Fitria Laurent. | Dokumentasi

Oleh Fitria Laurent, Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Sriwijaya
Soal objektif adalah salah satu bentuk soal yang banyak digunakan sebagai alat tes dalam skala yang luas dan konten pemahaman dan heterogen. Pengertian soal objektif sendiri adalah soal yang dapat dijawab dengan pilihan jawaban yang sudah tersedia.
Bila kita mengikuti serangkaian tes dalam skala besar dengan konten yang heterogen, seperti tes CPNS, Beasiswa, UTBK, sudah bisa dipastikan kita mendapatkan soal objektif.
Meskipun tes dengan soal objektif ada yang mengkritisi, bahwa soal objektif membendung daya nalar siswa, seperti yang pernah diungkapkan salah satu tokoh Indonesia, tahun 1986 bahwa tes objektif seperti “judi porkas” untung-untungan (BJ Habibie).
“Anak-anak akan cenderung hanya coret-coret mengejar waktu, mengandalkan keuntungan saja“.
Mungkin saja pernyataan ini berdasarkan pengalaman apa yang pernah dilihat oleh tokoh tersebut.
Memang secara fenomena ketika siswa mengerjakan soal objektif, cenderung lebih cepat dari waktu yang ada, bahkan sangat cepat.
Lebih bersikap ringan atau dianggap santai oleh mereka jika dibandingkan dengan ketika menghadapi tes soal uraian.
Meskipun perkembangan teknologi pembelajaran telah menemukan sistem UTBK, tes berbasis komputer, yang dapat lebih membuat siswa agar fokus karena menggunakan timer.
Kenyataannya sampai saat ini tes objektif masih dianggap efektif untuk mengukur jangkauan materi pelajaran yang luas. Sehingga mewakili materi yang diberikan dan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa.
Selain itu tes soal objektif dalam pemeriksaannya bisa dilakukan secara objektif (Arikunto, 2016:177).
Tes objektif juga berguna untuk mengatasi kelemahan dari tes esai atau uraian yang bisa condong ke arah subjektif.
Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk berbagi tips kepada praktisi atau guru di sekolah, sebagai referensi, membuat soal objektif agar menjadi tes yang “WAW” bagi siswa.
WAW di sini adalah singkatan, menggunakan istilah bahasa Inggris, yaitu:
W = Wait, di mana siswa dibuat mau menunggu, sabar dan cermat memaksimalkan waktu yang diberikan.
A yaitu Awareness, di mana siswa tertarik untuk mengerjakannya dengan kesadaran kognitif. Artinya menggunakan segala upaya memori kognitifnya terhadap soal objektif tersebut.
W terakhir yaitu Well done, di mana siswa menyelesaikan tes atau menjawab soal objektif dengan usaha terbaiknya. Sehingga fenomena “coret-coret” , atau “otak-atik” kancing baju mencoba keberuntungan dapat diminimalkan.
Berikut langkah-langkah dalam menulis soal objektif “WAW”.
- Siapkan kisi-kisi soal yang seimbang dengan luas materi yang telah Anda berikan, tentunya sesuaikan juga dengan capaian pembelajaran yang dituju.
- Kemas Kalimat, gunakan bahasa sesuai dengan usia perkembangan siswa, kalimat sama panjang, serta memiliki makna yang serupa, misalnya:
- Berani memberikan keterangan, sesuai dengan faktanya.
- Berkata benar sesuai dengan informasi yang Ananda terima.
- Bersedia memberikan pendapat sesuai dengan pengetahuan Ananda.
- Visualisasi. Misalnya suatu soal atau jawaban tidak harus berupa narasi, tapi dapat diwakili oleh visual gambar yang menarik.
- Penuh Warna. Gunakan warna-warna yang kontras untuk beberapa bentuk gambar atau bidang kotak jawaban.
- Seni typografi juga dapat Anda gunakan pada huruf-huruf di bidang pilihan jawaban atau pada kalimat yang akan disorot, contoh jenis huruf:
- Black Letter
- Old Style
- Script and Cursive
- Pengecoh yang baik, dalam setiap pilihan jawaban berikan pengecoh yang baik. Pengecoh yang baik yang memiliki bobot makna serupa tapi tidak tepat.
- Kontektual soal. Penting bagi guru untuk mengikuti perekembangan isu yang ada pada siswa. Hal itu bisa dijadikan bahan soal atau contoh pilihan jawaban, yang tentunya disesuaikan dengan materi pelajaran.
- Seimbang, seimbangkan soal dari mulai yang sulit, sedang dan mudah serta memiliki daya pembeda. Di mana soal bisa membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.
Tips-tips di atas tentunya telah melalui proses validasi yang berlaku sesuai dengan standar ketentuan soal. Tips ini hanya untuk mengemas dan mempercantik tampian soal agar siswa tertarik dan ‘WAW” ketika mendapatkan soal objektif.
Sebagai ingatan adalah soal yang baik bukan berarti soal itu sulit sekali atau mudah sekali, melainkan proporsional. Semoga tips sederhana ini bisa membantu. Terima kasih. []

Tinggalkan Komentar Anda