Luvi Ariyani. | Jimmy Picture

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Setiap manusia punya cerita. Bisa yang menyenangkan, bisa pula yang memiriskan. Mungkin bahkan menjadikan diri trauma. Jika sudah demikian, butuh waktu yang relatif lama untuk penyembuhan atau kembali ke kondisi normal.
Cerita manusia selalu menarik untuk diikuti. Tak pandang orang itu dalam relatif kadar biasa saja atau mereka yang tergolong figur publik.
Model Lampung yang diketengahkan kali ini, Luvi Ariyani, punya cerita yang menarik selain keseharian sebagai karyawan di sebuah kantor swasta. Juga di luar hobinya dalam dunia fotografi dalam konteks menjadi model.
Barangkali, apa yang dipaparkan Luvi ini bisa menjadi ibrah bagi semua. Luvi sejujurnya punya modal besar untuk menjadi model yang berkembang. Ia punya paras cantik. Tubuh yang proporsional. Juga ditunjang dengan kecerdasan. Atribut akademiknya pun baik.
Luvi menyandang gelar ahli madya bidang sistem informatika dari sebuah kampus swasta di Bandar Lampung. Ia lulus dari sana tahun 2018 setelah tiga tahun menjalani studi di bidang perhotelan sebuah SMK negeri yang ranahnya demikian.
Luvi bercerita, menjadi model ia pandang sebagai bagian dari caranya mengusir kejenuhan. Anak zaman sekarang bilang healing. Luvi tak punya pretensi apa-apa dalam dunia ini. Ia tak berkehendak menjadi model dengan bayaran besar. Termasuk mau menerima permintaan foto dengan konsep yang vulgar atau superseksi.
Luvi murni mengiyakan ajakan berfoto untuk mengisi waktu liburnya yang hanya akhir pekan dan libur nasional. Selebihnya, ia mengisi hidupnya dengan kehidupan reguler perkantoran dengan segala turbulensinya.
Luvi bercerita, ia mengiyakan ajakan foto karena memang suka. Dari dulu juga demikian. Dengan begitu, nawaitunya menjadi model memang ingin membahagiakan dirinya sendiri. Sejauh itu masih normal-normal saja, ia akan menyetujui sesi foto yang dialamatkan kepadanya.
Luvi juga tipikal gadis yang periang. Ia lebih banyak tertawa dan gembira ketimbang murung. Banyak kawan kantornya yang menilainya demikian. Padahal dengan ritme kantor yang ketat dan tekanan dalam pekerjaan membuat banyak orang kepikiran dengan itu. Beda dengan gadis kelahiran 2 Juli 1998 ini yang berpembawaan periang, senang berjalan atau traveling, dan mengisi waktu dengan hal yang menyenangkan jiwa.,
Tapi tak banyak yang paham Luvi punya kisah mendalam dalam kehidupan. Lebih tepatnya percintaan. Bukan sekadar cinta monyet ukuran anak sekolahan, melainkan percintaan yang kedua pihak sudah berjanji untuk melanjutkan akad di depan pegawai pencatat nikah.
Luvi kepada wartalampung.id bercerita, ia pernah punya pengalaman traumatis ketika menjalin percintaan dengan seseorang. Ia pernah mempunyai seseorang yang ia nilai berarti dalam hidupnya. Cinta tulusnya ia berikan. Bahkan kepada pria yang awalnya tidak percaya diri lantaran menjalin kasih dengan perempuan dengan latar akademik lumayan seperti Luvi.
Luvi berujar, ia pernah mengalami kekerasan fisik dan psikis. Perihal kekerasan fisik berulang kali dialami. Bahkan, gilanya, itu dilakukan di depan calon mertuanya. Ia mengatakan, pengalaman traumatik itu membekas sampai dengan sekarang.
Akumulasi dari itu adalah kala ia yang berada di rumahnya sendiri mengalami kekerasan fisik. Kaki yang diinjak sepatu berpul keras dan tajam, pukulan yang menyebabkan wajahnya lebam, dan sebagainya.
“Aku bahkan pernah lompat dari motor waktu dengan pacar kala itu. Aku nekat lompat saat motor melaju kencang. Aku nekat banget karena aku nilai hanya itu yang bisa menyelaamatkan aku kala itu,” kata anak bungsu dari dua bersaudara itu.
Luvi menyimpan trauma itu sampai dengan sekarang. Kekerasan fisik juga psikis lantaran umpatan kasar dengan diksi penghuni kebun binatang, sudah pernah ia terima dalam kurun yang lama selama menjalin percintaan.
Luvi juga pernah menjalani kisah yang alurnya bak sinetron atau film di layar kaca dan layar lebar: ditinggal menikah.
Luvi menuturkan, hari itu benar-benar yang terburuk dalam hidupnya. Sampai dengan sekarang. Dan ia tak mau pengalaman itu berulang.
“Aku serius sama dia. Kita udah sepakat mau nikah. Suatu pagi, dia telepon. Jam tujuh masih telepon. Semua oke-oke saja. Habis itu teleponnya tidak bisa dikontak. Tahu enggak? Jam sembilan hari itu juga, selisih dua jam dari dia menelopon, ia ijab kabul dengan orang lain.”
Luvi kala itu tidak bisa menangis. Ia bahkan menyembunyikan itu dari orangtuanya berbulan-bulan. Tatkala ibundanya mengetahui itu entah dari siapa, mamanya itu kemudian memeluknya erat. Tak ada kata yang terucap.
Air mata Luvi kala itu tidak keluar. Barangakali sudah membatu. When the tears becomes rock. Tears turn to stone. Tak ada angin, tak ada hujan, gadis manis ini ditinggal kekasih yang menikah dengan orang lain.
Padahal, ujarnya, beberapa benda kesayangannya sedang dipinjam laki-laki itu.
“Kalung aku minta kembalikan yang pernah digadai.”
Luvi mengatakan, ia tipikal orang yang memberikan apa pun kepada pria yang ia sayang. Namun, “sialnya”, ketulusan itu, ia rasakan dimanfaatkan. Terbukti dari dua cerita tadi.
Bahkan, ada pria yang datang dengan kondisi “bukan siapa-siapa” kemudian berubah menjadi “sesuatu” dan akhirnya meninggalkannya.
Dengan pengalaman yang beragam itu, kini Luvi lebih memilih mencintai dirinya sendiri. Ia butuh waktu untuk membuka hati. Ia juga fokus kerja demi kebutuhan keluarga. Meski bungsu, ia punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan ia siap untuk itu. Dan ia juga merasa nyaman dan tak masalah dengan hal yang demikian.
Luvi mengatakan, sejauh ini ia belum lagi dekat dengan siapa-siapa. Meski banyak yang melakukan pendekatan, Luvi memilih tidak.
“Bahkan aku sering bilang, jangan aku deh. Ke yang lain aja. Aku belum siap.”
Namun, Luvi juga memahami suatu waktu ia akan menemukan pasangan terbaik. Ia meyakini itu. Ia hakulyakin Allah swt itu mahabaik. Ia mendapat pengalaman yang demikian, ia rasakan itu sebagai bentuk pembelajaran hidup supaya membuatnya makin matang. Walau begitu, ia sendiri tidak bisa memastikan kapan momentum itu datang. Jika ada yang datang dan siap serta kamu bersedia membuka hati, kamu siap, Vi?
“Ya aku siap. Aku kan perempuan biasa yang memang ingin melanjutkan hidup dengan orang yang aku sayangi.”
Pembaca wartalampung.id ada yang siap?
Kewajiban Luvi juga tak sekadar mengurus kehidupan keluarganya sekarang. Sang ayah yang dalam kondisi sakit membuatnya memiliki tanggung jawab yang makin berlipat. Ia merasa tak banyak gunanya sibuk kerja tapi tak mengurus orangtua dengan baik, khususnya ayah.
Walaupun punya pengalaman traumatik dalam kehidupan di masa lalu, Luvi tak ingin begitu saja tenggelam di lautan ingatan yang memiriskan jiwa. Ia menjalani harinya dengan optimistis. Semua yang dilalui menjadi pelajaran yang mahabaik untuk dirinya. Sukses untuk kamu ya, Luvi. []
