Oleh Muhammad Irfan Makruf, Mahasiswa Program Studi Doktor Biologi UGM
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat kenekaragaman anggrek dunia. Diketahui ada sekitar 5.000 spesies anggrek tumbuh di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di balik pesona keindahannya, banyak anggrek spesies yang kini menghadapi ancaman serius akibat perusakan habitat dan perdagangan liar.
Di balik rimbunnya hutan tropis Indonesia, tersebar bunga-bunga anggrek spesies yang memikat dengan bentuk dan warna beranekaragam. Sayangnya, pesona ini menjadikannya sasaran pemburu yang membuat kelestariannya terancam.
Secara global jumlah anggrek diperkirakan mencapai 30.000 spesies yang tersebar hampir di seluruh benua, kecuali Antartika. Keragaman ini menjadikan anggrek sebagai kelompok tumbuhan dengan jumlah spesies terbesar kedua di dunia dan sangat penting dalam keanekaragaman hayati dunia.
Secara umum, berdasarkan cara hidupnya anggrek dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu anggrek terestrial yang tumbuh di tanah dan anggrek epifit yang hidup menempel pada inangnya.
Beragam jenis anggrek teretrial seperti Grammatophyllum dan Paphiopedilum, serta anggrek epifit seperti Dendrobium, Vanda, dan Phalaenopsis telah lama dibudidayakan sebagai tanaman hias, bunga potong, maupun dekorasi ruangan karena keindahan bunganya yang khas.
Kondisi iklim tropis dengan curah hujan tinggi, hutan alami yang luas, serta variasi habitat yang beragam di setiap wilayah menjadikan Indonesia sebagai tempat yang sangat ideal untuk pertumbuhan anggrek. Pulau Papua menjadi wilayah dengan keragaman anggrek tertinggi, yang mencapai ribuan spesies yang sebagian besar bersifat endemik.
Pulau Kalimantan juga dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman anggrek di Asia Tenggara. Dikedua pulau ini memiliki spesies-spesies anggrek yang unik dan endemik. Bahkan spesies Phalaenopsis amabilis diberi julukan oleh pemerintah sebagai puspa pesona Nasional dan menjadi gambar pada uang Rp. 100.000 bersama Coelogyne pandurata pada uang RP. 20.000.
Bagi kalangan kolektor, anggrek spesies dari alam memiliki nilai keunikan tersendiri yang berbeda dari anggrek hasil persilangan. Variasi bentuk bunga, ukuran, serta kelangkaannya membuat anggrek spesies menjadi incaran para penghobi. Ada anggrek yang berukuran sangat kecil hingga sering dijadikan hiasan dalam terarium, seperti Taeniophyllum glandulosum yang bahkan tidak memiliki daun dan bunganya hanya berdiameter sekitar 0,5cm.
Di sisi lain, terdapat pula anggrek raksasa seperti Grammatophyllum speciosum, yang dijuluki sebagai “Queen of Orchid”, dengan bentuk batang seperti tebu yang dapat mencapai tinggi tiga meter dan berat rumpun yang dapat mencapai lebih dari satu ton. Rentang ukuran yang ekstrem ini menunjukkan betapa menakjubkannya keragaman anggrek spesies di alam.
Selain memiiki nilai estetika, beberapa jenis anggrek juga memiliki manfaat lain bagi masyarakat. Dalam berbagai tradisi pengobatan di Asia terutama Tiongkok, sekitar 130 spesies anggrek telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
Beberapa jenis anggrek tanah diketahui mengandung senyawa fitokimia yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengobatan berbagai penyakit, mulai dari diabetes hingga peradangan. Di Indonesia, pemanfaatan anggrek juga ditemukan dalam kehidupan budaya masyarakat.
Di Papua, misalnya, beberapa spesies Dendrobium digunakan sebagai bahan pelapis untuk mewarnai kerajinan tas noken. Sementara itu di Sulawesi Tenggara, masyarakat Tolaki memanfaatkan akar spesies anggrek endemik sebagai bahan baku berbagai kerajinan tradisional.
Sayangnya, keberadaan anggrek spesies di alam kini dalam ancaman. Paphiopedilum menjadi genus dengan spesies terbanyak yang statusnya terancam punah (Endangered) berdasarkan IUCN Redlist. Populasi dari banyak spesies anggrek terus menurun akibat kerusakan habitat dan eksploitasi berlebihan. Pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan, mulai dari penebangan hingga pertambangan, menyebabkan banyak habitat alami anggrek hilang.
Kondisi ini diperparah oleh pengambilan anggrek langsung dari hutan secara berlebihan untuk memenuhi permintaan pasar kolektor. Tanpa pengelolaan yang bijak dari pemerintah, aktivitas ini dapat mempercepat kepunahan spesies. Ironinya anggrek membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak.
Anggrek memiliki siklus reproduksi yang kompleks. Biji anggrek berukuran sangat kecil dan hanya dapat berkecambah saat kondisi lingkungan sesuai dengan bantuan jamur khusus di tanah atau pada pohon inangnya. Dari total ribuan biji yang dihasilkan, hanya sebagian kecil yang akan berhasil tumbuh menjadi individu baru.
Proses pertumbuhan hingga mencapai usia berbunga pun dapat memakan waktu bertahun-tahun. Karena itu, kehilangan populasi di alam akan mempersulit proses regenerasi dalam waktu singkat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi budidaya pertanian sebenarnya membuka peluang untuk melestarikan anggrek spesies secara lebih berkelanjutan. Teknik kultur jaringan mampu memperbanyak anggrek dalam jumlah besar tanpa harus mengambil tanaman dari hutan.
Namun dalam praktiknya, banyak pembudidaya lebih tertarik menghasilkan anggrek hibrida yang memiliki warna dan bentuk bunga lebih mencolok. Jika tren ini terus berlanjut tanpa upaya memperbanyak spesies asli, bukan tidak mungkin anggrek alam perlahan tergeser oleh varietas hasil persilangan.
Karena itu, upaya konservasi anggrek perlu menjadi tanggung jawab bersama. Peneliti memiliki peran penting dalam mendata dan mengidentifikasi kekayaan anggrek di alam sebelum punah. Pemerintah perlu memperkuat perlindungan habitat serta mengawasi perdagangan anggrek liar.
Sementara itu para penghobi dan kolektor dapat berkontribusi dengan memelihara anggrek secara bertanggung jawab dan mendukung budidaya anggrek spesies dari hasil perbanyakan, bukan dari pengambilan langsung di hutan.
Pada akhirnya, anggrek bukan hanya sekadar tanaman hias untuk memperindah halaman atau ruang tamu. Anggrek spesies adalah bagian dari kekayaan hayati Indonesia yang tak ternilai. Keragaman anggrek spesies juga dapat menjadi daya tarik untuk peneliti dan turis luar negeri ke Indonesia.
Jika kerusakan hutan dan pengambilan anggrek dari alam terus berlangsung tanpa regulasi dari pemerintah, bukan tidak mungkin sebagian anggrek Indonesia akan punah sebelum sempat dikenal secara luas.
Sebelum anggrek tersebut menjadi wacana yang hanya dapat diceritakan dan ditunjukkan fotonya kepada anak cucu kita. Kita harus berperan aktif dalam menjaga kelestariannya dengan menguatkan kegiatan konservasi dan budidaya anggrek spesies secara legal. []

Tinggalkan Komentar Anda