Nusantara

Oretan Perjalanan Tur Sumatera Legta Fitriadi

Oretan Perjalanan Tur Sumatera Legta Fitriadi

Tur Sumatera Legta Fitriadi

Tur Sumatera Legta Fitriadi

SENIN pagi, di hari ke sebelas bulan sebelas, dan juga waktu dengan angka yg sama, kami berangkat ke ujung barat pulau Jawa. Pelabuhan Merak, Banten.

Sebagai salam pembuka Sumatera, kami berhenti sejenak menikmati olahan kuliner Nusantara khas Padang. Cuaca cerah bersahabat, hembusan angin menggoyangkan besi yg terapung hingga propinsi Lampung, pelabuhan Bakauheni.

Welcome to Sumatera.

Trek beton menyambut, jalan bergelombang, aspal pecah hingga menimbulkan lubang juga gulungan di permukaan jalan.

Pun (tanpa pencahayaan kala malam hari) gelap di banyak ruas hingga ratusan kilometer, adalah sajian utama tol Sumatera, Lampung-Palembang dengan panjang 300 km lebih.

Tak semua rest area menyediakan bahan bakar, jadi persiapan full tank, dan maksimalkan ketika bersua pompa bensin selama melintas di jalur berbayar tersebut.

Terlepas fakta, rasa syukur wajib terucap, keberadaan tol tersebut, menyingkat jarak dan waktu.

Hari berganti, tiba di Boemi Sriwijaya.

Singgah sejenak dan mengganjal perut, untuk modal istrahat cukup.

Mentari hadir, nasi goreng sajian tempat menginap, siap disantap. Disambi obrolan canda, berlanjut dengan obrolan dunia pekerjaan. Dua tempat berlalu, masih di Kota Palembang.

Menjelang sore, kami bertolak ke Bumi Melayu yang nyaris menyisir sungai ikonik provinsi ini, Sungai Batanghari.

Melintas batas di jalur lintas timur (jalintim) Sumatera. Gelap dan berliku, yang merupakan gugusan bukit barisan. Durasi nyaris 12 jam, Kota Jambi kami temukan.

Kudapan juga tempat bermalam adalah tujuan yang diutamakan.

Pemandangan kota dengan nuansa berbeda, juga kopi panas sebagai teman setia.

Malamnya, obrolan berlanjut ditemani dengan minuman jahe merah plus telur ayam penghangat badan.

Menjelang siang, petualangan dilanjutkan.

View keindahan Maha Karya Yang Maha Agung Allah swt tersaji. Meski kami bukan ninja Hatori, naik turun gunung harus dilalui. Semua kewajiban lima waktu, tetap prioritas utama, dan kami ambil “bonus” keringanan, yakni rukhsah, boleh meng-qada dan men-jama.

Azan isya berkumandang.

Alhamdulillah, Bumi Lancang kuning, kami datang.

Gapura megah berornamen khas masjid. Di pusat kota, kami singgah selama dua malam.

Pun tak ketinggalan, berburu kuliner olahan hasil tangkapan nelayan, dari ikan bakar, pindang hingga lalapan habis tersisa tulang belulang.

Pengalaman berharga bisa menikmati masakan berbeda. Dilanjutkan ke peraduan, menjemput mimpi yang berharap jadi kenyataan.

Usai subuh, mesin dipanaskan. Aplikasi gadget tentang map disiapkan. Ranah Minang-lah tujuan ditetapkan.

Kabut sisa semalam masih ramah memanjakan pandangan, bahkan ketika sang surya mulai menyilaukan.

Melintas batas, hingga aspal terlindas.

Gerbang tol Pekanbaru menuju Koto Kampar, tertulis di punggung bukit dengan ukuran font sangatlah besar.

Jalur perbukitan menyambut, trek perjalanan paling jauh, Limapuluh Kota.

“Satu kota aja dah 12 jam lebih, gimana 50 kota,” seorang kawan berseloroh.

Ya…kami menapak jalan di Kabupaten Limapuluh Kota.

Masih barisan perbukitan, ruas jalan yang mulus tanpa berlubang, juga aliran sungai yang bening tanpa pencemaran. Bukti betapa pemerintah bekerja sebagai pelayan, dan rakyatlah majikan.

Tak kami temukan gerai minimarket yang biasa tampak di kota lain, semua usaha rakyat dimiliki dan dikelola “awak sadonyo“. Infrastruktur sangat diperhatikan.

Kami beristirahat sejenak karena segelas kopi dan tentu juga sarapan. Pastinya, di puncak pegunungan.

Tak sampai sepuluh menit berkendara, nampak banyak kendaraan menepi. Kami heran? Pastilah.

Karena ternyata, Kelok Sembilan yang begitu fenomenal, terhampar menghubungkan bukit, dengan laju kendaraan kian kemari. Masya Allah.

“Mirip main Tamiya raksasa ya,” ucap kawan menatap sesuatu yang sangat mengagumkan

Bukittinggi, tujuan yang kemudian dijumpai.

Sesuai nama, memang di puncak ketinggian, diapit Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Dengan Bukti Barisan yang tetap setia melingkar.

Bersua dan bertatap muka, mengalir bait dan kata, seputar dunia kerja, rangkaian agenda serta canda, ditemani minuman panas penggugah selera, juga pisang goreng khas Bukittinggi.

Tak terasa detik berdetak dan kami harus beranjak.

Salam hangat dan bersahabat melepas pertemuan demi silaturahmi selanjutnya.

Kota Padang, 16 November pagi hari.

Kami percaya, silaturahmi jalan rezeki. Salam dan mengolah kata perkenalan diri. Hingga adan zuhur.

Tak lupa kami tunaikan kewajiban utama, dan doa karena kami makhluk penuh khilaf dan kelemahan, berpasrah dan berserah.

“Kita makan siang dulu, Pak, tak ke Padang kalau awak tak jumpa makan di tempat nanti,” ucap Pak Haji, ditemani putrinya yang tersenyum menawan hati.

Membelah jalanan ibu kota provinsi, menuju restoran nan tak jua sepi. Pengunjung silih berganti menghampiri.

Aiih….rancak bana. Olahan sayur juga lauk menggugah selera.

“Kami pamit, Pak Haji, Uni. Tarimo kasih sambutannyo, juga jamuan makan siang yang takkan denai kan lupo,” salam pamit kami cak begayo bahasa Minangkabau.

Mereka tertawa dengan senyum mengembang.

Aih….elok nian senyum uni.

Mesin mulai dinyalakan. Kami singgah sejenak di sebuah bangunan megah bertulis “Masjid Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwi “. Sebuah nama ulama besar, kebanggaan nagari juga NKRI.

Dan berlalulah carito di nagari Minangkabau menghantar kami melintas bukti kembali.

Hingga berhenti sejenak, mendinginkan mesin juga segelas kopi, di depan bundaran suatu nagari, “Selamat Datang di Kabupaten Pesisir Selatan “.

Sesuai nama, kami melintas di jalur pesisir barat Sumatera, dengan lautan luas Samudera Indonesia.

Tak mau rugi jika tak menikmati, sebuah kedai di pinggir pantai kami singgahi. Makan siang juga kelapa muda tersaji, dan rasa ori.

Hujan rintik menemani hingga tempat menginap kami jumpai.

Ya, masih dengan segelas kopi usai mandi, review dan berbaris kata bergulir tak henti.

Telah beda hari, tugas musti dijalani sepenuh hati. Bumi Rafflesia tujuan hati.

Penat badan dan netra mulai bertamu, kami berhenti. Sekadar menginap dan mengisi amunisi.

Negeri ini sangatlah eksotis.

Jika Sumbar ada Kelok Sembilan, maka Bengkulu punya Liku Sembilan yang masih sangat asli.

Kecamatan Curup-lah tujuan kami.

Dua malam menginap, pesona alam pun tersingkap, sangat layak dinikmati. Sebuah kecamatan yang terletak di lembah Bukit Kaba, masih gugusan Bukit Barisan.

Kudapan khas bernama “lemak”, berbahan rebung, bambu muda yang sangat nikmat. Kopi?

Pasti kami nikmati, citarasa Bengkulu.

Saatnya harus berlalu. Kami singgah kembali di Boemi Sriwijaya sebagai penutup rangkaian Tour de Sumatera di hari ke sedasa.

Singgah sejenak di pusat kota. Pempek, lenjer, kapal selam juga kerupuk sebagai cenderamata, kudapan berkuah khas Sriwijaya.

Hidangan malam berlatar gunung Rajabasa tersaji sebelum masuk ke Pelabuhan Bakauheni.

Alhamdulillah. Denai taraga. Aku merindu. Entah untuk siapa selain orang tua, teman juga saudara. Entah. [Catatan Perjalanan Legta Fitriadi, Mantan Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi FEB Unila]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda