Penang Street Art. | Nadiya Arisandi
“Keindahan bangunan di setiap sudut kotanya membuat para pelancong betah mengunjungi kota ini, belum lagi lukisan-lukisan tembok yang seakan bersolek agar ditanya, kemudian pernak-pernik buah tangan yang seakan memanggil pengunjung untuk membelinya. Inilah salah satu faktor yang memikat hati para pengunjung sehingga mendapatkan penghargaan World Culture Heritage dari UNESCO.”
Sejak United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (UNESCO) menetapkan George Town sebagai warisan budaya dunia pada 7 Juli 2008, ibu kota dari Penang itu pun terus menujukkan panorama indahnya di berbagai penjuru dunia.
Bagaikan seorang ibu yang melindungi anak-anaknya dari kelaparan, George Town tumbuh menjadi ibu kota yang kaya akan potensial terutama di bidang pariwisata. Banyak turis-turis mancanegara dan domestik yang mengunjungi kota ini untuk berlibur atau pun hanya untuk sekadar mengisi akun media sosial mereka yang bercuan itu.
George Town merupakan bagian ibu kota dari Penang, (Pulau Pinang), Malaysia. Ibu kota ini adalah salah satu dari dua ibu kota Malaysia (satunya Kuala Lumpur) yang termasuk dalam daftar warisan budaya UNESCO karena berhasil melestarikan warisan kolonial Inggris-nya sejak akhir abad ke-18.
Pada Bulan Juni lalu, saya mengikuti program student mobility di Malaysia dan mengunjungi tempat yang menawan ini, menggunakan bus yang disediakan oleh Universitas Teknologi Mara (UiTM), yang ada di Penang. Pada siang yang terik, matahari sedang menunjukkan bakatnya hingga saya sampai di sana.
Setiap jalannya saya disuguhi oleh pemandangan yang selalu membuat saya terpukau. Bagaimana tidak, saya melewati jembatan terpanjang kedua di Malaysia yang berada di Pulau Pinang, sebutan untuk jembatan ini yaitu Penang Second Bridge.
Perlu diketahui bahwa, Penang masih terjaga keasriannya sebagai negara dengan rumpun Melayu, Sabah dan Serawak. Di Universitas Teknologi Mara di Penang, mahasiswa yang dapat masuk dan berkesempatan menuntut ilmu di sana dikhususkan pemerintah adalah bagi rumpun melayu, seperti pribumi, sabah dan juga serawak, demi menjaga kelestarian suku dan bahasa.
Berbeda dengan Kuala Lumpur yang mana banyak mobilisasi dan pertukaran budaya dengan bangsa asing. Sewaktu di Kuala Lumpur, saya disuguhi dengan gedung-gedung pencakar langit dan berbagai orang dengan warna kulit yang berbeda. Sungguh dua ibu kota yang berbeda, namun menjadi daya tarik tersendiri di antara keduanya.
Ketika sudah memasuki area George Town, banyak sekali lukisan mural di sepanjang jalan akses masuk, mulai dari lukisan ikonik dua orang anak sedang menaiki sepeda, lukisan kucing, lukisan abstrak, dan sejenisnya menemani lensa mata saya ketika memasuki area ini.
Pernyataan dari tour guide kami, semua panorama yang disuguhkan tadi dinamakan dengan wisata Penang Street Art.
“Lukisan sepanjang jalan korang semua ni bernama Penang Street Art, nanti korang akan disuguhkan jalanan yang indah dan cantik,” kata tour guide.
Penang Street Art merupakan sebutan dari sebuah jalan di Penang yang terkenal akan lukisan mural di sepanjang gang dan jalan.
George Town dihuni oleh penduduk mayoritas etnik China. Ini saya dapatkan secara langsung ketika menjajaki toko dan mulai menapakkan kaki di tanah Penang.
Setelah menelusuri informasi dari tour guide bahwa di daerah George Town terutama di Penang Street Art, mayoritas adalah orang China, dan hampir semua penuduknya dihuni oleh suku tersebut.
Ini sebuah akulturasi budaya yang sangat menarik, berbeda dengan negara Indonesia yang berasas integritas. Di sana, suku bangsa yang berbeda akan diberikan fasilitas tempat untuk melangsungkan hidupnya, terpisah dengan orang-orang melayu asli. Seperti fenomena di George Town ini, yang mana khusus untuk penduduk dari suku bangsa China.
Alih-alih runyam, ibu kota ini berhasil bersolek dengan guyub dan rukun. Pariwisata dan ekonomi kreatif yang sangat patut diapresiasi.
Saya membeli beberapa cenderamata di sana, karena katanya di Penang Street Art ini murah dan terjangkau. Akhirnya tangan saya menenteng beberapa gantungan kunci bertuliskan “Penang” dan tas rajut yang amat kian cantik. Teman-teman saya membeli topi rajut dan beberapa cenderamata lainnya.
Di Penang Street Art juga menyediakan Halal Food Centre, jadi saya dan teman-teman tidak kebingungan ketika akan membeli makanan. Saya melanjutkan untuk mencicipi beberapa makanan yang ada di sana, ala-ala food vlogger saya mengambil beberapa momen video sebagai kenang-kenangan.
Karena cuaca di sana amat terik dan panas, saya dan teman-teman mampir ke kedai es krim. Semua teman membeli es krim dengan rasa yang masih asing, berbeda dengan saya yang lebih tertarik mencicipi es cendol khas George Town.
Rasa cendolnya khas dengan santan gurih, sangat cocok di lidah, mungkin di lain waktu saya juga akan mencicipi es abcd, ayam goreng Mail, hingga es krim durian Musang King.
Sedikit Fakta mengenai Penang Street Art, lukisan mural ini bermula dari kompetisi The Making of George Town yang digagas pemerintah Penang pada tahun 2012 dalam gelaran George Town Festival. Saya mengambil beberapa pose foto dengan gaya yang nyentrik ala tahun 90-an, menyesuaikan lukisan yang ikonik dan antik.
Akulturasi budaya yang saya jumpai di Penang Malaysia membuat saya terpana. Dengan komoditas utama pariwisata, mampu menghantarkan ibu kota George Town menjadi pusat sentral turis mancanegara maupun domestik berkunjung ke tempat ini.
Yang membuat saya terkesan lagi adalah lukisan Armenian Mural Street. Armenian Street lokasi paling terkenal untuk seni jalanan di Penang, dengan berbagai mural dan instalasi yang menawan. Beberapa mural ikonik di sini adalah “Children on a Bicycle” dan “Little Girl in Blue” karya Ernest Zacharevic.
Setelah selesai berkeliling, membeli beberapa buah tangan dan cenderamata, hingga mengambil beberapa potret foto di Penang Street Art, menjelang sore hari, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. George Town, merupakan ibu kota yang indah dan nyentrik, tak heran jika UNESCO menobatkannya sebagai world culture heritage. [Nadiya Arisandi]

Tinggalkan Komentar Anda