Pesawat Remote Control Jumbo. | Dok

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Pesawat remote control merupakan pesawat yang memiliki skala 1:100 daripada pesawat aslinya. Pesawat model ini sering juga disebut dengan istilah aeromodeling.
Aeromodeling sendiri aadalah pesawat yang umumya dikendalikan dengan remote control gelombang radio oleh pilot darat. Pesawat jenis ini sering dimanfaatkan oleh pelajar maupun perusahaan untuk tujuan tertentu.
Pesawat RC juga banyak dimanfaatkan karena biaya pembuatannya yang relatif rendah serta tidak memberikan risiko kepada pilot ketika terjadi kesalahan desain atau pengembangan.
Pesawat aeromodelling ini secara umum dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu glider, park flyer, trainner, aerobatik serta jet. Setiap kategori memiliki karakteristik terbang yang berbeda-beda.
Misalnya, glider didesain untuk terbang stabil, serta mampu gliding (meluncur) ketika mesin dimatikan, namun relatif lambat. Sedangkan aerobatik dapat bermanuver dengan sangat lincah serta kecepatan tinggi namun tidak stabil dan tidak dapat gliding ketika mesin dimatikan.
Firman Fahrudin, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Teknokrat Indonesia angkatan 2020, asal Desa Bandaragung Kecamatan Bandar Sribawono, Lampung Timur, ini telah menciptakan pesawat TRC (remote control) dengan ukuran jumbo: 350 x 300 cm.
Bahan pesawat dibuat dari styrofoam dan tambahan multiplek. Untuk daya suplai elektroniknya menggunakan baterai dengan daya dorong menggunakan motor brushless di kedua sayapnya.
Saat ini, pesawat aeromodelling banyak digunakan untuk pemotretan udara, monitoring pemetaan, bahkan banyak digunakan di bidang militer.
Dengan kemajuan dan perkembangan sistem kendali otomatis pada pesawat, pilot hanya perlu menginput data posisi di mana pesawat harus terbang dan pesawat akan terbang mengikuti jalur tanpa harus dikendalikan secara langsung oleh pilot.
Teknologi ini dikenal sebagai drone (pesawat tanpa awak). Perlu diketahui bahwa drone tidak hanya terbatas pada kendaraan pesawat terbang, misalnya, helikopter, kapal laut, kapal selam, mobil dan lain-lain.
Peminat aeromodelling yang ingin memulai kegiatan ini dapat mengunjungi atau menghubungi asosiasi aeromodelling setempat atau terdekat untuk mendapatkan informasi dan bimbingan teknis.
Selain itu juga dapat diperoleh melalui massa baik cetak maupun elektronik tentang kedirgantaraan pada umumnya dan aeromodelling pada khususnya.
Di Indonesia, memiliki komunitas salah satunya yang bernama Komunitas Aeromodeling Indonesia (KAI) yang memiliki tujuan untuk mewadahi penghobi aeromodeling. Organisasi ini berdiri sejak 2015 .
“Dalam komunitas itu sendiri kami sering berbagi ilmu seputar aeromodeling,” kata dia.
Pesawat aeromodelling sendiri memiliki dua tipe yaitu lane of site (LOST sejauh mata memandang) dan FPV (first-person view).
Untuk jarak penerbangan pesawat aeromodeling tipe lane of site yaitu 500-1000m dan untuk tipe FPV bisa sampai berkilometer meter sesuai yang kita butuhkan dengan tambahan elektronik yang lebih bagus.
Untuk ketinggian sendiri yaitu maksimal 120 m. Untuk harga yang paling umum penghobi aeromodeling Rp2 juta untuk tipe yang standar dengan lebar 100-150 cm. []
