Ilustrasi. | Ahmad Jaelani

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dari pemilihan kepala daerah secara langsung pada 2005, kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Lampung belum pernah ada yang jadi.
Semuanya kalah di kontestasi pilkada. Abdul Hakim nyaris membuka itu pada awal pilkada langsung. Berpasangan dengan Zainal Iskandar pada Pilkada Bandar Lampung 2005, pasangan ini kalah di putaran kedua dari rivalnya, Eddy Sutrisno dan Kherlani.
Dulu, pilkada berlangsung dua putaran. Jika tak ada yang mendapat 50 persen plus 1 pada putaran pertama, dua pasangan tertinggi perolehan suaranya bertarung lagi di leg kedua. Di leg kedua, Abdul Hakim dan Zainal Iskandar kalah.
Peluang menjadikan kader PKS sebagai eksekutif membuncah kala Pilkada Bandar Lampung 2010. Eddy Sutrisno yang petahana digandeng Hantoni Hasan. Sayang, peluang ini pun pupus dengan Herman HN dan Thobroni Harun yang keluar sebagai pemenang.
PKS beberapa kali dapat kans besar untuk menjadikan kadernya sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah.
Ahmad Mufti Salim pada periode keduanya di DPRD Lampung Tengah, punya kans besar di pilkada setempat tahun 2010. Ia digandeng mantan Bupati Lampung Barat Erwin Nizar.
Elektabilitas keduanya lumayan tinggi kala itu. Namun, pasangan ini urung ke gelanggang. Erwin Nizar meninggal kecelakaan dekat Bandara Radin Inten II.
Mufti Salim tetap berangkat ke kontestasi pilkada berpasangan dengan Yurida, istri Erwin Nizar. Pasangan besutan PKS dan Gerindra ini kemudian kalah di pilkada Lampung Tengah.
Baca: PKS Adakan Munas ke-5, Inilah Susunan Lengkap Pengurus DPP PKS 2020-2025
Kans besar juga muncul di Lampung Timur. Kader senior PKS Prio Budi Utomo digandeng petahana Erwin Arifin. Jelang pilkada 2015, Prio Budi Utomo meninggal dunia karena sakit diabetes. Pasangan ini kemudian batal maju.
Di daerah lain, beberapa kader partai Islam ini sukses di gelanggang pilkada. Pada pilkada langsung pertama kali tahun 2005, Syamlan, Lc sukses menjadi wakil gubernur Bengkulu. Syamlan kader tulen PKS yang juga akrab dengan kader di Lampung.
Di Depok, mantan Presiden Partai Keadilan (PK) sebagai cikal bakal PKS, sukses dua kali menjadi wali kota Depok. Begitu pula dengan daerah lain.
Di Sumatera Utara, Gatot Pudjonugroho, sukses menjadi wakil gubernur dan kemudian jadi gubernur. Sayang, Gatot kini menjalani masa hukuman dari KPK.
Di Jawa Barat, Ahmad Heryawan sukses dua kali jadi gubernur. Pada pilkada Jawa Barat 2008, Aher, sapaan akrabnya, berhasil menjadi gubernur berpasangan dengan aktor kenamaan Indonesia Dede Yusuf.
Mereka bahkan menumbangkan nama-nama yang diprediksi sebagai pemenang, termasuk Jenderal Agum Gumelar dan petahana Dani Setiawan.
Di Sumatera Barat, usai ketiga kalinya berlaga, kader PKS Irwan Prayitno akhirnya menduduki kursi gubernur. Dua periode bahkan. Deretan prestasi para kader partai ini tentu melahirkan impian bagi entitas partai di Lampung.
Besok, 9 Desember 2020, hari Rabu, pilkada serentak kembali diselenggarakan. Wabil khusus Lampung, ada delapan daerah yang pilkada: Bandar Lampung, Metro, Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Tengah, Pesawaran, Way Kanan, dan Pesisir Barat.
Ada tiga kader PKS yang ikut serta dan punya kans besar. Ketua Umum DPW PKS Lampung Ahmad Mufti Salim berlaga di Kota Metro. Ia berpasangan dengan eks Wakil Wali Kota Saleh Chandra. Saleh pernah mendampingi Wali Kota Lukman Hakim.
Mufti Salim dua periode di DPRD Lampung Tengah dan dua periode di DPRD Lampung. Namun, karena aturan, ia mesti melepas kursi DPRD Lampung karena mencalonkan diri sebagai kepala daerah.
Ia digantikan Vittorio Dwison, kader PKS lain yang matang dalam hal survei dan poling serta sering menjadi ketua pemenangan pemilu. Ia adalah kedua kali Mufti berlaga di pilkada.
Sebelumnya ia pernah menjajal panggung itu bersama Yurida, istri mendiang Erwin Nizar.
Di Lampung Selatan, Antoni Imam mencoba untuk yang kedua kali pada posisi wakil bupati. Kali ini Antoni Imam berpasangan dengan Ketua Golkar Lampung Selatan yang tujuh kali jadi anggota dewan: Tony Eka Candra.
Tahun 2010, Antoni Imam juga pernah mencoba ikut pilkada berpasangan dengan petahana Wendy Melfa. Sayang, kala itu mereka kalah oleh Rycko Menoza dan Eki Setyanto.
Antoni Imam sama seperti Mufti Salim. Ia dua periode di DPRD Lampung Selatan bahkan pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Lampung Selatan. Mirip seperti Mufti Salim yang juga pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Lampung Tengah.
Antoni Imam juga dua periode di DPRD Lampung. Sama halnya dengan Mufti, Antoni Imam mesti mundur karena mencalonkan diri. Ia digantikan Puji Sartono.
Antoni Imam lumayan dikenal oleh semua lapisan warga Lampung Selatan. Ini adalah basisnya. Khusus lagi Kecamatan Sidomulyo yang boleh dibilang jadi basis utama. Antoni Imam bertempat tinggal di sini dan aktif bersosialisasi, jauh sebelum dicalonkan partai.
Baca: Video Antoni Imam Kampanye di Banjar Agung
Rumah Aspirasinya di Sidomulyo sejak awal pandemi sudah memproduksi nasi cinta yang saban hari dibagikan dengan berkeliling dari desa ke desa.
Nama Antoni disebut beberapa survei, punya peluang kuat untuk menang. Meskipun, lawan yang dihadapi lumayan tangguh, petahana Nanang Ermanto dan Pandu Kesuma.
Nanang sendiri menjadi bupati karena menggantikan adik kandung Ketua MPR Zulkifli Hasan, Zainudin Hasan, yang tersandung kasus korupsi.
Uniknya, saat pilkada Lampung Selatan tahun 2015, Antoni Imam adalah Ketua Tim Pemenangan Zainudin Hasan dan Nanang Ermanto. Bisa dibilang, Antoni Imam tahu betul seluk beluk memenangkan pertarungan di lapangan.
Pilkada Bandar Lampung tahun ini juga diikuti Johan Sulaiman di Bandar Lampung. Lulusan Fakultas Pertanian ini digandeng Rycko Menoza, eks Bupati Lampung Selatan 2010-2015. Keduanya diusung Partai Golkar dan PKS. Johan didapuk sebagai calon wakil wali kota.
Sama dengan Antoni Imam dan Mufti Salim, Johan juga mesti mundur dari anggota DPRD Lampung hasil pemilu 2019. Tempatnya digantikan Ketua DPD PKS Pringsewu Zunianto. Johan memang mewakili daerah pemiliha Metro, Pesawaran, dan Pringsewu.
Pengalaman kontestasi pilkada, Johan juga punya sama seperti Antoni Imam dan Mufti Salim.
Tahun 2010, Johan juga berlaga di pilkada Pesawaran berpasangan dengan kader Gerindra Pattimura. Sayang, keduanya kalah.
Kini, Johan mencoba memenangkan pilkada bersama Rycko Menoza, putra kandung Gubernur Lampung dua periode Komisaris Jenderal Purnawirawan Sjachroedin ZP.
Pecah telur diibaratkan sebagai frasa untuk mereka yang sukses pertama kali, menang pertama kali, atau berhasil setelah berkali-kali gagal.
Ini cukup mewakili keinginan semua kader partai di Lampung. Mereka ingin tahun ini PkS pecah telur.
Ada tiga telur yang sedang dierami untuk ditunggu penetasannya. Ketiganya ya tiga nama yang dibahas di tulisan ringan ini. Ahmad Mufti Salim di Metro, Antoni Imam di Lampung Selatan, dan Johan Sulaiman di Bandar Lampung.
Ketiganya punya banyak kesamaan; sama-sama mantan anggota DPRD Lampung, sama-sama pernah berlaga di pilkada, dan sama-sama pernah menduduki posisi waki ketua DPRD.
Ketiganya juga bisa disebut kader senior PKS.
Mufti Salim yang paling muda. Jebolan Krapyak lalu dapat gelar Lc dari Universitas Imam Madinah dan gelar MA dari Universitas Kebangsaan Malaysia itu bisa dibilang paling moncer kariernya.
Lulus dari Malaysia, ia balik ke Sendang Agung, Lampung Tengah, kampung halamannya. Lalu bergiat di PKS dan jadi anggota dewan setempat dua periode. Kemudian didapuk jadi ketua umum partai berasas Islam ini.
Baca: Ibu-ibu di Metro Heran Calon Wali Kota Mufti Salim Ngecat Asbes Milik Warga
Barangkali, inilah masa terbaik menetaskan telur-telur itu sehingga menjadi pucuk pimpinan eksekutif di daerahnya masing-masing. Kasat mata tanya sana dan sini, ketiganya berpeluang besar. Wabilkhusus Antoni Imam, ia “diuntungkan” karena berlaga di daerah pemilihan sendiri: Lampung Selatan.
Kiprahnya selama ini sudah dirasakan ribuan orang di kabupaten beranda Sumatera itu. Rumah Aspirasinya saban hari ramai orang yang menggunakan untuk pelatihan, pengajian, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Siapa yang akan memecahkan telur perdana bagi PKS pada pilkada tahun ini? Boleh jadi ketiga-tiganya langsung, bisa jadi hanya dua, bisa jadi hanya satu.
Bisa jadi pula urung mentas semua. Besok bisa kita lihat hasilnya dalam hitung cepat versi beberapa lembaga survei atau dari Sirekap KPU yang menjadi “real count” sebelum penghitungan manual yang resmi.
Yang jelas, malam nanti semua kader PKS dan simpatisan serta relawan akan meningkatkan kualitas doa dan ibadah lainnya semisal salat tahajud. Mereka memohon kepada Allah swt agar kader-kader partai ini menang semua. Wallahualam bissawab. [Adian Saputra, Pemimpin Redaksi Wartalampung.id]
