Asyta Nurul Zahra
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Mahasiswi angkatan 2024 Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung (Unila), Asyta Nurul Zahra, berhasil meraih juara II dalam Lomba Desain Twibbon Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang diumumkan pada tanggal 21 Mei 2026 lalu.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian pertama Asyta dalam kompetisi desain tingkat nasional setelah sebelumnya sempat gagal pada perlombaan serupa.
Asyta mengaku mulai tertarik dengan dunia desain sejak duduk di bangku SMA.
Namun saat itu, ia hanya berani mengikuti lomba tingkat antar sekolah. Lingkungan perkuliahan yang aktif mengikuti berbagai kompetisi kemudian menjadi motivasi tersendiri baginya untuk mencoba ajang yang lebih besar.
“Karena di lingkungan kuliah banyak yang ikut lomba tingkat nasional dan internasional, jadi saya ikut termotivasi juga untuk mencoba,” ujarnya kepada wartalampung.id hari ini.
Dalam kompetisi tersebut, terdapat sekitar 15 peserta yang berpartisipasi diminta mengangkat tema “Tiket Keberhasilan”.
Asyta kemudian memadukan tema tersebut dengan konsep film Wonka yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan unsur tiket dalam alur ceritanya.
“Awalnya saya sempat ragu menggabungkan konsep Wonka dengan tema utama lomba, takut malah tidak sesuai. Tapi akhirnya saya coba saja dan ternyata hasilnya bisa diterima,” katanya.
Selain itu, Asyta juga menegaskan pentingnya menjaga orisinalitas karya dalam proses desain.
Menurutnya, karya yang dibuat dari ide sendiri akan terasa lebih autentik dan memuaskan dibandingkan menggunakan bantuan instan.
“Kalau saya yang penting jangan pakai AI supaya lebih otentik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ciri khas desain yang dimilikinya terletak pada penggunaan highlight, detail-detail visual, dan elemen desain yang ramai dalam satu tampilan.
Selama mengikuti perlombaan, tantangan terbesar yang dihadapi Asyta bukan berasal dari faktor teknis, melainkan rasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri.
Dalam proses pengerjaan desain, ia juga sempat meminta pendapat dari pasangannya untuk menentukan pilihan visual terbaik sebelum akhirnya mengirimkan karya.
Tak hanya membawa pulang prestasi, kompetisi tersebut juga memberikan pelajaran penting bagi Asyta untuk lebih percaya diri terhadap kemampuan sendiri dan tidak terlalu membandingkan karya dengan milik orang lain.
Ia bahkan mengaku sempat merasa minder ketika melihat karya peserta lain yang diunggah menjelang batas akhir pengumpulan.
“Saya sempat takut ada yang lebih bagus, tapi akhirnya saya tetap kumpulkan saja daripada terlambat. Dari situ saya belajar untuk percaya dengan desain sendiri,” tuturnya.
Menutup wawancara, Asyta memberikan pesan kepada mahasiswa maupun pelajar yang ingin mulai belajar desain agar tidak takut mencoba dan terus berkarya.
“Desain itu nggak ada salah atau benar. Semua tergantung sudut pandang orang yang melihat,” pungkasnya. [Mirliana Amira]

Tinggalkan Komentar Anda