diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa merupakan fenomena demokrasi yang wajar.

Namun, sebagai penyuluh agama Islam, penting untuk mengajak masyarakat agar memahami situasi ini secara objektif, tidak mudah termakan hoaks, dan selalu menjaga adab dalam menyuarakan aspirasi. Islam mengajarkan kita untuk menempuh jalan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan masalah serta selalu menjaga persatuan.

Pemerintah diharapkan mendengarkan aspirasi mahasiswa dengan bijak, membuka ruang dialog, dan menindaklanjuti tuntutan yang realistis dan konstruktif.

Di sisi lain, mahasiswa juga harus menyampaikan pendapat dengan cara yang santun dan tidak merusak ketertiban umum. Dengan demikian, kita dapat membangun bangsa yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai Islam dan prinsip keadilan.

Semoga Allah swt senantiasa memberikan petunjuk dan keberkahan bagi bangsa Indonesia. Aamiin. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda