Indi bersama siswa. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Guru itu tugasnya mengajar, mendidik, memberikan pembelajaran kepada siswa. Tidak hanya aspek akademik, tapi juga membentuk akhlak mulia.
Namun, bagaimana jadinya jika murid salah fokus (salfok) atau gagal fokus (galfok) gara-gara punya guru berparas cantik, trendi, berbusana dengan keren, model juga, dan penari andal?
Itu yang terjadi dengan Windi Wulan Dari atau biasa disapa Indi. Indi memang guru. Ia lulusan IAIN Metro dan sedang menunggu wisuda saja.
Karena berlatar belakang guru, sejak kuliah ia sudah praktik lapangan sejak mahasiswa.
Lantaran punya basis kuat di tari dan menjadi model, sah-sah saja jika muridnya malah membahas seputar pageant, busana, dan model dengan guru yang cantik itu. Aih, aih…
Indi sekarang sedang mengajar di SDIT Cinta Ilahi, Gunungsugih, Lampung Tengah. Domisilinya pun di ibu kota Kabupaten Lampung Tengah itu.
Indi kebanyakan ambil pekerjaan di bidang pageant pada akhir pekan. Ia kebetulan mengajar kelas II dan bisa pulang jika mata pelajaran sudah usai diajarkan.
Meski model, Indi tetap berdandan tipis-tipis kala mengajar. Ia menjaga muruah guru supaya tetap berkharisma di depan siswanya.
“Kalau makeup ke sekolah sih aku enggak menor. Kalaupun makeup ya untuk keperluan model atau muse saja,” kata dia kepada wartalampung.id belum lama ini.
Indi sekadar mengatur alis dan mengulas tipis bibirnya dengan lipstik. Syukurnya, respons para guru di tempatnya juga baik.
“Mereka respek karena tahu aku juga sering jadi model,” katanya.
Bagaimana dengan reaksi anak-anak?
Indi bilang, sering celetuk yang lucu. Banyak di antara mereka bilang ia model yang cantik. Bahkan, sering menyarankan ia untuk mengenakan busana tertentu.
“Ibu model ya? Wah guru kita model lo. Ibu cantik lo. Ibu bagus loh pake baju ini. Ibu cantik lo makeup ini. Ya begitu deh hehehe. Lebih ke speechless sih mereka kalau lihat postingan aku tentang model.”
Indi mengaku ia aktif di pageant dan menjadi model busana itu sejak 2020. Usai lulus SMA, ia lanjut kuliah S1 di IAIN Metro Lampung.
Sambil kuliah, Indi mencoba menjadi model makeup (muse) dan awalnya tanpa bayaran. Dari situ ia berpikir untuk terjun di dunia model. Akhirnya ia mencoba menekuni sampai sekarang.
Kata Indi, awal 2023 itu ada tawaran untuk mengenakan baju rancangan desainer Kota Metro di acara Say Wa Way 2023. Kebetulan ia berkesempatan untuk memakai baju rancangan siswi dari SMK 3 Metro.
Akhirnya di situ ia mengenal banyak desainer Kota Metro dan banyak pengalaman yang ia dapat. Usai itu, Indi banyak mengikuti ajang model busana di Kota Metro.
Dimulai dari pemilihan Muli-Mekhanai dan tahun ini ia mengikuti audisi model Say Wa Way 3 (Asa).
“Alhamdulillah aku terpilih menjadi salah satu model yang memakai rancangan desainer Kota Metro di acara tersebut. Untuk basic catwalk dll itu aku otodidak. Karena sebagai muse/model itu pasti harus belajar tentang modeling,” kata dia.
Indi memang tertarik dengan modeling karena ia adalah hobi yang awalnya coba-coba tapi akhirnya kecanduan.
Indi mengaku, untuk pageant, ia belum begitu banyak mengikuti kontes. Ia saat ini banyak mencoba audisi model saja. Ia ingin ke depan fokus ke pageant dan ikut muli-mekhanai.
Indi juga belajar otodidak untuk bergaya di foto, catwalk, merias diri, dan lainnya.
“Otodidak, belajar sendiri, dan terbiasa melihat model-model lainnya,” kata pemilik akun Instagram @windiiwd_ ini.
Sebagai muse, Indi mesti siap memakai rancangan desainer siapa pun. Termasuk model busananya yang seperti apa, entah nyaman atau tidak, sudah jadi konsekuensi.

“Misalnya memakai pakaian, aksesori, sepatu dan produk fashion lain. Semua harus siap dan bisa membawakan dengan baik agar tidak mengecewakan desainer dan penonton. Jadi model busana harus bisa mengatasi situasi dan kondisi.”
Indi juga mesti bisa duduk berjam-jam kala bekerja. Ia mengatasi kebosanan dengan sesekali mengajak ngobrol makeup artist (MUA)-nya.
“Apalagi kalau first time ketemu sama MUA baru, pastinya banyak obrolan,” ujarnya.
Indi berusaha menjadi muse yang baik. Ia menuruti apa kata MUA. Musababnya, yang paham posisi dan look makeup adalah MUA.
Sebagai model, ia berusaha menikmati saja. Selesai dari makeup, waktunya model yang beraksi.
Dari mulai konten, gaya foto, dan buat video yang bagus.
“Kami saling melengkapi dan menghargai. Yang pasti portofolio itu penting untuk posting dan repost di media sosial. Model dan MUA mempromosikan hasil makeup agar dilihat dan dikenal banyak orang,” kata gadis cantik kelahiran Karanganyar Agung, 29 Mei 2002, ini.
Indi juga mahir menari. Ia mengaku tidak pernah ikut sanggar khusus. Semua ia lakukan sendiri atau otodidak.
Ia mengaku sering melihat di YouTube. Sejak SMA ia sudah mulai menarik jika ada perhelatan digelar.
“Waktu SMA aku ikut banyak organisasi, tapi tari enggak aku geluti, hanya suka,” ujarnya.
Meski demikian, lewat tari inilah Indi mendapat pengalaman berharga. Sewaktu kuliah dan mengikuti kuliah kerja lapangan akulturasi budaya, ia menarikan tari bedana di Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta.
“Aku senang banget bisa mengenalkan budaya Lampung sampai ke Yogyakarta. Ini salah satu pengalaman yang luar biasa karena dipercaya sebagai penari dari IAIN Metro,” kata dia.
Pesan Indi, jadi perempuan masa sekarang mesti multitalenta. Sukses selalu, Bu Guru Indi. []

Tinggalkan Komentar Anda