Opini

Pengajaran Bahasa Prancis di Indonesia & Bahasa Indonesia di Prancis

Pengajaran Bahasa Prancis di Indonesia & Bahasa Indonesia di Prancis

Setia Rini

Setia Rini

Oleh Setia Rini, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung

Prancis dan Indonesia, negara yang sama-sama tidak memiliki latar belakang historis sebelumnya secara langsung. Namun, nyatanya, bahasa dari kedua negara ini saling diajarkan.

Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) diajarkan di Prancis terutama di beberapa kota dan lembaga yang memang memiliki kerja sama dengan pemerintah Indonesia (baca : Bahasa Indonesia di Prancis) meskipun dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.

Sebaliknya, le Français Langue Étrangère (FLE) Bahasa Prancis sebagai Bahasa Asing juga diajarkan di Indonesia, baik di lembaga formal maupun non formal.

Terkait kedua bahasa tersebut, apakah negara kita memiliki latar belakang historis dengan negara Prancis secara langsung? Dilansir dari https://kumparan.com/kabar-harian/urutan-negara-yang-menjajah-indonesia-belanda-paling-lama-20yGUaTjUOt/1 diungkapkan bahwa negara-negara yang pernah menjajah Indonesia secara urut adalah Portugis mulai tahun 1511, lalu Spanyol tahun 1521, Belanda tahun 1596, Prancis tahun 1795, Inggris pada tahun 1811 sampai 1816, dan Jepang di tahun 1942-1945.

Namun, perlu diketahui, kolonialisme Prancis di Indonesia pada waktu yang sangat singkat tersebut tidak dilakukan secara langsung oleh Prancis, namun melalui Belanda. Tahun 1795, Prancis berhasil menaklukkan Belanda di bawah kepemimpian Napoléon Bonaparte [Napoléong Bonapart].

Lalu apakah ada pengaruh secara tidak langsung terkait bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia ? Menurut Hardini & Grangé (2016) dijelaskan bahwa secara tidak langsung pengaruh bahasa Prancis terlihat pada kosakata bahasa Indonesia.

Puluhan kata dari bahasa Prancis misalnya pada bidang militer, tata boga, dan mode ditemukan di dalam bahasa Indonesia namun tidak secara langsung. Artinya, bahasa Indonesia menyerap kosakata bahasa Belanda di mana bahasa Belanda memiliki kesamaan dengan kosakata bahasa Prancis pada saat itu.

Sebaliknya, bahasa Prancis ternyata juga menyerap bahasa Indonesia/ Melayu melalui bahasa Inggris seperti kata bambou dan orang-outang.

Bahasa Prancis dan bahasa Indonesia secara sintaksis, tentu memiliki perbedanaan yang cukup kontras, yang mana pemelajar bahasa Indonesia merasa kesulitan belajar bahasa Prancis karena adanya konjugasi dan gender.

Sebaliknya, orang Prancis merasa lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia karena tidak ditemukan kedua hal tersebut, dan juga lebih mudah diucapkan (logis).

Kosakata apa pun yang tertulis di dalam bahasa Indonesia diucapkan sama, sedangkan bahasa Prancis banyak sekali perbedaan. Poison [pwazong] dan poisson [pwasong], yang pertama bermakna racun dan kedua bermakna ikan.

Namun, di sisi lain sintaksis bahasa Indonesia khususnya imbuhan –kan, -i, me-kan, me-i, pe-, me-, dan lain-lain cukup membuat orang-orang Prancis juga kebingungan sama hal seperti ketika kita belajar konjugasi dengan berbagai subjek dan bentuk waktu yang berbeda-beda. Lalu bagaimana peminat BIPA di Prancis juga FLE di Indonesia?

Jawabannya adalah sangat bertolak belakang. Dilansir dari tulisan Grangé yang pada tahun-tahun sebelumnya merupakan Atase Kerja Sama Linguistik Prancis di Indonesia yang berjudul Tantangan Pengajaran Bahasa Indoensia di Prancis, diungkapkan bahwa jumlah pemelajar BIPA di Prancis 130.

Sebaliknya, orang-orang Indonesia yang belajar bahasa Prancis saat ini berjumlah ratusan, 1: 500. Tentu saja ini menjadi pertanyaan yang patut untuk direnungkan oleh kita semua.

Bagaimana bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa di Asia bisa memiliki daya tarik di kancah internasional seperti halnya bahasa Korea atau Mandarin?

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda