Nusantara

Wakil Ketua Umum PBNU Moh Mukri Minta Media Massa Jaga Komitmen dan Idealisme di Tengah Maraknya Media Bodong

Wakil Ketua Umum PBNU Moh Mukri Minta Media Massa Jaga Komitmen dan Idealisme di Tengah Maraknya Media Bodong

Moh Mukri. | Anggi Dwi Raharti

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Wakil Ketua Umum PBNU yang juga mantan Rektor UIN Raden Intan Lampung, Moh. Mukri, menghadiri acara “Kongko Akhir Tahun & Reuni Duajurai ++, digelar di Nuwono Tasya, dalam rangka reuni dan syukuran buku “Pengadilan Orang Baik” karya Juwendra Asdiansyah, Selasa malam, 16 Desember 2025.

Moh. Mukri menyoroti maraknya media bodong dan derasnya arus informasi di media sosial dinilai menjadi tantangan serius bagi dunia pers saat ini.

Kondisi tersebut menuntut media massa dan jurnalis untuk lebih berhati-hati, berkomitmen, serta tetap menjaga idealisme dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Hal itu disampaikan dalam wawancara mengenai fenomena media massa di era digital yang kian turbulen.

Menurut dia, dunia media saat ini berada dalam situasi “turbulensi”, di mana goncangan informasi datang bertubi-tubi, terutama dari media sosial.

“Sekarang ini eranya sudah berbeda ada turbulensi luar biasa banyak hal yang salah justru dianggap benar karena diviralkan dan diiyakan oleh banyak orang,” ujarnya.

Ia menilai kebenaran hari ini sering tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh seberapa luas sebuah informasi tersebar di internet.

Fenomena tersebut membuat masyarakat kerap menerima dan menyebarkan informasi tanpa proses penyaringan yang memadai, sehingga memicu kegaduhan, fitnah, dan disinformasi.

Di tengah kondisi tersebut, media massa dinilai masih memiliki peran penting dan tetap efektif, terutama dalam menjaga kualitas informasi.

Menurut Mukri, kebijakan, kinerja, atau kebaikan apa pun yang dilakukan negara tidak akan memiliki dampak luas jika tidak dikabarkan secara benar dan bertanggung jawab.

“Orang-orang baik dan karya-karya baik itu justru harus diviralkan, jangan malah yang tidak baik yang terus diangkat,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa media massa harus memiliki komitmen untuk memviralkan kebaikan dan menjadikan pemberitaan sebagai sarana edukasi serta teladan bagi masyarakat.

“Ukuran paling sederhana, jangan memberitakan sesuatu yang tidak ada datanya, tidak ada dokumennya dan buktinya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengakui bahwa media massa saat ini tidak bisa dilepaskan dari unsur bisnis dan kepentingan tertentu, baik ekonomi maupun politik.

Namun, kepentingan tersebut tidak boleh menghilangkan tanggung jawab media dalam menyampaikan kebenaran kepada publik.

“Ada media yang kepentingan bisnis dan politik, tapi juga harus ada kepentingan menyampaikan kebenaran, itu yang ideal,” katanya.

Terkait dengan kualitas jurnalis, ia menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, yang harus terus meningkatkan kualitas diri agar tidak tertinggal pola konsumsi informasi masyarakat.

Agar tidak kalah dengan media sosial, media massa dinilai perlu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan idealisme. Media harus mampu mengambil jalan tengah antara kecepatan, daya tarik, dan kedalaman informasi.

“Idealisme harus tetap ada dan juga harus bisa memviralkan kebaikan, memberi arah, memberi panduan kepada masyarakat,” katanya.

Ia berharap media massa ke depan tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga berperan menciptakan rasa aman, nyaman, dan sejahtera bagi masyarakat melalui pemberitaan yang bertanggung jawab.

“Kalau media tidak punya komitmen, lalu mau ke mana? Mau hanya bikin gaduh? Media harus membawa kebaikan untuk kita semua,” pungkasnya. [Anggi Dwi Raharti]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda