Setia Rini. | Dokumentasi Pribadi

Oleh Setia Rini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung)
Siapa yang setuju dengan realita bahwa anak-anak muda saat ini terhipnotis dengan berbagai hal berbau Korea? Ini fakta yang tidak bisa dipungkiri terjadi saat ini.
Begitu marak, di mana pun dan dengan latar belakang apa pun. Bahkan berbondong-bondong, anak-anak muda menghadiri konser K-Pop di Jakarta meskipun harus merogoh kocek yang tidak sedikit.
Apakah mereka semua menguasai bahasa Korea? Tentu tidak. Apakah mereka semua adalah anak-anak muda yang sedang mempelajari bahasa Korea? Tidak juga.
Tetapi betapa ajaibnya, pesona Korea yang berhasil mengambil simpati netizen di Indonesia. Dan sebenarnya, faktanya bukan hanya anak-anak muda yang jatuh cinta dan tergila-gila akan serba-serbi Korea, melainkan juga berbagai kalangan usia, termasuk ibu-ibu.
Satu hal luar biasa yang bisa dicontoh dari Korea adalah ekspansi budaya mereka yang sangat massif, bahkan di Indonesia. Tren K-Pop, drama Korea, makanan-makanan khas Korea, sampai make up ala Korea.
Anak-anak muda di Indonesia pasti sangat paham apa pun terkait dengan Korea. Jika Anda bertanya drama Korea apa yang saat ini sedang hits, pasti mereka tahu.
Makanan Korea apa yang viral, artis siapa yang sedang ramai diperbincangkan, lagu dan dance apa yang banyak di-play di mana-mana, mereka semua tahu jawabannya.
Hebatnya, anak-anak muda itu bukanlah muda mudi yang sedang belajar bahasa Korea, justru malah bahasa asing lain yang mereka pelajari. Bahkan banyak juga yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan bidang bahasa, mahasiswa sains, mahasiswa keguruan, mahasiswa teknik, hukum, ekonomi, dan lainnya.
Fenomena demam Korea ini terjadi di mana-mana. Luar biasa, hebat, takjub, dan patut dicontoh, menurut saya sebagai dosen bahasa asing, Prancis.
Rasanya saya ikut greget, suatu hari akan ada banyak orang, banyak anak muda yang demam bahasa Prancis. Masalahnya, mahasiswa-mahasiswa jurusan Prancis juga ternyata lebih paham dan lebih tahu Korea daripada Prancis.
Ketika di kelas saya bertanya, “Film Prancis apa yang sudah pernah kalian tonton? Judulnya apa?” Nyaris satu kelas akan menggelengkan kepala.
Kalaupun ada yang menjawab, lagi-lagi judul film Prancis yang pernah ditonton tidak jauh-jauh dari “Ratatouille” dan “le fabuleux destin d’Amélie Poulain”.
Padahal di Youtube mereka bisa menemukan banyak sekali film Prancis, juga di Netflix. Nyatanya mereka lebih tahu judul-judul drama Korea dari A-Z.
Hal ini pun sama, ketika saya tanya “Lagu bahasa Prancis apa yang paling kalian suka?” Nyaris juga 100% isi kelas menjawab, tidak ada yang disukai madame.
Bisa dibayangkan bagaimana wajah saya dengan jawaban-jawaban ini? Tetapi tanpa ditanya judul lagu atau dance Korea apa yang kalian suka, wallpaper dan nada dering ponsel mereka sudah cukup menjawab.
Miris bukan? Mahasiswa bahasa Prancis khatamnya malah Korea.
Di tengah gempuran budaya Korea yang semakin massif di semua bidang dan penjuru, bahasa-bahasa asing di Indonesia harus mampu bersaing, termasuk bahasa Prancis.
Budaya Korea memang jauh lebih mudah masuk dan diterima di Indonesia, karena bagaimana pun Korea adalah sama-sama negara timur, berbudaya timur. Sedangkan Prancis adalah bagian dari negara barat yang tentu saja budayanya juga budaya barat.
Tidak mungkin budaya-budaya barat tersebut akan bisa diterima oleh orang-orang Indonesia yang sangat menjunjung tinggi budaya timur, nilai-nilai agama dan tata karma, juga nilai-nilai tradisional. Sangat dilema tentu saja bagi para pengajar bahasa Prancis khususnya.
Bagaimana menyebarkan bahasa Prancis agar diminati publik terutama anak-anak muda saat ini? Sebenarnya ada banyak cara menyenangkan dan menarik lo untuk mengajarkan bahasa Prancis.
Tentu saja tanpa memaksakan budaya barat tersebut untuk bisa diterima anak-anak muda di Indonesia yang sejak kecil dididik dengan budaya timur. Saya pribadi pun sebagai dosen bahasa Prancis tidak akan pernah mengajarkan budaya-budaya Prancis yang tidak semestinya kepada mahasiswa-mahasiswa saya.
Bagi saya, budaya itu layaknya seperti agama, yang sudah menjadi prinsip hidup dan tidak bisa dianggap remeh. “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku,” (QS Al Kafirun ayat 6).
Budaya kita adalah budaya timur, budaya yang beragama, budaya yang memegang teguh nilai-nilai agama.
Meskipun demikian, bukan berarti budaya Prancis sepenuhnya tidak bisa ditiru atau diapresiasi. Prancis masih memiliki banyak budaya-budaya lain yang juga tidak kalah menarik untuk dieksplorasi dan dipelajari.
Salah satunya budaya kuliner. Pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya pernah menjelaskan betapa viralnya konten-konten terkait makanan-makanan khas Prancis yang khas sekali dengan cara pengucapannya yang unik.
Baca Juga: Belajar Bahasa Prancis Wajib ke Prancis
Lalu semakin banyak bermunculan konten-konten berisi makanan-makanan khas Indonesia yang diucapkan dengan gaya pengucapan Prancis. Dan melalui konten-konten tersebut, publik mulai tertarik dengan bahasa Prancis yang begitu khas pengucapannya.
Bahkan banyak kolega-kolega di kampus dari bidang ilmu yang berbeda, langsung mengontak atau mengirimkan link IG atau Tiktok yang berisi konten makanan khas dengan pengucapan bahasa Prancis tersebut. Lalu mereka berucap “Bahasa Prancis keren ya… Bahasa Prancis unik ya…”
Selain itu, budaya fashion juga brand-brand ternama dunia yang pasti tidak lepas dari negara Prancis, bisa menjadi alternatif untuk memperkenalkan bahasa Prancis.
Baca Juga: Opini: Belajar Bahasa Prancis, Membiasakan Televisiong-Demongstrasiong-Kroasong
Louis Vuitton, misalnya, pasti semua orang tahu merek itu berasal dari Prancis. Lalu ajak mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar bahasa Prancis untuk menemukan lebih banyak lagi merek-merek Prancis yang bisa ditemukan di Indonesia dan bagaimana cara pengucapannya.
Seru sekali bukan? Atau, dengan pendekatan tokoh-tokoh terkenal yang ada di Indonesia maupun di Prancis yang berkaitan erat dengan negara heksagon ini. Misalnya juri Masterchef Renatta, penulis buku terkenal Laskar Pelangi Andrea Hirata, presenter terkenal Ajeng Kamaratih, dan lainnya.
Ajak mahasiswa berdiskusi di kelas dengan menggunakan bahasa Prancis terkait tokoh-tokoh hebat di Indonesia yang ternyata pernah melanjutkan studi di Prancis.
Bahasa Prancis memang tidak memiliki K-Pop, drama romantis, kimci, topokki, dan kimbab. Tetapi Prancis punya baguette, tarte aux pommes, crêpe, ratatouille, dan escargot. []

Tinggalkan Komentar Anda