Berita Foto

Prinsip Savoir Vivre, Savoir Faire, dan Savoir Etre

Prinsip Savoir Vivre, Savoir Faire, dan Savoir Etre

Endang Ikhtiarti

Dalam kehidupan masyarakat Prancis banyak prinsip dasar yang berkaitan dengan norma dan kebudayaan, warisan nenek moyang mereka sejak dahulu kala.

Banyak norma dan kebudayaan itu yang perlu kita teladani, yang bisa kita  ambil sisi baiknya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari hari, dan kita tinggalkan sisi yang kurang cocok dengan  kehidupan kita.

Ada tiga hal yang perlu kita cermati dalam hal ini yaitu prinsip savoir etre, savoir faire dan savoir vivre yang hampir sama dengan nilai budaya kita.

Savoir etre (kemampuan) adalah atribut yang melekat pada pribadi manusia yaitu kemampuan atau kapabilitas. Kapabilitas adalah kemapuan  interpersonal yang  juga disebut soft skill atau kemampuan berperilaku.

Kemampuan ini mencakup serangkaian kualitas pribadi dan kemampuan tata krama sosial yang memungkinkan seseorang untuk bertindak dan bereaksi dengan cara yang tepat terhadap lingkungan manusia maupun linkungan alam tempat tinggalnya.

Savoir-être ini yang merupakan kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dan menyesuaikan perilaku sesuai dengan karakteristik lingkungan, masalah yang terlibat, dan tipe orang yang bersangkutan.

Kemampuan  ini sangat penting bagi kemandirian, kemampuan berbagi dengan orang lain, serta kehidupan emosional.

Contoh keahlian diri yang bisa dilihat dari berbagai kemampuan adalah kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, mengelola waktu, berkreasi, berpikir kritis, kecerdasan emosional, menganalisis, menyelesaikan masalah, belajar mandiri dan beradaptasi baik dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Ini merupakan kemampuan yang dimiliki individu dan tidak dapat diukur atau dipelajari melalui pendidikan formal.

Untuk mendukung kinerja pekerjaan kemampuan ini juga merupakan rangkaian kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman serta latihan. Dengan menguasai kemampuan berperilaku, tugas-tugas di kantor akan lebih mudah karena kita mampu beradaptasi meningkatkan nilai diri, mengasah mental, bahkan bisa jadi sarana untuk menjalin relasi atau networking yang luas.

Selain itu kita jadi lebih mudah dalam menentukan karier yang sesuai dengan skill yang dimiliki. Kita bisa juga memiliki kapabilitas  bersaing lebih tinggi, memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving) dan bahkan kemampuan memimpin sebuah tim. Kemampuan ini juga tidak hanya bermanfaat dalam pekerjaan, tapi juga kehidupan personal.

Savoir-faire (keahlian). Secara harfiah  adalah kemampuan  mengetahui cara melakukan sesuatu atau pengetahuan praktis.  Ketika seseorang memiliki kemampuan savoir faire, ia memiliki kepekaan diri sekaligus sensibilitas jiwa yang dapat menyesuaikan diri terhadap ragam lingkungan dengan norma- norma atau tata cara sesusai degan konteks sosial.

Dalam arti mempunyai kompetensi atau pengalaman dalam melaksanakan suatu kegiatan itu.  Contoh savoir faire itu misalnya tahu bagaimana memecahkan masalah secara praktis. Savoir faire ini mengekspresikan perpaduan unik antara kemampuan praktis, kecerdasan, dan ketenangan batin.

Dalam kemampuan savoirfaire ini kepercayaan diri yang tenang yang akan membantu seseorang menghadapi situasi dengan damai.

Contonya bisa memilih kata-kata yang tepat, bertindak dengan bijaksana sekalipun pada saat itu berada di bawah tekanan. Kemampuan  ini bisa diturunkan atau diajarkan dari satu generasi ke generasi lainnya juga.

Savoir fairejuga memiliki kemampuan teknis (hard skills) yaitu kemampuan yang dipelajari melalui pendidikan, pelatihan, atau pengalaman. Kemampuan savoir faire ini seringkali dapat diukur dan berhubungan langsung dengan tugas-tugas yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan.

Dan lebih mudah dipelajari melalui pendidikan formal. Kita bisa mendapatkannya di sekolah, kuliah, pelatihan, atau kursus bersertifikat.

Di Prancis sendiri, savoir-faire berarti kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman dalam berbagai masalah praktis saat melakukan sesuatu. Di sini orang bisa mengetahui dan mempraktikkan aturan kesopanan dan tata krama dalam situasi sosial.

Misalnya budaya saling menyapa yang merupakan bagian dari sopan santun penghargaan akan nilai sosial, serta ungkapan rasa hormat.  Misalnya menyapa secara formal “Bonjour” dan,” Salut” yang biasanya hanya diucapkan kepada teman atau kerabat dalam situasi tidak formal.

Namun ada tanda salam atau menyapa memalui cium pipi kanan dan pipi kiri yang disebut bijou baik laki- laki atau Perempuan. Dan tradisi bijou ini tidak cocok untuk dipraktekkan di negara kita kecuali cium pipi antara perempuan dengan perempuan.

Contoh lain dalam mewujudkan kemampuan savoir faire di Prancis misalnya, mereka sangat menjunjung tinggi tradisi dan budaya terkait waktu makan. Masyarakat Prancis bahkan dapat menghabiskan waktu selama 1–2 jam untuk makan siang.

Menghargai waktu makan adalah salah satu tradisi berharga.  Hal ini karena waktu makan digunakan tidak hanya untuk sekadar menyantap makanan, tetapi juga sebagai kesempatan bersosialisasi dan membangun hubungan yang baik.

Savoir-Vivre (etiket) adalah suatu yang merujuk pada pengetahuan yaitu etiket bagaimana berperilaku dengan benar dalam masyarakat yang beradab. Hal ini berhubungan dengan kualitas seseorang dalam mengetahui dan menerapkan aturan etika kesopanan serta tata krama dalam situasi sosial.

Salah satu kualitas yang sering membuat seseorang terasa menyenangkan dalam pergaulan adalah kemampuannya membawa diri. Termasuk  memahami kapan perlu berbicara dan kapan lebih baik mendengarkan.

Lalu mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi, menjaga kenyamanan orang lain tanpa terkesan dibuat-buat, serta menunjukkan sikap yang tenang dan penuh penghargaan.

Dalam tradisi Prancis, kemampuan semacam ini lebih dikenal sebagai savoir-vivre, yakni seni menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan orang lain secara pantas serta beradab di ruang sosial.

Kemampuan ini juga bagian dari tata hidup sosial yang mencakup kesopanan, pengendalian diri, kebersihan, tata cara makan, cara berpakaian, hubungan sosial, hingga perilaku pribadi.

Orang Prancis menilai sesuatu dianggap tidak pantas ketika menimbulkan kejengkelan atau rasa tidak nyaman bagi orang lain, sementara orang yang memiliki savoir-vivre mampu membangun hubungan secara serasi, akrab, dan alami.

Dalam banyak kebudayaan, termasuk Indonesia, kemampuan semacam itu kerap dianggap sebagai tanda kedewasaan sosial. Kita mengenal ungkapan seperti “tahu diri”,  “mengerti posisi”,  “jangan terlalu frontal”, atau “pandai membawa diri dalam berbagai suasana”.

Ungkapan-ungkapan itu lahir dari kebutuhan yang wajar dalam hidup bersama. Sebab, pergaulan sosial memang tidak akan berjalan sehat jika setiap orang hanya mengikuti ego sendiri dan merasa paling benar. [Endang Ikhtiarti, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila]

Sumber: https://www.aussieinfrance.com/2017/01/fridays-french-savoir-faire-savoir-vivre-savoir-etre-know-how-expertise-interpersonal-skills/

https://www.scribd.com/document/245251198/Du-etre-au-savoir-etre-Henri-Boudreault-pdf#google_vignette

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda