Ratna Dewi. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Ratna Dewi sangat ingat dengan satu kejadian semasa kuliah di Universitas Teknokrat Indonesia. Ia pernah ditelpon dosennya, Mr Ridho, karena ia tidak kunjung mengerjakan skripsi.
Sang dosen berkata, “Ratna, kamu mau lulus enggak? Jangan mentang-mentang sudah digaji dolar jadi lupa sama skripsi.”
Ratna termotivasi. Ia akhirnya mampu mengerjakan skripsi dalam waktu 1 bulan mengejar yudisium akhir tahun 2013 dengan minor revision.
Ia menganggap semua dosen di Teknokrat sangat terkualifikasi dan mampu membat suasana belajar megajar tidak membosankan. Itu yang membuatnya termotivasi segera menyelesaikan kuliah.
Ratna bilang, tanpa memberi motivasi pun, para dosen di Teknokrat sudah mencontohkan hal-hal yang memotivasi, seperti rajin menulis jurnal dan aktif dalam organisasi.
Ratna juga nyaman dengan perkuliahan. Salah satunya ditunjang gedung kampus yang kata dia satu-satunya gedung yang ikonik. Mahasiswa pun betah di kampus menunggu jam pelajaran berikutnya.
Ratna pernah aktif di ekskul Teknokrat English Club. Di situ ia mendapat mengembangkan kompetensi public speaking dan bekerja sama dengan tim.
Ratna Dewi mengatakan, karena sering mempraktekan public speaking, ia terbiasa menjadi MC dan moderator pada acara-acara di kantornya sekarang, Badan Kepegawaian Negara (BKN).
”Saya dulu pernah menjadi ketua acara Scientific Seminar dan berpidato dalam bahasa inggris pada pembukaan acara. Secara tidak langsung hal ini menggali potensi kepercayaan diri saya untuk berbicara di depan umum,” kata dia.
Ia menambahkan, dalam dunia humas, ia harus aktif dalam berkomunikasi, harus mampu berkomunikasi dalam berinteraksi dengan pemangku kepentingan.
Dengan berorganisasi juga mengembangkan kreativitas dalam berpikir, mendorong untuk berpikir dengan cepat dan tanggap.
“Hal ini dapat dilihat dalam perkerjaan saya sehari-hari yang dituntut untuk kreatif, aktifm dan adaptif pada perubahan-perubahan baru,” lanjutnya.
Ratna Dewi, S.S., M.Si. dilahirkan di Bandar Lampung, 8 Desember 1990. Bungsu dari 3 bersaudara ini kini menetap di Kota Bekasi.
Ratna lulusan S1 Sastra Inggris Teknokrat (2008-2013). Ia lulus dengan predikat cum laude IPK (3.72) dan meraih predikat Wisudawati Terbaik II.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (2016-2018) dan lulus dengan IPK 3,55.
Saat kuliah ia aktif di Teknokrat English Club (TEC) dan UKM Duta Teknokrat.
Saat kuliah itu juga ia tercatat menorehkan banyak prestasi dalam lomba yang ia ikuti, di antaranya:
Juara II Lomba Scrabble (2010)
Juara I Putri STBA Teknokrat (2010)
Lomba Cerdas Cermat Bahasa Inggris ALSA (Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2011)
Lomba Muli Mekhanai (2011)
“Sebelum lulus kuliah, sejak 2011 saya berkerja sebagai English Interpreter pada perusahaan multinasional Siemens VAI dan berkantor di PT Hanjung Indonesia Panjang, Lampung. Saat itu atasan saya berasal dari Austria,” ujarnya.
Ratna menambahkan, setelah itu ia bekerja sebagai asisten dosen di Teknokrat mengajar mata kuliah Bahasa Inggris untuk mahasiswa STMIK dan AMIK Teknokrat dan mata kuliah Pengembangan Pribadi untuk mahasiswa STBA.
Ia juga aktif mengajar les privat bahasa inggris dan calistung di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa selama kuliah untuk membiayai kuliah. Pada semester II ia pernah mendapat beasiswa dari Gubernur Lampung karena IPK yang tinggi: 3,94.
Tahun 2011, ia berhasil menyelesaikan semua SKS studi, namun menunda mengerjakan skripsi karena sibuk bekerja sebagai Interpreter dan sekretaris.
Tahun 2012, ia mendapat tawaran menjadi sekretaris pada perusahaan BUMN yang bergerak di bidang Construction & Engineering, PT Rekayasa Industri Jakarta.
Dengan kemampuan berbahasa Inggris baik lisan dan tulisan, ia mampu memenuhi syarat sebagai sekretaris yang dituntut mampu surat-menyurat dalam bahasa Inggris dan berkomunikasi aktif dalam bahasa Inggris. Ia sering bertemu dengan klien perusahaan yang berasal dari luar Indonesia.
Ratna bilang, banyak cerita unik ketika ia kuliah di Teknokrat. Dahulu teman-temannya tidak mau mengambil kelas yang sama dengannya. Hal ini dikarenakan selalu mendapat nilai tertinggi di kelas.
“Saya selalu mendapat nilai A dalam mata kuliah Grammar dan Conversation. Jika saat itu untuk mendapat nilai A, mahasiswa harus mendapat nilai 90. Jika saat itu saya mendapat nilai tertinggi di kelas 85, saya mendapatkan A yang seharusnya B. Lalu nilai di bawah mengikuti, yang seharusnya C menjadi D,” ujarnya.
Sejak SD, Ratna rajin mengikuti kursus Bahasa Inggris karena memang suka belajar bahasa Inggris. Ia berharap suatu saat bisa menjadi guru bahasa Inggris yang profesional.
Namun, takdir berkata lain. Ia bekerja sebagai sekretaris di Jakarta sejak 2014. Dua tahun merantau di Jakarta, ia memutuskan melanjutkan S2 dengan berbekal tabungan selama bekerja sebagai sekretaris.
Ia kemudian meneruskan ke pascasarjana Ilmu Komunikasi dengan Jurusan Manajemen Komunikasi Pemasaran Universitas Indonesia. Kuliah ia jalani Senin-Kamis dari pukul 19.00-21.00 usai jam kerja.
Tidak hanya ingin meningkatkan kompetensi diri, melanjutkan S2 merupakan salah satu strategi untuk mendaftar PNS agar masuk langsung golongan III b.
“Menjadi PNS adalah harapan terbesar orangtua terhadap saya sebagai anak perempuan satu-satunya,” ujarnya.
Ratna hampir 2 tahun kuliah. Menjelang ujian tesis, pada Mei 2018, ia menikah dengan teman sekelas di manajemen komunikasi pemasaran. Uniknya, mereka mendapat pembimbing dan penguji tesis yang sama.
Pada September 2018 ia lulus dari Universitas Indonesia dengan mendapat gelas magister ilmu komunikasi. Tak lama kelulusan, pendaftaran CPNS pun dibuka.
Ia mencari formasi untuk S2 komunikasi. Tak banyak instansi yang membuka lowongan untuk S2 Komunikasi saat itu. Hanya ada 3 instani, yakni Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan 2 kementerian lainnya.
“Saya tertarik mendaftar PNS di BKN karena ada 2 formasi untuk S2 komunikasi yakni formasi pranata hubungan masyarakat pertama dan analis kerja sama,” ujarnya.
Karena latar belakang pendidikannya dan suami sama, mereka mencoba mendaftar PNS di BKN.
“Saya mendaftar formasi pranata hubungan masyarakat pertama dan suami mendaftar formasi analis kerja sama,” ujarnya.
Dengan persiapan selama beberapa bulan, seperti mengurus berkas administrasi dan lainnya, ia mempelajari soal-soal seleksi CPNS pada buku yang ia beli di toko buku.
Saat tes seleksi I (Seleksi Kemampuan Dasar/SKD) ia dalam kondisi hamil 5 bulan. Setiap hari di sela-sela jam berkerja dan sebelum tidur malam ia mempelajari soal-soal seleksi CPNS.
Saat pengumuman SKD, Ratna dan suami mendapat ranking 1 pada formasi masing-masing. Mereka lalu berlanjut ke tahapan seleksi berikutnya yakni seleksi kompetensi bidang (SKB) dan wawancara.
Pada tahap wawancara, dengan latar belakang pendidikan S1 Sastra Inggris, pejabat yang mewawancarainya mengetes kemampuan bahasa Inggris.
Selama wawancara, Ratna menggunakan bahasa Inggris aktif dan hal ini membuat saya mendapat nilai di atas 90.
Ratna menghaturkan terima kasih dengan dosen-dosen Teknokrat yang sudah mengajarkannya sehingga fasih berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Saat pengumuman penerimaan PNS, namanya tetap berada pada urutan 1 dan mendapatkan formasi yang ia tuju.
“Ilmu yang didapat selama masa kuliah sangat bermanfaat ketika kita memasuki dunia kerja. Dan pengalaman berorganisasi selama kuliah pun membuat saya menjadi orang yang aktif berkomunikasi dan bergaul dengan teman-teman kerja,” tutupnya.
Wakil Rektor I Universitas Teknokrat Indonesia Dr H Mahathir Muhammad SE MM memuji prestasi Ratna sebagai alumni yang berhasil. Mahathir menlai, semua mahasiswa mesti belajar bagaimana menata masa depan seperti Ratna.
Ia mengatakan, dengan tujuan kuliah yang jelas, semua mahasiswa akan mendapat prestasi sebagaimana Ratna, bahkan bisa lebih baik lagi.
Kata Mahathir, apa yang dipaparkan Ratna bisa menjadi motivasi untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi. Dan ketika lulus sudah memiliki sederet kompetensi untuk bersaing dalam dunia kerja atau membuka lapangan kerja. [Sugiono]
