Bandar Lampung

Usai Juara 1 Peksiminas, Zaki Al Farizi Tampil Baca Puisi di Dies Natalis ke-61 Unila

Usai Juara 1 Peksiminas, Zaki Al Farizi Tampil Baca Puisi di Dies Natalis ke-61 Unila

Zaki Al Farizi. | Ridho

Wartalampung.id, Bandar Lampung — Usai meraih Juara 1 Peksiminas, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis (PS PBP) FKIP Universitas Lampung (Unila), Zaki Al Farizi, kembali tampil dalam rangkaian Dies Natalis ke-61 Unila, Kamis (17/9/2026).

Zaki turut memeriahkan Unila Art Festival dan Bazar Kuliner yang digelar di Parkir Terpadu Unila. Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan puisi berjudul “Sagu Ambon” di hadapan sivitas akademika dan pengunjung acara.

Bagi Zaki, penampilan tersebut menjadi momen untuk merayakan sekaligus mensyukuri pencapaiannya setelah berhasil meraih Juara 1 Peksiminas. Ia menyebut dua momen tersebut memiliki makna yang saling melengkapi.

“Perasaan saya jelas senang dan bersyukur. Meraih Juara 1 di Peksiminas itu sendiri sudah menjadi kebahagiaan besar, dan ketika kesempatan itu berlanjut dengan tampil kembali di Dies Natalis Unila, rasa syukur saya jadi berlipat,” ujar Zaki kepada wartalampung.id.

Menurutnya, keikutsertaannya dalam Dies Natalis Unila merupakan bentuk rasa syukur sekaligus ucapan terima kasih kepada kampus dan pihak-pihak yang telah mendukung perjalanannya hingga berhasil mencapai tingkat nasional.

“Keikutsertaan saya di Dies Natalis Unila murni sebagai wujud rasa syukur atas kemenangan yang saya raih di Peksiminas,” katanya.

Dalam penampilannya, Zaki memilih puisi Sagu Ambo. Ia membawakan puisi tersebut tanpa menambahkan interpretasi atau sentuhan personal secara berlebihan.

“Saya membawakan Sagu Ambon apa adanya, sesuai arti murni dari puisi itu sendiri. Saya tidak menambahkan interpretasi atau sentuhan personal yang berlebihan, biar puisinya sendiri yang berbicara kepada penonton,” ungkapnya.

Berbeda dengan persiapan menuju Peksiminas yang dilakukan dalam waktu panjang, kali ini Zaki tidak melakukan persiapan khusus. Ia bahkan baru menentukan puisi yang akan dibawakan satu hari sebelum tampil.

Menurut Zaki, pengalaman dan jam terbang dari latihan sebelumnya membuat dirinya lebih siap menghadapi penampilan tersebut.

Suasana tampil di Dies Natalis Unila juga dirasakan berbeda dibandingkan ketika mengikuti Peksiminas.

Jika Peksiminas menghadirkan atmosfer kompetisi dan tekanan untuk tampil maksimal di tingkat nasional, Dies Natalis Unila terasa lebih santai karena berlangsung di lingkungan kampus sendiri.

“Di Peksiminas, atmosfernya jauh lebih terasa, tegangnya kompetisi dan tekanan untuk tampil maksimal di tingkat nasional. Kalau di Dies Natalis Unila lebih ke suasana kampus sendiri, lebih santai, tapi tetap ada kebanggaan tersendiri bisa tampil di sana,” tutur Zaki.

Zaki juga memberikan pesan kepada mahasiswa yang ingin mengembangkan bakat di bidang seni.

Ia mendorong mahasiswa untuk tidak takut memulai dari hal kecil dan memahami bahwa kemampuan tidak berkembang secara instan.

Menurutnya, konsistensi berlatih, terbuka terhadap masukan, serta berani tampil dalam berbagai kesempatan menjadi bagian penting dalam mengembangkan kemampuan.

Ia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan berbagai wadah yang tersedia di lingkungan kampus, salah satunya UKM Bidang Seni, untuk terus mengasah bakat dan pengalaman.

Penampilan Zaki dalam Unila Art Festival menjadi salah satu bentuk partisipasinya dalam memeriahkan Dies Natalis ke-61 Unila.

Kehadirannya juga menjadi momen untuk membawa semangat berkesenian setelah pencapaiannya di tingkat nasional melalui Peksiminas.

Ikuti berita selengkapnya hanya di Wartalampung.id. [Ridho Ardi Anda]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda