Mikayla Tiaravatar Adzani
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dikenal sebagai Mika, berkarya sebagai Yuka”. Mikayla Tiaravatar Adzani adalah seorang siswi SMA Tunas Mekar Indonesia (TMI) yang sedang menempuh studinya di kelas XII.
Masa-masa SMA yang manis dan pahit, ia penuhi dengan menyusuri lika-liku jalan sastra. Sayangnya, Mika tidak memiliki kesempatan untuk memiliki kisah cintanya sendiri.
Maka dari itu, ia mulai mencurahkan isi hatinya dan menulis kisah cintanya sendiri—menjadikannya seorang penulis cerpen.
Berawal dari hobi masa kecilnya membaca serial Chicken Soup, Mika menjadi sering menulis buku harian dengan harapan bisa menjadi salah satu penulis antologi tersebut.
Sebagai sulung dari tiga bersaudara, Mika jadi sering menemukan pernak-pernik hidup yang nantinya menjadi inspirasinya saat menulis diary. Lembaran-lembaran dari curahan hati Mika sedikit demi sedikit berubah menjadi naskah cerita.
Dorongan pertamanya datang dari guru SD-nya, yang senang membaca dan menyimpan karya-karya kecilnya.
Ia kemudian mengunggah karya-karya pendeknya ke Wattpad di masa SMP-nya untuk menerangi masa sepi di saat pandemi covid-19.
Hingga akhirnya di masa SMA ia mulai mengikuti lomba-lomba cerpen.
Dalam setahun Mika bisa mengumpulkan hingga tujuh naskah cerpen. Di sekolah ia bahkan sudah menerbitkan satu antologi puisi dan dua antologi prosa mini bersama teman-teman sekelasnya.
Salah satu penggerak hati yang membuat Mika menulis adalah tokoh Neil Perry dari “The Dead Poet Society”.
Tokoh itu tidak hanya mengingatkannya akan rintangan yang ia alami dan ekspektasi yang dihadapi sebagai seorang pelajar, tapi juga mendorongnya untuk terus berkarya.
Carpe diem—manfaatkanlah hari ini. Itulah motto yang membuat hati Mika ingin terus menjelajahi dunia yang ditawarkan oleh lembar-lembar sastra.
Oleh karena itu, segala pencapaiannya di masa sekolah hanyalah sebagian dari batu lompatan untuk menuju mimpinya.
Di buku pertamanya ia memperkenalkan dirinya sebagai Yuka, nama yang diambil dari kanji bahasa Jepang yang berarti “kelembutan” dan “bunga”.
Hal ini dikarenakan naskah-naskah yang ditulisnya pada saat itu semuanya memiliki unsur romansa yang penuh dengan lembutnya kasih sayang.
Salah satu karya terbaiknya telah dinominasikan sebagai juara III Lomba Menulis Cerpen oleh Paramedia Pustaka, “Open House” yang menceritakan sepasang perantau yang merayakan Idul Fitri bersama.
Selain itu naskah kesukaannya adalah “1 dari 365”, yang menceritakan hadiah ulang tahun terbaik yang bisa dimiliki sepasang kekasih.
Kedua naskah ini menjadi bukti betapa indahnya kisah cinta yang ditulis olehnya, juga betapa Mika mendambakan kisah-kisah cinta itu. [Magisty Ayu Putri Adzani/Rachael Thias Izzatul Janna/Nabila Salsabila/Farhana Chika Rahman/Anindya Keysha/SMA TMI Bandar Lampung]

Tinggalkan Komentar Anda