Wartalampung.id, Krui – Nama sekolah sering lebih dulu berbicara sebelum kemampuan seseorang benar-benar diuji.
Hal itu pula yang kerap dirasakan Roni Danuarta (16), siswa SMA Negeri 1 Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat.
Di tengah anggapan bahwa sekolahnya bukan berasal dari deretan unggulan, Roni justru tumbuh dengan satu pilihan yang tidak mudah, bertahan, dan terus mencoba.
Sejak duduk di bangku kelas XII, Roni dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Dunia organisasi, kepramukaan, dan desain grafis menjadi ruang belajar yang ia pilih di luar kelas.
Di sela kesibukan tersebut, Roni tetap menjalani kehidupan remaja pada umumnya bermain gawai, berolahraga, serta menikmati hal-hal sederhana seperti ayam goreng dan matcha favoritnya.
Roni tumbuh dari keluarga sederhana. Ia merupakan anak dari pasangan Saprudin dan Nurhayati, yang hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar.
Meski demikian, orang tuanya sejak awal menanamkan satu nilai penting, pendidikan adalah jalan untuk membuka masa depan. Pesan itu terus ia ingat, terutama ketika perjalanan sekolahnya tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Perjalanan Roni di bangku SMA diwarnai oleh kegagalan yang datang berulang kali. Ia pernah mengikuti berbagai seleksi, mulai dari FLS2N, perkemahan di Metro, hingga seleksi paskibraka.
Tidak semua usaha tersebut berujung pada keberhasilan. Beberapa kali namanya tidak tercantum dalam daftar yang lolos, dan kegagalan itu sempat membuatnya meragukan kemampuan diri sendiri.
Keraguan tersebut semakin terasa sejak awal SMA. Roni merasa karya-karya yang ia buat sering dianggap biasa saja. Ia mulai membandingkan dirinya dengan siswa dari sekolah lain yang dipandang lebih maju.
Statusnya sebagai siswa SMA Negeri 1 Karya Penggawa sekolah yang kerap dipandang sebelah mata membuat rasa minder itu tumbuh perlahan.
“Ada masa di mana saya ngerasa kalah duluan,” ujarnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Roni memilih untuk tidak berhenti. Alih-alih menyerah, ia mencoba mengubah cara pandangnya.
Ia mulai membangun kembali kepercayaan diri dengan terus berlatih dan memperbaiki kemampuannya, terutama di bidang desain grafis. Dalam proses tersebut, Roni belajar bahwa hasil tidak selalu datang cepat, tetapi proses yang konsisten akan selalu membawa pembelajaran yang baik.
Upaya itu perlahan membuahkan hasil. Roni terpilih menjadi bagian dari Duta Siswa Indonesia dan aktif mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan. Ia juga meraih juara dua lomba desain poster serta berhasil melaju hingga tahap Harapan I FLS3N 2025.
Selain itu, Roni tercatat sebagai anggota Saka Bhayangkara Pesisir Barat dan telah mengikuti perkemahan tingkat kabupaten selama tiga tahun berturut-turut.
Di balik pencapaian tersebut, ada pengalaman-pengalaman kecil yang turut membentuk kedewasaannya. Dalam salah satu kegiatan pembinaan yang menuntut kedisiplinan tinggi, Roni sempat mengalami momen tak terduga yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
Situasi tersebut memicu tawa dan candaan di antara peserta. Meski sempat merasa canggung, Roni memilih menyikapinya dengan santai.
Baginya, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak selalu kaku dan selalu ada sisi bahagia di dalamnya.
Dalam organisasi, tantangan lain juga ia hadapi, terutama ketika muncul perbedaan pendapat antaranggota. Dari situ, Roni belajar pentingnya mendengarkan dan menjaga komunikasi.
Menurutnya, peran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi faktor utama yang membentuk sikapnya untuk terus bertahan dan belajar.
“Capek itu pasti,” kata Roni. “Tapi saya nggak pernah kepikiran buat berhenti.”
Bagi Roni, prestasi bukan hanya tentang angka atau piala. Tapi lebih dari itu, prestasi adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan kemauan untuk terus mencoba, meski pernah gagal berkali-kali.
Dari proses tersebut, ia memetik pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan keyakinan untuk terus melangkah.
Ke depan, Roni bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Lampung, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Ia ingin membuktikan bahwa latar belakang sekolah bukanlah batas, melainkan titik awal dari perjalanan panjang yang dibangun dengan usaha dan kepercayaan pada proses.
“Buat saya, belajar bukan cuma soal nilai,” ujarnya. “Tapi tentang bagaimana proses itu membuka pintu kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.” [Fiona Florencia/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda