Abdul Hakim. | Adian Saputra

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Menyambut satu abad NU pada 7 Februari mendatang, Wakil Ketua Komite IV DPD RI asal daerah pemilihan Lampung Abdul Hakim mendorong pondok pesantren mandiri dalam ekonomi.
Hakim menilai, sekarang banyak pondok pesantren yang mencoba serius menggarap usaha ekonomi di pondok pesantren. Hakim mengatakan, potensi ekonomi pondok pesantren sangat besar.
Pondok pesantren, ujarnya, bisa menjadi entitas yang menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Dengan demikian, santri bisa mendapatkan banyak keuntungan saat mondok.
Tidak hanya ilmu agama, tapi juga bisa menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat sekitar. Ini juga bisa menjadi sumber pemasukan ekonomi pondok pesantren sehingga bisa mandiri dalam finansialnya.
Hakim mengatakan, peran serta NU selama ini sangat besar, termasuk dalam pendirian bangsa Indonesia. Hakim mengatakan, pendiri bangsa disokong penuh oleh ulama-ulama NU masa itu.
Sebab itulah Hakim menilai, NU menjadi garga terdepan dalam menjaga NKRI. Pondok pesantren, ujar Hakim, juga menjadi pusat perlawanan terhadap kolonialisme. Itulah yang kemudian melatarbelakangi banyaknya usaha kemerdekaan Indonesia yang dipimpin para ulama.
Hakim mengatakan, potensi NU ke depan mesti digerakkan untuk mengakselerasi kemajuan Indonesia. Termasuk dalam bidang ekonomi pondok pesantren.
Hakim menilai, satu abad adalah usia yang mapan untuk terus menjadi suri teladan bagi bangsa. Hakim berharap NU mampu menjadi lokomotif perubahan ke arah yang lebih baik.
Hakim sendiri lekat dengan NU dan pondok pesantren sampai sekarang. Pria kelahiran Pandeglang ini sejak belia memang sudah nyantri di beberapa pondok pesantren di Pandeglang, antara lain di Ponpes Nihayatul Falah.
Hakim juga banyak mengkaji kitab kuning dan saat Ramadan mengikuti pengajian khusus di Ponpes Riyadhul Alfiyah di Kadukaweng, Pandeglang.
Ia juga sempat mondok di Ponpes Ulul Albab kompleks Universitas Islam Ibnu Khaldun, Bogor.
Hakim juga sempat mengikuti pendidikan kader ulama MUI tahun 1997 dan menjadi peserta terbaik. Ia juga setahun mendalami bahasa Arab di Mesir. Hakim kini sedang menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Islam An Nur, Jatiagung, Lampung Selatan. []
