Nusantara

Perjalanan Latifah & Liza Siswi SMP Islam Az Zahra Raih Perak Final OPSI Nasional 2025

Perjalanan Latifah & Liza Siswi SMP Islam Az Zahra Raih Perak Final OPSI Nasional 2025

Tim Olimpiade SMP Islam Az Zahra Bandar Lampung. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Perjalanan dua siswi Sekolah Islam Az Zahra, Latifah Khoirunnisa Nurjannah dan Liza Arzikni Firliansyah, selama sepekan mengikuti rangkaian Final Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Nasional 2025 di Universitas Surabaya (Ubaya) menyimpan banyak cerita menarik.

Keduanya akhirnya berhasil membawa pulang Medali Perak melalui penelitian “Green Life Capsule”, sebuah inovasi media tanam berbahan limbah pelepah pisang Cavendish, Senin, 24/11/20225.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 9 November, ketika tiga tim dari Az Zahra berangkat menuju Surabaya. Keesokan harinya, Latifah dan Liza menjalani registrasi peserta dan langsung bersiap membangun stan penelitian.

Dekorasi hingga perlengkapan penelitian dibawa dari Lampung, termasuk tapis dan produk penelitian yang dikirim melalui jalur darat oleh pihak sekolah sebagai bentuk dukungan penuh.

Pada 11 November, pameran penelitian resmi dibuka. Salah satu tantangan besar pada tahap ini adalah larangan bagi guru pembimbing untuk masuk ke area penjurian. Hanya siswa yang diperbolehkan menyambut dan menjelaskan penelitian kepada ke-6 dewan juri yang berkeliling.

Tanpa pendamping, keduanya tampil percaya diri menjelaskan manfaat, metode, hingga hasil riset mereka.

Setelah sesi penjurian selesai, pameran dibuka untuk umum dan stand milik Latifah dan Liza ramai dikunjungi oleh mahasiswa, orang tua, hingga tamu dari berbagai kalangan.

Hari berikutnya diisi dengan pameran penuh, sementara jadwal presentasi dibagi menjadi dua hari.

Kelompok Latifah dan Liza mendapat giliran pada hari Kamis. Menariknya, sebelum jadwal presentasi dimulai, mereka ditemui oleh salah satu dosen Bioteknik Ubaya yang mewawancarai keduanya seputar metode penelitian, pH media tanam, serta proses pembuatan kapsul.

Pertemuan tersebut justru menjadi pemanasan dan membantu mereka mematangkan persiapan. Dosen tersebut bahkan memberikan bingkisan berupa bunga anggrek sebagai bentuk apresiasi.

Menjelang presentasi, tantangan kembali muncul. Sekitar 30 menit sebelum memasuki ruang presentasi, mereka menerima materi tambahan yang harus dipahami dan dihafalkan dalam waktu singkat.

Meskipun sempat gugup, latihan intensif, termasuk simulasi presentasi di sekolah yang menurut keduanya justru menjadi tahap tersulit namun semakin membuat mereka lebih siap.

Simulasi yang dilakukan di depan para guru itu menjadi pengalaman penting untuk membangun mental dan kesiapan mereka.

Saat hari H presentasi tiba, Latifah dan Liza mengaku deg-degan. Namun suasana ruang presentasi yang hangat serta sambutan juri yang ramah membuat mereka cepat beradaptasi.

Mereka membawakan materi dengan baik dan mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan lancar.

Sesi presentasi mereka bahkan berlangsung lebih dari 30 menit hingga membuat guru pembina, Ustazah Putri, sempat khawatir saat menunggu. Namun kekhawatiran itu terbayar tuntas setelah presentasi dinilai sangat memuaskan.

Di balik perjalanan mereka, pihak sekolah juga menunjukkan komitmen menjaga kesehatan peserta selama perlombaan.

Latifah dan Liza dijaga pola makannya dan dilarang minum es atau mengkonsumsi jajanan yang dapat menyebabkan radang hingga rangkaian presentasi selesai, demi memastikan kondisi tubuh tetap prima saat tampil di hadapan juri.

Hari berikutnya, para finalis mengikuti kegiatan Tour the Lab dan mengunjungi berbagai fakultas di Ubaya. Mereka berkesempatan melihat langsung berbagai laboratorium, mencoba praktik bioteknologi seperti penggandaan DNA, hingga ikut simulasi sidang di Fakultas Hukum.

Pengalaman ini menjadi penutup yang memperkaya wawasan keduanya sebagai peneliti muda.

Seluruh rangkaian selama hampir satu minggu itu menjadi perjalanan penuh pelajaran bagi Latifah dan Liza.

Selain berbuah medali perak, OPSI 2025 meninggalkan pengalaman berharga soal kerja sama tim, komunikasi, manajemen tekanan, dan keberanian diri tampil sebagai peneliti muda di panggung nasional. [Delima Kurnia]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda