Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung Ternyata Pria Korea

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung Ternyata Pria Korea

Yogi Achmad Fajar. | Dokumentasi

Yogi Achmad Fajar. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Sudah hampir setahun Yogi Achmad Fajar menjadi kepala cabang atau pimpinan cabang Dompet Dhuafa Lampung.

Nama lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah ini memang terkenal. Dompet Dhuafa tergolong salah satu lembaga zakat profesional pertama di Indonesia.

Secara kelembagaan, nama Parni Hadi, kini berdiri paling pucuk di Dompet Dhuafa. Parni adalah mantan Kepala LKBN Antara yakni kantor berita Indonesia. Ia juga tokoh sentral di koran Republika.

Parni adalah orang kepercayaan mantan Presiden Habibie tatkala masih menjadi Menristek semasa Presiden Suharto berkuasa. Ia juga tokoh sentral di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Kita balik ke Yogi Achmad Fajar. Siapa sangka, Yogi ini adalah “orang Korea”.

Coba perhatikan saksama wajah Yogi ini. Serupa bukan dengan beberapa pemain drama terkenal dari Negeri Ginseng Korea (Selatan)?

Yogi bilang, ia memang “orang Korea”. Namun, bukan warga negara itu. Ia asli orang Indonesia. Kayak mana sih?

Yogi dikenal sebagai ” orang Korea” lantaran studinya di Universitas Gajah Mada (UGM) dulu mengambil Sastra Korea. Kebetulan, wajah doi lumayan imut dan mirip oppa-oppa negara Korea.

Bagi kalian yang hafal dan mengikuti isu terkini soal lagu dan drama Korea, pasti banyak kenal dengan artis-artisnya.

Eit, jangan salah lho. Yogi yang lulusan Sastra Korea ini juga memperhatikan perkembangan terkini isu apa saja dari negeri itu. Soal bahasa Korea, ya sudah pasti fasih lho.

Cuma sekarang karena jarang digunakan, doi butuh waktu untuk beraksentuasi Korea. Tapi kalau soal lagu dan film sih masih mengikuti.

Yogi bilang, ia sudah kerja di Dompet Dhuafa sejak 2012. Sejak lulus, hanya Dompet Dhuafa tempatnya bekerja.

Yogi menuturkan, ia matang di dunia fund raising.

“Fund raising memungkinkan saya bergerak luwes untuk bertemu sebanyak mungkin klien dan menawarkan pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah kepada Dompet Dhuafa,” kata pria kelahiran Tasikmalaya, tahun 1989 itu.

Yogi mengaku, aktivitas ekskrakurikulernya semasa kampus juga menopang pekerjaannya sekarang. Sewaktu di UGM ia adalah wartawan kampus Bulaksumur, sebuah unit kegiatan pers terkenal di Yogyakarta.

Yogi sempat menjadi koordinator online untuk Bulaksumur.

Yogi bilang, memang beberapa kawan bilang ia mirip orang Korea. Kulit lumayan kuning langsat, mata agak sipit, dan paras imut membuat orang percaya saja dirinya orang Korea.

Apalagi kalau bicara dalam bahasa Korea, rasa-rasanya semua manggut-manggut begitu doi sebut dirinya orang Korea.

“Hahaha, ya mungkin mirip saja. Dan pas juga studi saja Sastra Korea UGM,” kata pria yang sedang menanti kelahiran anak keduanya ini.

Yogi mengatakan, ia juga suka dengan futsal. Namun sepanjang di Lampung belum pernah berkesempatan latih tanding dengan klub lain.

“Waktu di Dompet Dhuafa Bandung, saya bikin pertandingan amal. Selebriti dan olahragawan terkenal kami ajak dan mereka nyumbang. Ada Sule, pebulutangkis Taufik Hidayat, dan banyak lagi,” ujar Yogi kemarin kala menyambangi kantor redaksi wartalampung.id.

Yogi berharap ia bisa memaksimalkan potensi Dompet Dhuafa di Lampung. Ukurannya salah satunya adalah akumulasi dana zakat, infak, dan sedekah yang bisa dikelola. [Sugiono]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda