Wartalampung.id, Krui – Suara angin berembus pelan. Pagi itu, di pinggir jalan yang masih sepi, Fitri sudah sibuk merapikan dagangannya.
Tangannya bergerak lincah. Sesekali ia tersenyum menyapa beberapa orang yang lewat.
Bagi Fitri, berdagang adalah bertahan hidup sekaligus membantu keluarga.
Sejak dulu, perempuan 40 tahun asal Krui ini sudah bersahabat dengan dunia dagang. Meski kesehariannya juga diisi dengan pekerjaan sebagai petugas kebersihan, semangatnya untuk berusaha tak pernah padam.
Baginya, usaha kecil bukan halangan untuk terus melangkah. Justru dari situlah ia belajar kuat, sabar, dan percaya bahwa rezeki selalu ada bagi yang mau berjuang.
Usaha yang dijalaninya sederhana. Modal pun seadanya.
Namun, dari warung kecil itulah Fitri pelan-pelan membangun harapan. Tahun demi tahun ia jalani.
Kadang ramai, kadang sepi, tetapi ia bertahan. Baginya yang penting dapur tetap mengebul dan kebutuhan harian bisa terpenuhi.
Setiap hari Fitri bangun lebih awal, menyiapkan dagangan, lalu menunggu pembeli dengan sabar.
Panas, hujan, bahkan sepinya pembeli sudah jadi teman biasa. Namun ia tidak pernah mengeluh.
“Namanya juga usaha, harus dijalani,” kata dia kepada wartalampung.id hari ini.
Ia berharap ke depan ada perhatian dan dukungan untuk pedagang kecil seperti dirinya.
“Saya jualan dengan modal murni dari saya sendiri, dan saya harap ada bantuan secara cuma-cuma dari pemerintah untuk pedagang kecil seperti saya,” ujarnya.
Bukan meminta lebih, hanya ingin usahanya bisa terus berjalan dengan baik.
Menurut dia, sedikit bantuan bisa jadi penyemangat besar untuk orang kecil yang sedang berjuang.
Walaupun warungnya kecil, Fitri punya mimpi besar.
Ia ingin usahanya tetap hidup, pelanggannya tetap ada, dan harapan itu tidak pernah padam. Dari warung sederhana di pinggir jalan, seorang perempuan tangguh terus melangkah, membuktikan bahwa perjuangan kecil pun punya arti yang besar. [Jullana Lee/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda