Berita Foto Opini

Tausiyah Jumat: Zuhud dalam Kehidupan Modern

Tausiyah Jumat: Zuhud dalam Kehidupan Modern

Ustaz M. Suharsono, Lc., M.E.Sy.

Ustaz M. Suharsono, Lc., M.E.Sy.

Oleh: Ustaz M. Suharsono, Lc., M.E.Sy. (Ketua Biro Kepatuhan Syariah IZI)

Zuhud dalam Islam dapat diartikan sebagai sebuah sikap seorang muslim yang lebih memprioritaskan kehidupan akhirat dibandingkan kehidupan dunia.

Bisa juga diartikan sikap hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam hal harta, kedudukan dan kenikmatan duniawi yang bersifat sementara.

Dengan arti seperti ini, maka orang yang zuhud bukan berarti orang yang meninggalkan dunia baik dalam bentuk harta, kedudukan atau yang lainnya.

Bahkan, zuhud itu bukan berarti harus hidup miskin dan tidak punya apa-apa. Zuhud itu adalah sikap dan perilaku terhadap kesenangan dunia yang lebih memprioritaskan kehidupan akhirat nan abadi.

Allah swt menjelaskan tentang hakikat kehidupan dunia dalam Alquran salah satunya terdapat dalam surat Al-Hadid ayat 20:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S Al-Hadid (57): 20).

Ibnu AlMuqin dalam kitabnya Al-Muin ála Tafahhumil Aarbain mengatakan, “Zuhud itu mengecilkan atau menghinakan dunia”.

Ibnu Qayim dalam kitabnya Madarijus Salikin menyebutkan, zuhud adalah meningggalkan semua yang tidak manfaat di akhirat.

Dari Abu Dzar ia berkata telah bersabda Rasulullah saw: “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.” HR. Tirmidzi

Dari hadis ini dapat kita simpulkan bahwa sikap zuhud itu dapat diwujudkan dalam bentuk:

Keyakinan yang kuat terhadap Allah swt

Abu Hazm ditanya oleh seseorang: Apa saja hartamu? Ia menjawab: Aku memiliki dua harta berharga yang membuatku tidak khawatir menjadi miskin, yang pertama keyakinan kepada Allah dan kedua tidak mengharap apa yang ada di sisi manusia.

Ia ditanya lagi: Tidakkah engkau takut miskin? Ia menjawab: Bagaimana aku takut miskin sementara Allah sebagai penolongku dan pemilik semua yang ada di langit dan di bumi bahkan apa yang ada di dalam tumpukan tanah.”

Jika diuji dengan musibah, kita harus lebih berharap pahala dari Allah swt.

Semua manusia pasti pernah mengalami ujian berupa musibah dari Allah swt. Sikap orang yang zuhud adalah merasa yakin bahwa musibah adalah bukti kecintaan Allah kepadanya.

‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan, “Siapa yang zuhud terhadap dunia, maka ia akan semakin ringan menghadapi musibah.” []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda