Setia Rini

Oleh Setia Rini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung)
Sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik untuk saya sebagai seorang dosen sekaligus penggiat bahasa Prancis. Setelah lulus kuliah, saya jadi apa?
Sebuah pertanyaan yang seharusnya dapat dengan mudah dijawab oleh seluruh mahasiswa. Tapi nyatanya pertanyaan itu sangat sulit untuk dijawab, bahkan banyak mahasiswa yang tidak bisa menjawab.
Sebagiannya lagi malah pesimistis dengan jurusan yang sudah mereka ambil dan sedang mereka tempuh saat ini. Realitanya bahkan lebih memprihatinkan lagi.
Jangankan memikirkan setelah lulus kerja apa dan menjadi apa. Sekadar menyelesaikan studi saja banyak mahasiswa saat ini yang tergopoh-gopoh.
Sejauh pengalaman selama ini dalam membimbing skripsi yang masih terhitung sangat seumur jagung, saya perhatikan bahwa mental mahasiswa seolah tiba-tiba berjatuhan ketika menghadapi yang namanya skripsi.
Dan inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab mahasiswa tidak segera lulus tepat waktu. 4 SKS menjadi momok menyeramkan setelah mahasiswa menyelesaikan sekitar 140 SKS selama studi mereka 3 atau 3,5 tahun.
Pertanyaan setelah lulus kuliah saya jadi apa berputar-putar di kepala saya tatkala minggu lalu saya mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan oleh fakultas (FKIP).
Sebuah kuliah umum yang menurut saya sangat santai, ringan, tapi berbobot dan penuh dengan banyak perenungan mendalam.
Prof. Muchlas Samani, M.Pd., dosen senior dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang pembawaannya begitu hangat, santun, dan saya sangat yakin bahwa beliau adalah sosok kutu buku.
Wawasannya sangat luas dan begitu terlihat sepanjang beliau mengisi materi kuliah umum. Dan saya teringat salindia (slide) kedua yang ia tampilkan dengan judul “Mengapa anak harus sekolah-bahkan sampai kuliah?”
Sebagai seorang dosen, tentu saya merasa sangat tertantang dengan pertanyaan ini. Kalau saya tidak bisa menjawab, rasanya saya sendiri pun menyangsikan profesi saya sebagai seorang dosen.
Pertanyaan Prof. Muchlas tersebut sangat berkaitan erat tentunya dengan pertanyaan yang saya tuliskan di awal tadi. Setelah lulus kuliah saya jadi apa?
Bahkan beberapa dosen saling berargumentasi ketika pertanyaan itu dilemparkan kepada peserta kuliah umum. Ada yang menjawab, “anak-anak di Indonesia harus sekolah bahkan sampai kuliah karena negara kita adalah negara yang menuntut adanya ijazah agar dapat bekerja”.
Lalu ada lagi yang menjawab, pendidikan untuk anak-anak kita pada dasarnya tidak bisa dipenuhi seluruhnya oleh orang tua. Orang tua membutuhkan sekolah dan bangku kuliah untuk memenuhi kekosongan tersebut.
Dengan demikian, pendidikan yang dibutuhkan terpenuhi dengan sempurna baik dari orang tua maupun dari lembaga sekolah dan perguruan tinggi.
Diskusi ini berlangsung cukup lama karena masing-masing peserta kuliah umum saling berpendapat dan mengungkapkan isi pikirannya. Prof. Muchlas kembali melemparkan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan.
“Bapak-Ibu sebagai dosen, menurut Bapak-Ibu, perlukah anak-anak generasi saat ini kuliah? Menurut bapak ibu, apakah anak-anak yang berprestasi di kelas pasti akan sukses ketika berkarier? Saya lihat banyak anak-anak yang waktu kecilnya bandel, bermasalah, sering tidak naik kelas, hampir DO, tapi sekarang jadi direktur, jadi manajer. Bapak-Ibu coba cek hasil tracer study di prodi Bapak-Ibu, apakah lulusan-lulusannya bekerja di bidang yang sesuai dengan prodi?”
Pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan Prof. Muchlas semakin menggelitik kami saat itu. Bahkan saya pribadi semakin merenung dari hari ke hari, berharap dapat menemukan jawaban yang tepat dan bijak atas pertanyaan-pertanyaan tadi.
Jika saya rangkum pertanyaan tadi menjadi satu muara: setelah lulus kuliah saya jadi apa?
Menurut saya sebagai seorang pendidik di perguruan tinggi yang tentu saja untuk sampai pada profesi ini saya juga melalui sekian anak tangga di sekolah dan di perguruan tinggi.
Dari TK di kampung kelahiran saya di Lampung Tengah, studi master saya di UPI Bandung, dan akhirnya saya terjun di dunia pekerjaan dengan menjadi dosen, saya rasa saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu.
Mengapa anak harus sekolah, bahkan sampai kuliah? Karena anak-anak membutuhkan banyak ilmu di sepanjang hayat kehidupan mereka yang tidak bisa mereka dapatkan hanya dari orang tua dan keluarga maupun lingkungannya.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu dosen pada kuliah umum tersebut, Ujang Effendi, M.Pd. dari Prodi PGSD. Oleh karena itu, penting bagi anak-anak untuk menuntut ilmu bahkan sampai perguruan tinggi.
Berbagai pengalaman selama di bangku sekolah sampai bangku kuliah tidak akan dapat tergadai oleh apa pun itu. Anak-anak akan mempelajari banyak hal setiap harinya yang tentu saja peran orang tua akan tetap menjadi garda terdepan bagi keberhasilan mereka.
Bukankah Rasulullah saw bersabda, “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim.” (HR Ibnu Majah Nomor 224).
Menuntut ilmu agama untuk bekal akhirat dan ilmu dunia yang ditempuh dari pendidikan dasar sampai perkuliahan, baik di lembaga formal maupun nonformal. Selain itu, menuntut ilmu dalam Islam memiliki beberapa keutamaan yang pasti diketahui dan dipahami kita semua sebagai seorang muslim.
Bahwa orang berilmu diangkat derajatnya, orang berilmu akan diberi kebaikan dunia dan akhirat, orang berilmu dimudahkan jalannya ke surga, dan orang berilmu memiliki pahala yang kekal.
Ketika awal mula pertanyaan ini sudah terjawab dengan yakin, ternyata ada pertanyaan lanjutan yang memang membuat banyak orang tua dan anak-anak mereka merasa ragu. Setelah lulus kuliah, saya jadi apa?
Hal ini menjadi dilema yang besar bagi anak-anak muda saat ini juga orang tua bahwa apakah dengan kuliah akan menjamin anak-anak mereka mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan? Sebenarnya pertanyaan ini sangat mudah untuk dijawab bagi saya sebagai dosen.
Seorang dosen yang bertugas mentransfer berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan rumpun bidang keilmuan prodi dan membentuk karakter mahasiswa saya sehingga ketika lulus mereka memiliki kompetensi seperti yang termaktub pada kurikulum.
Saya yakin, setiap prodi di mana pun dengan bidang ilmu apa pun pasti memiliki target capaian atau kompetensi yang harus dikuasai oleh mahasiswa ketika mereka lulus.
Artinya, setiap mahasiswa telah dibekali oleh prodinya masing-masing dengan skill yang pastinya dibutuhkan oleh dunia kerja saat ini. Dengan demikian, logikanya, ketika mahasiswa lulus dengan kompetensi yang sudah dimiliki tersebut, akan dengan mudah terserap oleh dunia kerja sehingga tidak ada lulusan yang menganggur.
Namun faktanya, memang banyak lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan ketika lulus. Jika pun ada yang langsung terserap di dunia kerja setelah lulus, biasanya tidak mencapai 50 persen dan umumnya juga bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan bidang keilmuan saat kuliah.
Lalu sekian persen lainnya menganggur bahkan tertinggal jauh dengan anak-anak yang justru malah tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Dan ini fakta!
Setelah saya lakukan sebuah penelusuran baik secara langsung kepada alumni melalui wawancara maupun Gform, percakapan WA, dan lain sebagainya, saya memperoleh data bahwa nyatanya bidang pekerjaan di bidang bahasa Prancis tersedia sangat banyak di dalam maupun di luar negeri.
Saya menemukan kecenderungan bahwa mahasiswa yang ketika kuliah memiliki motivasi besar, mandiri, mental yang baik dan sehat, serta tahu potensi dan kemauan serta kesukaan yang ada pada dirinya, adalah lulusan yang dengan cepat terserap dunia kerja maupun mereka sendiri yang menciptakan lapangan pekerjaan.
Ketika mahasiswa tahu apa yang menjadi potensinya, tahu kemampuannya, tahu apa yang suka dilakukan dan membuatnya merasa senang, akan dengan mudah membuka diri untuk terus menjadi pribadi yang berkualitas.
Mereka semasa kuliahnya dengan optimal menguasai berbagai skill yang dibekali oleh prodi, bahkan secara mandiri mereka terus mengasah kemampuannya. Lalu, mereka akan mencari apa yang mereka mau dan mereka suka sehingga ketika mereka lulus, mereka tahu akan ke mana sekalipun pada bidang pekerjaan yang berbeda dengan yang mereka pelajari di bangku kuliah.
Masalahnya adalah, saya hanya menemukan tidak sampai 30 persen mahasiswa dari setiap angkatan yang memiliki komitmen seperti itu. Komitmen besar dari masing-masing individu untuk membuat dirinya memiliki value ketika lulus.
Jadi, kalau ada pertanyaan, setelah lulus kuliah saya jadi apa, jawabannya ada pada diri masing-masing mahasiswa!
Apa yang sekarang kalian lakukan di bangku kuliah? Apakah sekadar formalitas kuliah atau menyibukkan diri untuk benar-benar menguasai skill khas prodi yang telah kalian pilih.
Apakah sekadar mengerjakan tugas dan menggugurkan kewajiban sebagai mahasiswa atau selalu memanfaatkan waktu untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus, mengikuti berbagai kompetisi dan produktif pada bidang yang kalian sukai.
Jawaban kalian akan menentukan menjadi apa kalian setelah lulus nanti. Man jadda wajada, barang siapa bersungguh-sungguh, dia pasti akan berhasil. []

Tinggalkan Komentar Anda