Berita Foto Opini

Opini: Memotret Angka Stunting dan Wasting Lampung

Opini: Memotret Angka Stunting dan Wasting Lampung

ID Arter. | Dokumentasi

ID Arter. | Dokumentasi

ID Arter, ASN Badan Pusat Statistik Kota Metro

Peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada 28 Februari 2022 ditandai oleh kabar yang menggembirakan. Secara nasional angka stunting turun sebesar 3,3 persen. Dari 27,7 persen tahun 2019 menjadi 24,4 persen pada 2021.

Data Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia Tahun 2021 (SSGI) memang menunjukan tren positif. Namun, angka tersebut masih jauh dari yang ditargetkan. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14 persen. Dengan angka stunting di tahun 2021 sebesar 24,4 persen, untuk mencapai target tersebut diperlukan penurunan 2,7 persen setiap tahunnya.

Lalu bagaimana dengan provinsi Lampung? sejalan dengan penurunan angka prevalensi stunting secara nasonal? Angka prevalensi stunting di Lampung pada 2021 berada di angka 18,5 persen. Angka tersebut menurun signifikan dibandingkan 2019 yang berada di angka 26,25 persen dan 2020 sebesar 24,40 persen.

Namun untuk prevalensi wasting, Lampung masuk dalam kategori kronik dengan angka stunting rendah dan wasting tinggi yakni pada angka 7, 2 persen naik 0,4 persen di 2019 sebesar 6,8 persen. Dan lebih tinggi 0,1 persen dari angka nasional 7, 1 persen pada 2021.

Terdapat lima provinsi yang masuk dalam kategori tersebut antara lain Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Yogyakarta. Kemudian kategori akut dengan angka stunting tinggi dan wasting rendah adalah Bengkulu.

Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGI)

Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGI) sendiri merupakan kegiatan yang terintegrasi dengan kegiatan Susenas yang dilaksanakan oleh BPS. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran prevalensi status gizi berdasarkan pengukuran antropometri di tingkat kabupaten/kota.

Ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan pengambilan kebijakan guna percepatan penanggulangan stunting di Indonesia.

Sampel rumah tangga yang digunakan dalam kegiatan ini diperoleh dari sampel Susenas yang diadakan oleh BPS. Data yang terangkum ini dalam Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 ini didapatkan melalui pengumpulan data di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan jumlah blok sensus (BS) sebanyak 14.889 Blok Sensus (BS) dan 153.228 balita.

Dari Data SSGI 2021 tersebut, hanya Bali menjadi satu-satunya provinsi berkategori baik dengan angka stunted rendah (<= 20 persen) yakni 10.9 persen dan wasted rendah (<= 5persen) yakni 3 persen.

Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018).

Sedangkan wasting adalah kondisi pada balita yang ditandai dengan kurangnya berat badan menurut panjang/tinggi badan anak (BB/TB) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

Anak yang mengalami kondisi wasting umumnya memiliki proporsi tubuh yang kurang ideal. Pasalnya, kondisi ini membuat berat badan tidak sepadan (kurus) dengan tinggi badan untuk-anak di usia tertentu. WHO selaku badan kesehatan dunia, menyatakan bahwa wasting adalah salah satu masalah kesehatan utama. Sebab kondisi ini berhubungan langsung dengan angka kejadian suatu penyakit (morbiditas). Itulah mengapa wasting pada anak adalah hal yang tidak boleh disepelekan sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan sesegera mungkin.

Upaya Cegah Wasting

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting dan wasting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan.

Kemudian memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia enam bulan, dan memberikan MPASI yang sehat. Menurut data BPS, persentase bayi usia kurang dari enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurut jenis kelamin tahun 2021, di Provinsi Lampung menunjukan angka yang cukup baik, yakni 74, 93 persen naik dibandikan tahun sebelumnya sebesar 72,36 persen.

Selanjutnya adalah dengan memantau tumbuh kembang balita dengan secara berkala membawa balita ke posyandu maupun klinik khusus anak.

Dengan demikian akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya. Menurut data BPS, persentase anak umur 12-23 bulan yang menerima imunisasi dasar lengkap dengan tingkat kesejahteraan 40% terendah

Tahun 2021 di Lampung menunjukan angka 62,4 persen, turun 5 persen ditahun 2019 sebesar 67,4 persen.

Terakhir adalah selalu menjaga kebersihan lingkungan. Seperti yang kita ketahui anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, terutama jika lingkungan sekitar kotor dan tidak sehat.

Faktor sanitasi yang layak dirasa cukup penting untuk mencegah berbagai penyakit terutama pada balita. Data BPS menunjukkan persentase rumah tangga menurut provinsi dan memiliki akses terhadap sanitasi layak, tahun 2021 di Lampung sebesar 83,89 persen, naik sebesar 5,08 persen dari tahun sebelumnya sebesat 78,81 persen.

Dari beberapa upaya pencegahan tersebut, dapat dilihat bahwa perlu adanya kerja sama dan perhatian lebih dari pemerintah serta masyarakat dalam mencegah stunting dan wasting.

Sebab, persoalan gizi balita tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Namun, perlu dukungan dan kontribusi dari segala sektor.

Dengan demikian, melalui peringatan Hari Gizi Nasional Tahun ini kita harus bahu-membahu untuk menyelesaikan permasalahan stunting dan wasting sedini mungkin. Sehingga mewujudkan balita Indonesia yang sehat bukan menjadi sebuah mimpi. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda