Memasak apam, makanan khas warga suku Minang di Pasaman Barat. | Laila Barqah

Wartalampung.id, Pasaman Barat – Tradisi memasak ma-apam, makanan yang terbuat dari tepung beras, menjelang memasuki Rajab atau pada bulan Rajab, di Nagari Persiapan Simpang Timbo Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, tetap terus dilestarikan.
Tradisi membuat ma-apam ini memang dijaga oleh masyarakat setempat. Tokoh masyarakat setempat Kartini mengatakan, tradisi ini perlu dilestarikan dalam rangka memupuk kebersamaan.
Kegiatan membikin ma-apam ini sudah berlangsung selama puluhan tahun di daerah ini. Sebenarnya ma-apam bukan hanya tradisi di Simpang Timbo Abu saja, tapi juga tradisi masyarakat Pasaman Barat, wabilkhusus mayoritas suku Minang.
Kartini, 70 tahun, mengatakan, tradisi yang sudah turun-temurun ini selain mempererat tali silaturahmi masyarakat, juga ikut mengajak meningkatkan persatuan dan kesatuan.
Putri Sofiani, siswi SMK Talu, menambahkan, neneknya pernah bercerita mengenai masak ma-apam ini. Kata dia, tradisi ini tidak pudar sampai sekarang. Namun, ujarnya, ada yang berbeda dengan masak apam dulu dengan sekarang.
Perbedaan yang terlihat adalah jika dahulu memasak secara bersama di halaman rumah, masjid atau lapangan, kini hanya dilakukan di rumah masing-masing dengan anggota keluarga.
Kartini membenarkan itu. Walaupun hari ini suasana masak ma-apam berbeda, ia berharap apa yang dilakukan hari ini bisa ditiru oleh generasi penerus. “Agar tradisi ini tidak hilang di tengah kamajuan zaman,” ujarnya [Lailatul Barqah]
