Nurhadis. | Ahmad Adnan Firdaus

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Nurhadis, jurnalis Kantor Berita MINA dan aktivis kemanusiaan untuk Palestina, menjadi narasumber Talkshow Millennial Peacemaker Forum di Aula Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Sabtu, 18/11/2023.
Nurhadis melihat pemberitaan media massa dunia dan Indonesia terhadap Palestina saat ini. Ia ini mengatakan, aksi perlawanan dari 7 Oktober 2023 ini bisa membuka mata dunia dan mengubah peta politik. Sebab, ini dianggap merusak normalisasi yang telah dilakukan oleh Israel ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim.
“Mudah-mudahan berdampak pada berubahnya peta politik sehingga dukungan untuk Palestina itu kembali, terutama negara-negara Arab yang sudah melakukan normalisasi dengan Israel,” kata dia.
Nurhadis mengatakan, berpihak kepada Palestina itu banyak dasarnya. Pertama, karena di Palestina ada Masjid Al Aqsha yang pernah menjadi kiblat umat Islam.
Yang kedua, ada tiga masjid yang disebut dalam Alquran yang Rasulullah perintahkan untuk diziarahi, yaitu Masjidil Aqsha, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi.
Kemudian secara konstitusi di UUD 1945, bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
“Jadi selain amanah agama, keberpihakan terhadap saudara-saudara di Palestina itu juga amanah konstitusi,” ujarnya.
Nurhadis menguraikan, sejak lama Indonesia mendukung Palestina. Bahkan, saat masih Republik Indonesia Serikat, negeri ini memberikan dukungan kepada Palestina.
Beberapa media Barat, kata Nurhadis, menarasikan bahwa pejuang itu adalah teroris. Nurhadis juga menjelaskan, dulu Indonesia berjuang demi kemerdekaan dikatakan sebagai teroris.
“Dulu kita berjuang membebaskan negara Indonesia ini juga dibilangnya ekstremis, teroris, dan sebagainya,” katanya.
Nurhadis berpendapat, perlawanan terhadap Israel itu sudah dilakukan sejak 1948, bukan saat ini saja. Ini berarti, sejak lama upaya kemerdekaan penuh Palestina itu dilakukan. [Ahmad Adnan Firdaus]

Tinggalkan Komentar Anda