Berita Foto Opini

Opini: Respons Orang Tua Saat Anak Jadi Pelaku atau Korban Perundungan (Bullying)

Opini: Respons Orang Tua Saat Anak Jadi Pelaku atau Korban Perundungan (Bullying)

Hindun Susilawati

Hindun Susilawati

Oleh Hindun Susilawati (Penulis lepas dan pegiat Sygma Learning Consultant)

Kasus perundungan (bullying) marak terjadi di Indonesia. Kasus kekerasan ini juga terjadi di Provinsi Lampung.

Akhir Oktober 2003 lalu beredar video viral bullying yang dilakukan remaja SMP dan SMA di Lampung Tengah.

Sangat disayangkan orang tua korban tidak mengetahui anaknya menjadi korban perundungan. Orang tua mengetahui setelah video itu viral.

Pada akhir Oktober 2023 juga terjadi tawuran yang telah menewaskan seorang siswa SMK BLK Bandar Lampung. Pelaku kekerasan seperti tidak memiliki rasa welas asih.

Tentu perilaku ini menjadi tanggung jawab orang tua, guru, dan orang dewasa di sekitarnya. Bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini?

Bagaimana sikap kita bila anak kita menjadi pelakunya? Bagaimana mengetahui anak kita sebagai korbannya? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin yang ada di benak orang tua saat ini.

Respons Orang Tua

Melihat fenomena kenakalan remaja saat ini, sikap sebagai orang tua sebaiknya menyadari pentingnya kehadiran orang tua. Orang tua harus hadir terdepan dalam menjaga anaknya dengan cara menguatkan keimanan.

Karena keimanan yang benar akan membuahkan akhlak mulia. Orang tua seharusnya turun tangan dengan memberikan pendidikan dan teladan untuk anak-anaknya.

Saat ini banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan dan lupa pada tugas utamanya sebagai orang tua. Orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sekolah terbaik dan berharap anaknya menjadi baik.

Tidaklah salah orang tua menyekolahkan ke sekolah terbaik. Namun, jangan lupa pendidikan dasar bermula dari rumah.

Bila kita hitung waktu yang dihabiskan anak dalam hidupnya saat ini, tentu mereka banyak menghabiskan waktu di rumah.

Manusia memiliki otak cermin, sehingga apa yang ia lihat dan dengar akan diikuti. Anak akan mengikuti perilaku orang tuanya, karena setiap hari itu yang mereka lihat berulang-ulang.

Orang tua harus menyadari hal itu. Berikan contoh yang baik kepada anak bila kita ingin mereka menjadi anak yang baik.

Bila kita biasa memperlakukan anak dengan kekerasan, bukan tidak mungkin mereka menjadi pelaku kekerasan. Meskipun kita sekolahkan mereka di sekolah terbaik.

Setelah kita memberikan pondasi dasar keimanan yang kuat dan memberikan teladan yang baik, selanjutnya kita doakan. Doakan agar anak kita diberikan perlindungan dari pergaulan yang tidak baik dan menjadi anak yang berakhlak mulia.

Doa orang tua sangat penting karena kita tidak mampu menjaga dan mengawasi mereka dua puluh empat jam. Kita hanya dapat mengawasi mereka ketika bersama kita. Manfaatkan kebersamaan itu dengan memberikan pendidikan agama, moral, dan keteladanan.

Saat Anak Pelaku Bullying

Sebagai orang tua tentunya kita tidak ingin anak kita menjadi pelaku bullying. Namun bila itu terjadi, yang tidak boleh kita lakukan adalah membela, mencari pembenaran perilaku anak kita, langsung menginterogasi anak, dan menghukumnya dengan keras.

Respons seperti itu justru membuat anak semakin menjauh dari kita dan salah jalan.

Bila kita membela dan mencari pembenaran, anak kita akan semakin besar kepala dan menganggap enteng perilaku kekerasan pada orang lain.

Anak akan berpikir, “Ah, nanti juga diberesin sama orang tuaku.”

Sebaiknya kita juga tidak langsung menginterogasi. Dengan langsung menginterogasi, anak tidak akan menjawab pertanyaan kita. Kalaupun menjawab, mereka akan berbohong karena takut akan dimarahi dan dihukum.

Sebaiknya orang tua mengajak anak berbicara hal-hal ringan terlebih dahulu untuk memulai pembicaraan supaya membangun kedekatan. Setelah suasana mencair ajak berdiskusi tentang apa yang ia lakukan.

Tanyakan alasan anak melakukan bullying dengan baik-baik. Berikan gambaran akibat dari apa yang telah ia perbuat. Munculkan rasa empati anak, sehingga ia menyesal, mau meminta maaf pada korban dan tidak mengulangi kembali.

Bangun kembali kedekatan dengan anak agar kita dapat mengarahkan mereka. Caranya dengan sering mengajak bicara dan jadilah pendengar yang baik untuk mereka.

Sesekali bermainlah bersama mereka. Bila anak sudah merasa dekat dan nyaman, mereka akan percaya kepada kita dan mau bercerita apa pun. Mereka juga akan mudah mendengarkan dan mengikuti arahan dari kita.

Dalam buku Let’s End Bullying: Memahami, Mencegah, dan Mengatasi Bullying, Andri menuliskan beberapa poin yang harus dilakukan orang tua bila anak menjadi pelaku bullying.

Di antaranya:

  1. Pahamkan bahwa perilaku bullying itu berbahaya
  2. Berdiskusi dengan anak tentang apa yang ia inginkan
  3. Berdiskusi dengan sekolah tentang keprihatinan kita
  4. Jelaskan kepada anak bahwa bullying tidak dapat diterima oleh siapa pun
  5. Putuskan bersama tentang sanksi yang akan diberikan bila anak mengulangi prilaku bullying
  6. Kembangkan dan konsisten dengan peraturan keluarga tentang perilaku baik
  7. Luangkan waktu lebih banyak dengan anak
  8. Ajak bicara apa saja yang dilakukan anak bersama temannya
  9. Tumbuhkan bakat anak dengan memberinya aktivitas positif
  10. Jadilah teladan bagi anak
  11. Jika dirasa berat, silakan mengunjungi psikiater.

Cara Mendeteksi dan Menangani Korban Bullying

Orang tua hendaknya memperhatikan perilaku sehari-hari anaknya, sehingga bila ada sikap/ perilaku yang tidak biasa segera dapat mendeteksinya. Sangat disayangkan bila kita tidak mengetahui anak kita menjadi korban bullying.

Seperti kasus di Lampung Tengah, orang tua baru mengetahui anaknya sebagai korban perundungan setelah videonya viral.

Biasanya korban akan menunjukkan perilaku yang berbeda. Berikut adalah ciri korban yang disampaikan oleh Aniqq, seorang psikolog pada acara webinar Amazing Familly Bach#2.

Di antaranya anak mengalami perubahan sikap, mengalami gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan, menghindari pembicaraan tentang teman, krisis kepercayaan diri, prestasinya menurun, dan memiliki luka fisik. Sebagai orang tua kita harus peka terhadap kondisi anak.

Semua orang tua tentunya tidak ingin anaknya menjadi korban. Namun janganlah langsung marah kepada pelaku.

Hal itu dapat memberikan dampak negatif, bisa jadi anak akan semakin di-bully oleh pelaku karena telah mengadukan pada orang tua. Itulah yang menyebabkan korban tidak mau bercerita pada orang tua.

Bila kita langsung membela anak dengan memarahi pelaku, anak akan selalu bergantung pada kita. Ia akan menjadi anak yang lemah.

Baru-baru ini ada kasus orang tua korban perundungan memarahi pelaku hingga pelaku trauma. Pelaku merupakan anak berusia tujuh tahun dimarahi dan diancam oleh orang tua korban.

Tentu ini menjadi kasus bullying lagi, bukan memberikan solusi yang baik. Seharusnya orang tua memberikan efek jera dengan cara memberikan nasihat yang baik dan berkomunikasi dengan orang tua pelaku.

Orang tua pelaku sebaiknya dapat menerima masukan dan mulai memperbaiki perilaku si anak.

Bila anak mengadu kepada kita bahwa ia menjadi korban bullying, validasi informasi itu. Munculkan rasa empati kita pada anak, kuatkan imunitas mental anak.

Misalnya, anak bercerita bahwa ia diledek dan dijauhi. Sebagai orang tua harus validasi dahulu perasaan anak.

Beri pelukan bila anak bersedih. Biarkan anak menumpahkan rasa sedihnya terlebih dahulu. Kemudian kuatkan mentalnya dengan memberikan nasihat bahwa ledekan itu tidak memengaruhi hidupnya.

Motivasi anak untuk terus berbuat baik dan berprestasi. Bila anak dikucilkan, ajari untuk mencari teman yang lain.

Bila anak mengalami bullying fisik, ajari anak untuk membela diri bukan membalas. Contohnya bila anak dicekik, minta ia untuk mendorong pelaku.

Bisa juga untuk menghindar dan melaporkan pada orang dewasa di sekitar agar tidak terjadi bullying fisik. Bila bullying telah menyebabkan ganguan mental seperti sulit tidur dan ketakutan berlebihan, kita dapat membawa anak untuk psikoterapi.

Kita juga dapat melaporkannya kepada pihak yang berwenang bila ada efek bullying yang parah, seperti cerdera fisik dan mental.

Satu hal yang paling penting yakni membangun kedekatan dengan anak agar anak tidak menjadi pelaku dan korban bullying. Bila kedekatan telah terjalin, kita akan mudah mengarahkan anak untuk berbuat baik dan memiliki sikap mental yang kuat.

Biasanya pelaku bullying adalah korban dari bullying sebelumnya. Pelaku merasa dirinya lebih kuat sehingga dapat mengintimidasi orang lain yang dirasa lemah.

Bullying adalah luapan emosi yang tidak tepat. Karena itulah, peran penting orang tua dalam memutus mata rantai bullying ini yakni dengan kembali memperhatikan anak-anaknya.

Hadirlah dengan segenap jiwa dan raga untuk mereka, karena sejatinya mereka sangat butuh perhatian dan kasih sayang kita. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda