Setia Rini. | Dokumentasi Pribadi

Oleh Setia Rini (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila)
Bahasa Prancis sulit dipelajari. Bahasa Prancis tata bahasanya ribet. Kata bendanya ada maskulin dan feminin. Belum lagi antara tulisan dan ucapannya bagaikan langit dan bumi.
Bagaimana bisa beaucoup dibaca boku? Bagaimana bisa belle dibaca hanya bel? Dan bagaimana bisa indonésien dibaca angdoneziang?
Kenapa eau menjadi o, padahal dalam bahasa Inggris kita juga mengenal ada kata beauty yang dibaca biuti, eau menjadi iu.
Ternyata begitu menariknya mempelajari bahasa Prancis ya. Ribet, susah, kompleks, ruwet, beberapa ekspresi yang seringkali diucapkan siapa pun yang baru pertama kali mempelajari bahasa Prancis.
Tetapi saya yakin akan menjadi pengalaman yang menyenangkan ketika nanti sudah menguasai bahasa itu.
Rasanya luar biasa, seru, bahkan sangat menyenangkan lama kelamaan mempelajari bahasa negara paling romantis di dunia itu. Bahkan, banyak orang termasuk orang-orang Indonesia yang mempelajari bahasa Prancis saat ini dengan berbagai alasan mereka masing-masing.
Ada yang belajar bahasa Prancis karena ingin melanjutkan studi, untuk kepentingan traveling baik liburan maupun urusan pekerjaan.
Untuk hobi karena suka mempelajari bahasa asing, karena ingin mencapai suatu cita-cita atau profesi yang erat kaitannya dengan bahasa Prancis (diplomat, penerjemah, pengajar, pemandu wisata, bekerja di perusahaan Prancis, dan lain sebagainya).
Dan juga karena melihat peluang di masa depan yang semakin menjanjikan melalui kemahiran berbahasa Prancis.
Bahkan saat ini, di media sosial semakin ramai sekali dengan konten-konten dan parodi menggunakan bahasa Prancis. Berawal dari konten-konten artis atau para selebgram, youtuber, vlogger yang sedang melakukan liburan ke Prancis, begitu menarik hati para netizen betapa indahnya kota Eiffel itu.
Belum lagi ketika konten mereka berisi aktivitas berbelanja produk-produk terkenal Prancis yang harganya terkenal menjulang tinggi seperti Hermès [Ermes], Louis Vuitton [Lui Vitong], Chanel [Shanel], Christian Dior [Kristiang Dior (rkh)], Saint Laurent [Sang Lorong], dan lain-lain.
Fenomena tersebut menjadi ketertarikan sendiri bagi banyak figur yang menguasai bahasa Prancis untuk membuat konten bagaimana mengucapkan brand-brand tersebut dengan cara pengucapan bahasa Prancis yang benar.
Karena selama ini orang-orang Indonesia sendiri yang awam dengan bahasa Prancis mengucapkan brand-brand tersebut dengan pengucapan yang salah.
Misalnya saja Hermès dibaca umumnya seperti apa yang dituliskan Hermes, padahal yang benar adalah tanpa mengucapkan huruf H pada awal kata (h muet/ huruf h mati yang tidak dibaca), sehingga hanya diucapkan Ermés.
Ada lagi tren kuliner Prancis yang selama ini memang menjadi ciri khas Prancis yaitu croissant [kroasong]. Umumnya, orang-orang Indonesia menyebutkannya kroisan, padahal seharusnya diucapkan kroasong.
Pengucapan bahasa Prancis memang sangat kental dengan pengucapan sengau [-ng] seperti macaron [makarong], pain [pang], télévision [televisiong], prestation [prestasiong] dan lain-lain.
Inilah seni belajar bahasa Prancis menurut saya. Bukan hanya negaranya yang memang terkenal dengan seni dan sastra yang mendunia, tetapi bahasanya pun juga memiliki seni yang sangat tinggi.
Seni untuk mengucapkan setiap huruf vokal maupun konsonan dengan karakteristik pengucapan Prancis itu sangat seksi.
Huruf R dalam bahasa Prancis dengan simbol fonetik R terbalik /ʁ/ memiliki karakter pengucapan yang khas erkh.
Kalau saya mengajar di kelas terutama kelas pemula (mahasiswa semester 1), saya sampaikan kepada mereka beruntunglah orang Lampung asli yang memiliki karakter pengucapan R seperti orang Prancis.
Umumnya, mahasiswa suku Lampung asli akan lebih mudah dan natural mengucapkan R versi Prancis dibandingkan mahasiswa dengan suku atau bahasa ibu/bahasa pertama selain bahasa Lampung.
Selain karakter R, bahasa Prancis juga memiliki ciri khas sufiks –siong, yang sering sekali kita temukan pada kosakata berakhiran –tion seperti television [televisiong], démonstration [demongstasiong], prestation [prestasiong], association [asosiasiong], dan lain sebagainya.
Sufiks tersebut pada umumnya menunjukkan kelas kata benda dengan genre feminin dalam bahasa Prancis. Wow luar biasa sekali ya seni bahasa Prancis. Satu kata memiliki karakter ciri dan karakter pengucapan yang sangat berbeda dengan yang lain.
Bahasa Prancis sangat menarik bukan? Sehingga kenapa banyak sekali ditemukan konten parodi berbahasa Prancis di media sosial seperti Tiktok, terutama konten tentang makanan khas Prancis yang disandingkan dengan makanan khas Indonesia yang diucapkan dengan pengucapan bahasa Prancis.
Konten favorit saya misalnya, Tiktok @Ajeng.kamaratih_ yang memang menguasai bahasa Prancis, konten-konten berbahasa Prancis yang dibuat sebagai seorang figur terkenal tentu sangat membantu bahasa Prancis ini semakin dikenal dan disukai banyak orang.
Lalu Tiktok @Arieffyong yang juga banyak membuat parodi bahasa Prancis dengan pengucapannya yang khas, sangat menarik netizen dari berbagai usia dan latar belakang untuk mengenal bahasa Prancis.
Tanpa disadari, ternyata konten yang katakanlah sederhana, bisa menjadi sumber ilmu bagi banyak orang untuk mengenal bahasa asing, bahasa Prancis.
Banyak orang masih belum familiar dengan bahasa Prancis, tetapi saat ini dengan ramainya konten ringan tetapi berbobot tersebut, menjadi media yang sangat menarik untuk belajar bahasa Prancis.
Artinya, belajar bahasa Prancis tidak melulu harus rumit dan ribet ya, dan memang belajar bahasa Prancis tidak serumit dan seribet itu kok. Justru dengan adanya karakteristik-karakteristik yang dimiliki bahasa Prancis, membuat kita menjadi lebih mudah mempelajari dan menguasai bahasa Prancis.
Seru bukan bisa tahu bahasa Prancis? Tidak lagi mengucapkan televisien tetapi televisiong. []

Tinggalkan Komentar Anda