Masna Dewi. | Abednego Stefanus

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Masna Dewi (43) mengetahui dirinya menderita kanker serviks sekitar setahun lalu. Terhitung sejak bulan April sampai sekarang, Masna sudah menjadi bagian dari penghuni Rumah Singgah Pasien (RSP) YBM PLN-IZI Lampung.
Masna sendiri adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak. Ia juga harus terpaksa meninggalkan anak-anaknya yang berada jauh di Lampung Barat demi menyembuhkan penyakit yang dideritanya.
Ia juga ditemani suaminya di RSP ini. Kepada wartalampung.id hari ini, ia mengatakan awalnya ia tidak mengalami rasa sakit sedikit pun sebelum dirinya divonis kanker serviks.
Setelah enam bulan mengalami keputihan yang berlebihan, ia mengalami pendarahan. Saat itulah, dia memeriksakan diri ke dokter.
“Saya memeriksakan diri ke rumah sakit umum di Liwa, Lampung Barat,” ucapnya kepada wartalampung di RSP, Senin, 8/7/2024.
Di usia 43 tahun, Masna kaget saat mendengar diagnosis penyakit oleh dokter.
Pengobatan pun dijalaninya sejak ia dirujuk ke beberapa rumah sakit dan dirawat sementara di RSP ini.
Senin pekan lalu, ia kembali menjalani kemoterapi. Masna mesti kembali ke rumah sakit untuk kontrol setiap Jumat.
Ia pun harus menerima transfusi darah sebelum kemoterapi karena hemoglobinnya di bawah 10.
Masna mengalami efek setelah menjalani kemoterapi, seperti tidak nafsu makan dan mual. Rasa lelah terus dirasakannya, tetapi ia semangat untuk sembuh.
Masna mengatakan, dirinya berusaha tidak stres untuk menjaga imunitasnya terus baik. Imunitas tersebut menjadi penting karena dapat menghancurkan sel kanker yang beredar di tubuhnya.
Bahkan, Masna tidak ada pantangan apa pun untuk asupan makanannya. Dia terus membuat dirinya merasa lebih baik untuk melupakan sakit yang dialaminya.
Tak hanya itu, dirinya terus bersyukur dengan apa yang dia terima saat ini. Bahkan, dengan hadirnya Rumah Sanggah Pasien ini, ia menjadi paham bahwa bukan hanya dia saja yang sedang berjuang melawan penyakit.
“Saya menyerahkan semuanya kepada Allah swt. Setiap kali bangun, saya bersyukur karena masih ada mukjizat dan keluarga yang ada di rumah. Anak-anak dan suami selalu mendoakan,” tutupnya. [Abednego Stefanus/Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL]

Tinggalkan Komentar Anda