Ilustrasi. | Reuters/Republika.co.id

Oleh Noverlina Putri Permatasari, ASN BPS Kota Metro
Sabtu adalah hari yang paling dinantikan oleh para pekerja. Sabtu pagi biasanya kuisi dengan kegiatan bersepeda sambil menikmati udara pagi di area persawahan.
Namun, Sabtu ini berbeda dari biasanya. Pagi-pagi aku sudah berada di kerumunan ibu-ibu yang sibuk memasak dalam kepulan asap.
Aku memilih untuk membantu pekerjaan yang ringan seperti membungkus kue untuk tamu undangan.
“Lo, kok, enggak kerja?” tanya seorang wanita berumur sekitar 30 tahun menyapaku.
“Iya, libur hari Sabtu-Minggu,” jawabku.
“Enak ya Sabtu juga libur. Enggak kayak aku enggak ada liburnya,” jawabnya.
“Mbak memang kerja di mana sekarang?” tanyaku.
“Kerja mengurus anak di rumah, Mbak. Ya gimana, mau ngelamar kerja tapi anak-anak enggak ada yang momong. Padahal sebenarnya pengen kerja buat tambah-tambah beli bumbu,” curhat mbak itu kepadaku.
Dia merupakan salah satu tetangga yang kukenal cukup ramah. Umurnya tidak terpaut jauh dari umurku.
Sebelum menikah, dia merupakan akuntan dari sebuah pabrik yang sudah memiliki gaji di atas UMR. Namun, usai saat menikah dan memiliki anak, dia memutuskan berhenti bekerja dan fokus untuk mengurus keluarga.
Dari percakapan yang kami lakukan, sepertinya saat ini dia mulai bimbang. Tebersit keinginan untuk kembali bekerja.
Apalagi dengan kemampuan yang dimilikinya sebagai lulusan terbaik akutansi pada salah satu universitas di Lampung. Namun, ada tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga yang juga harus dia pertimbangkan.
Dilema tersebut tidak hanya dirasakan olehnya. Bagi beberapa perempuan, memilih peran antara berkarier dan ibu rRumah tangga bukan merupakan pilihan yang mudah.
Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan pada tahun 2022 berada jauh di bawah laki-laki.
TPAK laki-laki pada tahun 2022 adalah sebesar 85,84 persen. Sementara itu, TPAK perempuan jauh lebih rendah yaitu 53,54 persen.
Kondisi ini menunjukkan, sekitar 85 persen penduduk laki-laki di Provinsi Lampung yang berumur 15 tahun ke atas siap untuk bekerja. Sementara itu, pada penduduk perempuan hanya sekitar 53 persen yang siap untuk masuk ke dunia kerja.
Hampir separuh dari penduduk perempuan di Provinsi Lampung yang berumur 15 tahun ke atas memilih untuk menjadi ibu rumah tangga atau melakukan kegiatan lain yang tidak terkait dengan pekerjaan.
Menilik dari sisi kualitas, para perempuan memiliki modal yang tidak kalah baik dari laki-laki untuk masuk ke dunia kerja.
Menurut data pendidikan yang dirilis oleh BPS pada 2022, angka partisipasi sekolah (APS) perempuan lebih tinggi daripada laki-laki pada jenjang 16-18 tahun.
APS perempuan pada jenjang 16-18 tahun adalah sebesar 72,75. Sementara APS laki-laki lebih rendah sebesar 69,43.
Angka tersebut menunjukkan, sekitar 72 persen penduduk perempuan di Provinsi Lampung yang berumur 16-18 tahun masih melanjutkan sekolah baik pada jenjang SMA atau perguruan tinggi.
Sementara pada penduduk laki-laki persentase penduduk 16-18 tahun yang masih melanjutkan sekolah lebih rendah yaitu sekitar 69 persen.
Kualitas pendidikan perempuan yang tidak kalah baik dari laki-laki menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki kemampuan dan keahlian. Keahlian dan kemampuan yang dimiliki perempuan sungguh sangat disayangkan bila tidak terserap dalam dunia kerja.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung perempuan yang bekerja adalah dengan menciptakan lingkungan yang nyaman pada tempat kerja. Perusahaan atau pemberi kerja seharusnya menyediakan tempat kerja yang ramah anak.
Tempat kerja yang ramah anak merupakan fasilitas bagi perempuan yang membawa anaknya ke tempat kerja. Dengan begitu, perempuan yang bekerja sekaligus dapat menjalankan peran Ibu dengan mengawasi anaknya.
Ketersediaan ruang laktasi juga diperlukan pada tempat kerja. Hal ini berguna untuk mendukung para perempuan mengasihi buah hatinya.
Para pemberi kerja juga perlu memberikan cuti kepada perempuan yang melahirkan sampai dengan pulih kondisi kesehatannya.
Kebijakan tersebut diperlukan untuk mendukung para perempuan yang bekerja agar tetap dapat menjalankan perannya dalam keluarga. Namun, dalam hidup selalu ada pilihan.
Menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga adalah pilihan bagi kaum perempuan dengan segala konsekuensinya. []

Tinggalkan Komentar Anda