Berita Foto Opini

Opini: Bahasa Prancis dan Kesiapan Masyarakat Menerima Perubahan

Opini: Bahasa Prancis dan Kesiapan Masyarakat Menerima Perubahan

Zahara Nurfaizah. | Dokumentasi Pribadi

Zahara Nurfaizah. | Dokumentasi Pribadi

Oleh Zahara Nurfaizah, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung

PRANCIS, negara yang dikenal dengan Eiffel Tower (la tour Eiffel dalam bahasa Prancis), romantisme, atau brand-brand fashion dunia seperti Channel dan Louis Vuitton. Populernya brand-brand fashion ini membuat Prancis disebut sebagai kiblat mode dunia.

Namun jauh sebelum monsieur Louis Vuitton menggegerkan dunia dengan dengan koper bermerek Louis Vuitton (LV)  pada tahun 1854, Prancis sudah lebih dulu eksis di dunia global dengan bahasanya yang seksi. Tepatnya pada abad ke-17 sampai abad ke-19, bahasa Prancis telah digunakan di kerajaan Uni Eropa hingga akhirnya disahkan menjadi bahasa internasional pertama di dunia. 

Pemilihan bahasa Prancis sebagai bahasa diplomasi saat itu didasari oleh pengaruh budayanya, banyaknya penulis yang menghasilkan karya sastra, juga karena bahasa Prancis logis dan bisa menggambarkan gagasan, maksud, dan pemikiran manusia secara detail dan tepat.

Hal ini didukung oleh adanya Perjanjian Rastatt yang berisi tentang perjanjian perdamaian dari perang suksesi (perang pewaris Spanyol) yang disahkan pada 7 Maret 1714. Perjanjian ini adalah dokumen internasional pertama yang disusun hanya dengan bahasa Prancis.

Hingga akhirnya pada konferensi di Paris tahun 1919, bahasa Inggris diadopsi menjadi bahasa diplomasi selain bahasa Prancis. Alasannya, konferensi tersebut tidak hanya dihadiri bangsa Eropa. Dan karena banyaknya kesalahpahaman yang terjadi lantaran terdapat kata dalam bahasa Prancis yang ambigu, bahkan mirip cara pengucapan antara satu kata dan lainnya.

Seiring dengan munculnya Amerika Serikat sebagai negara adidaya, bahasa Prancis pun tidak lagi digunakan sebagai bahasa internasional digantikan oleh bahasa Inggris.

Sampai saat saya menulis opini ini, tepatnya tahun 2023, bahasa Inggris masih tetap menjadi bahasa diplomasi pertama di dunia. Meski demikian, eksistensi bahasa Prancis masih mendominasi dengan menjadi bahasa ke-8 di dunia, menjadi bahasa resmi di 36 negara.

Tidak ketinggalan Francophone yang terdiri dari 88 negara anggota dan pemerintah, serta masyarakat atau pelajar di luar Francophone yang tertarik dengan bahasa dari negara romantis ini.

Pada tahun 2020, tepatnya tanggal 31 Januari. Britania Raya resmi menarik diri dari Uni Eropa. Hal ini tentunya berdampak pada penggunaan bahasa Inggris di Uni Eropa.

Meski merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di Eropa, penggunaan bahasa Inggris perlahan dikurangi. Bahkan ada opini yang menyebutkan bahwa bahasa Inggris memiliki potensi untuk diblok dari Uni Eropa.

Bahasa Prancis digunakan sebagai bahasa pengganti setelah Inggris mengundurkan diri dengan alasan bahasa Prancis merupakan bahasa yang dominan digunakan di Eropa sebelum masuknya negara non-Eropa. Meski belum disahkan, dampak dari kejadian ini sudah mulai dirasakan.

Seiring dengan berjalannya waktu, besar kemungkinan bahasa Prancis akan diadopsi menjadi bahasa diplomasi internasional menggantikan bahasa Inggris. Selain memiliki banyak negara anggota Francophone, memiliki penutur di luar negara bagian, dan menjadi bahasa resmi Palang Merah Internasional, hal ini juga didasari oleh fakta Prancis merupakan salah satu negara imperialisme.

Imperialisme sendiri memiliki arti memerintah, dengan definisi sistem politik untuk menguasai dunia bagi kepentingan negara penakluk dengan melakukan penjajahan sekaligus menanamkan pengaruh dalam segala aspek kehidupan di wilayah jajahan.

Sayangnya, dengan lebih dari 200 juta penutur, bahasa Prancis belum bisa mendapatkan tempat yang spesial terutama di negara-negara Asia Selatan termasuk Indonesia.

Sebenarnya, pemerintah sudah melakukan upaya dengan memasukkan bahasa Prancis sebagai mata pelajaran peminatan untuk pelajar SMA, menjamurnya tempat les bahasa Prancis, hadirnya IFI (Institut Francais Indonesia), dan banyak universitas yang membuka program studi pendidikan bahasa maupun sastra Prancis.

Namun, masyarakat masih sangat sulit menerimanya, imbas dari perbedaan ideologi dan budaya yang sangat nyata.

Padahal masyarakat tidak bisa terus-menerus menutup mata akan fakta bahwa bahasa Prancis memiliki kemungkinan besar menjadi bahasa diplomasi serta merupakan bahasa utama dalam dunia bisnis.

Mengapa harus pergaulan bebas yang disorot oleh masyarakat kita? Padahal banyak sekali keunggulan yang dapat dijadikan acuan.

Misalnya dalam bidang pendidikan, Prancis menjadi negara maju karena pendidikannya yang cukup bagus . Dalam bidang teknologi, misalnya, gelang pintar yang diciptakan di Prancis menjadi salah satu inovasi terepik di era ini.

Menurut pendapat saya, mempelajari bahasa serta kebudayaan Prancis merupakan salah satu hal yang perlu dilaksanakan untuk memiliki pandangan atau pengetahuan yang lebih luas. Walaupun belum pasti akan menjadi bahasa diplomasi internasional.

Alasan bahwa bahasa Prancis merupakan bahasa utama dalam pasar kerja, teknologi, dan dalam pertemuan-pertemuan besar dunia seperti PBB, serta Prancis yang dinobatkan menjadi pusat atau kiblat fashion dunia, seharusnya cukup membuat kita tergerak mempelajarinya. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda