UAS di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila. | Dokumentasi
WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG – Pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) genap tahun akademik 2025/2026 di Program Studi Bahasa Prancis FKIP Unila terpantau berjalan lancar dan kondusif hari ini.
Momentum evaluasi akhir tahun ini memotret dinamika menarik dari dua sudut pandang berbeda: kesiapan metode pengujian oleh dosen dan adaptasi akademis dari para mahasiswa lintas angkatan.
UAS semester ini sendiri dilaksanakan secara bertahap. Mahasiswa angkatan 2023 telah memulai ujian lebih awal, 2 Juni 2026. Sementara itu, untuk beberapa kelas di angkatan 2024 dan 2025, pelaksanaan UAS baru resmi bergulir pada 8 Juni 2026.
Riza Harani Bangun, dosen pengampu di Prodi Bahasa Prancis, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran administrasi ujian semester ini.
Sebagai pengajar baru, ia mengampu tujuh mata kuliah yang tersebar dari tingkat dasar hingga lanjut, di antaranya Grammaire Élémentaire, Analyse Littéraire, hingga Agence de Voyage.
Menurut Riza, terdapat pergeseran tren pengujian pada UAS semester ini. Format ujian kini lebih bervariasi dengan melibatkan wawancara proyek dan praktik langsung di lapangan, tidak lagi melulu mengandalkan ujian tertulis konvensional di dalam kelas.
Langkah ini diambil guna mengukur peningkatan kemampuan mahasiswa secara lebih riil sekaligus menekan celah kecurangan.
Riza bilang, hasil UAS menjadi parameter keberhasilan proses pembelajaran satu semester. Melalui kisi-kisi berbasis materi salindia kelas, ia mencoba memudahkan persiapan mahasiswa.
Namun ke depan, harapannya ujian bisa lebih berbasis praktik langsung.
“Rajinlah belajar dan kurangi durasi menatap layar ponsel (screen time) karena paparan konten media sosial yang instan dapat memicu fenomena brainrot yang merusak daya konsentrasi otak,” katanya hari ini kepada wartalampung.id.
Di sisi lain, suara dari bangku mahasiswa menunjukkan variasi tantangan yang berbanding lurus dengan kedewasaan akademik dari masing-masing angkatan.
Mewakili angkatan 2025, Yunita mengutarakan bahwa tantangan terberat dirasakan pada mata kuliah Grammaire dan Production Écrite.
Apalagi, angkatannya merupakan angkatan pertama yang menerapkan kurikulum baru.
Kendala manajemen waktu dan menumpuknya tugas akhir membuat sistem belajar kebut semalam (SKS) masih kerap menjadi pilihan khalayak mahasiswa.
Sementara itu, Amra Calista dari angkatan 2024 menilai tingkat kesulitan UAS semester ini berada pada kategori sedang hingga cukup sulit. Baginya, mata kuliah Phonétique menjadi momok paling menantang karena membutuhkan pemahaman teori detail sekaligus identifikasi vokal praktis.
Ia berharap jadwal ujian di semester berikutnya dapat diatur dengan jarak yang lebih longgar.
Tantangan berbeda dihadapi oleh mahasiswa angkatan 2023. Fitria Wulandhari menjelaskan bahwa materi perkuliahan di semester akhir ini sudah bergeser ke arah analisis teks mendalam dan rédaction (penulisan) panjang yang kompleks.
Fokus mahasiswa pun mulai terbagi antara persiapan menghadapi UAS yang berjalan sejak awal Juni dan tahapan awal penyusunan skripsi.
Meski menghadapi kendala waktu, seluruh perwakilan mahasiswa mengapresiasi kebijakan para dosen yang telah memberikan arahan dan kisi-kisi ujian yang selaras dengan materi perkuliahan.
Sinergi antara pembaruan metode uji oleh dosen dan kedisiplinan belajar mahasiswa diharapkan mampu mendongkrak pencapaian nilai akademis yang maksimal pada semester ini. [Putu Suati Kartika Dewi]

Tinggalkan Komentar Anda