Zahra Shabila Zulfiani. | Delima Kurnia
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Terpilih sebagai Duta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung tahun 2025 menjadi langkah baru bagi Zahra Shabila Zulfiani, mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2022.
Sosok yang dikenal kreatif dan komunikatif ini kini memegang peran penting dalam membangun citra positif fakultas melalui kegiatan promosi dan kolaborasi, Rabu, 5/11/2025.
Sebagai Duta FKIP, Zahra bersama anggota Duta yang lain kini aktif dalam berbagai kegiatan promosi fakultas.
Mereka mengelola publikasi media sosial, membuat konten kreatif, hingga berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa untuk memperkuat visibilitas FKIP.
“Saat ini kami aktif ikut berbagai kegiatan fakultas, baik akademik maupun non-akademik. Tujuannya supaya masyarakat kampus bisa melihat FKIP sebagai fakultas yang dinamis, kreatif, dan penuh potensi,” jelasnya.
Dari perannya itu, Zahra mengaku mendapat banyak pengalaman berharga. Salah satunya adalah kesempatan berinteraksi langsung dengan pimpinan fakultas, dosen, hingga rekan-rekan organisasi mahasiswa.
“Aku jadi lebih mengenal FKIP dari berbagai sisi. Nggak cuma dari kacamata mahasiswa, tapi juga dari bagaimana fakultas ini berkembang dan berinovasi,” ungkapnya.
Menjalani peran sebagai Duta FKIP di tengah kesibukan akademik bukan hal mudah bagi Zahra, terlebih kini ia juga tengah menyusun skripsi.
Namun, ia belajar menyeimbangkan keduanya dengan manajemen waktu dan kesadaran diri.
“Honestly, proses ngerjain skripsi sambil jadi Duta FKIP dan content creator itu cukup menantang. Tapi dari situ aku belajar pentingnya self-awareness dan skala prioritas. Aku mulai tahu kapan harus fokus nulis, kapan harus aktif di kegiatan,” katanya.
Menurutnya, peran Duta FKIP tidak berhenti pada tugas promosi saja. Lebih dari itu, seorang duta harus mampu menjadi jembatan antara fakultas dan mahasiswa.
“Duta FKIP itu bukan cuma figure representatif, tapi juga bridge yang menghubungkan fakultas dengan mahasiswa. Melalui kegiatan dan kolaborasi, kami ingin menunjukkan bahwa FKIP itu terbuka, progresif, dan punya potensi besar,” ujarnya dengan penuh semangat.
Dari perjalanan ini, Zahra menyadari bahwa makna kepemimpinan sejati lahir dari ketulusan. Ia menambahkan, menjadi Duta bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi siapa yang benar-benar mau turun tangan dan berbuat sesuatu.
“Dari pengalaman ini aku belajar untuk selalu fokus memberi manfaat, no matter how small,” tambahya.
Menutup wawancara, Zahra menyampaikan pandangannya bahwa menjadi Duta FKIP bukan soal gelar atau pengakuan, melainkan tentang memaknai setiap proses yang dijalani.
Baginya, ketulusan dan konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan. Ia percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik akan memberikan dampak yang berarti, selama seseorang mampu menghargai diri sendiri dan tetap menjadi versi terbaik dari dirinya. [Delima Kurnia]

Tinggalkan Komentar Anda