Gino Vanollie. | DOkumentasi

Oleh Gino Vanollie, Alumnus Unila
Rektor Unila terpilih Prof. Lusmeilia Afriani punya kesempatan untuk menyusun kabinet terbaik (the dream team). Sebab, sebagai underdog alias calon yang tidak diunggulkan, tentu tidak punya banyak beban “balas budi”. Ia dipercaya bisa lebih bebas dah independen dalam menentukan siapa yang akan diangkat untuk membantunya bekerja.
Unila yang memiliki 100 lebih guru besar, lebih banyak lagi doktor, jelas tidak kekurangan SDM terbaik, yang mampu membawa Unila bergerak maju secara lebih cepat.
Sebagai underdog, Prof. Lusi bisa lebih bebas memilah dan memilih orang-orang yang memiliki rekam jejak mumpuni, kepakarannya diakui, memiliki integritas moral dan keteguhan mental terbaik.
Model pemilihan pejabat utama baik di jajaran pembantu rektor, dekan dan lain-lain yang lebih didasarkan atas pertimbangan politis, balas budi, dan karena unsur KKN, sudah semestinya ditinggalkan jauh jauh.
Unila sebagai entitas perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Lampung, harus menjadi contoh yang baik, menularkan praktek praktek baru yang baik, dan dijauhkan dari praktek praktek buruk, praktek yang tidak objektif, tidak akuntabel. Apalagi politisasi kampus, harus bisa diminimalisasi, bahkan jika mungkin dihilangkan sama sekali.
Dengan mengedepankan integritas moral dan keteguhan mental, kualitas kepakaran dan kemampuan manajerial, yang didukung soliditas dan kerja sama oleh seluruh pemangku kepentingan, kita optimis Unila bisa segera pulih, bahkan mampu membuat lompatan kemajuan yang berarti.
Melihat rekam jejak rektor terpilih, dengan kematangan, jejak kepemimpinan dan pengalaman beliau, yang membangun karier dari posisi terbawah, kita optimistis wanita pertama yang terpilih sebagai rektor Unila ini mampu mengorkestrasi potensi yang ada menjadi kekuatan dashyat untuk membawa Unila menjadi kampus terbaik.
Memang, menggawangi Unila yang memiliki lebih dari 100 guru besar di antara lebih dari 1.200-an dosen, lebih dari 35 ribu mahasiswa di 9 fakultas, 100-an lebih jurusan, bukan persoalan mudah, jelas pekerjaan yang sangat berat.
Apalagi ditambah beban peristiwa kelam yang belum juga berlalu, OTT KPK terhadap para petinggi Unila, dan persoalan persolan klasik yang selama ini juga belum bisa diatasi, tentu akan semakin membuat berat langkah dalam membangun Unila.
Untuk itu, Prof. Lusi harus berani bersikap tegas tapi luwes, mengatasi semua upaya intervensi dari pihak manapun, yang berpotensi menghambat langkah langkah dalam membangun Unila ke depan.
Sepanjang langkah yang dilakukan akuntabel, didasarkan atas perencanaan dan strategi yang kuat dan mantap, kita yakin seluruh pihak akan memberikan dukungan yang maksimal.
Kita menyadari bahwa persaingan hari ini dan ke depan tidak akan mudah. Di tingkat lokal saja, Unila sudah memiliki pesaing pesaing yang sangat keras baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. UIN Raden Intan Lampung telah melompat jauh, Itera juga tidak mau ketinggalan.
Beberapa yang swasta juga sangat progresif. Apalagi di tingkat nasional dan internasional, tentu lebih kompetitif lagi.
Oleh karenanya, membangun Unila ke depan tidak bisa lagi dengan cara cara normatif, biasa biasa saja. Unila membutuhkan lompatan, percepatan. Dengan demikian, membangun Unila harus dengan cara yang lebih progresif, inovatif dan juga kolaboratif. Tidak lagi evolutif tapi mesti revolusioner, cepat dan smart. Semoga. []
