Nasrullah Yusuf (baju koko hitam) mengikuti kajian subuh di Masjid Agung Al Hijrah Kota Baru bersama ribuan peserta iktikaf akbar. | Dokumentasi UTI
Wartalampung.id, Kota Baru – Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Al Hijrah Kota Baru, Dr HM Nasrullah Yusuf SE MBA yang juga Rektor Universitas Teknokrat Indonesia bersama ribuan jamaah, mengikuti kajian (bayan) subuh yang disampaikan Komjen Pol (Purn) Anton Bachrul Alam.
Badan Pengelola mengadakan iktikaf akbar sejak 2 sampai 5 Oktober 2025 dan diikuti ribuan jamaah. Mantan Gubernur Lampung Komjen Pol (Purn) Sjachroedin ZP juga hadir pada acara kajian asar kemarin.
Dalam paparannya, Anton Bachrul Alam menyampaikan tema “Syukur Hidup, Menghidupkan Hati dengan Dzikir dan Doa dan mengikuti ajaran Rasulullah saw”.
Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya menjaga kedekatan dengan Allah swt melalui salat, zikir, serta memperbanyak doa khususnya di waktu-waktu mustajab.
Suasana khusyuk dan penuh semangat terlihat dari antusiasme jamaah dalam menyimak pesan-pesan tausiah.
Selain sebagai sarana menambah ilmu agama, kegiatan ini juga mempererat ukhuwah antarjamaah yang hadir di masjid Agung Al Hijrah.
Salah satu panitia iktikaf, Ustaz H. Jafar, menyampaikan bahwa bayan subuh merupakan agenda rutin selama iktikaf.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi wasilah untuk menambah keimanan dan memperkuat semangat beribadah, ujarnya.
Rangkaian iktikaf tidak hanya diisi dengan salat malam, zikir, dan doa, tetapi juga dengan kajian dan tausiah yang memberikan pencerahan ruhani.
Dengan adanya bayan subuh ini, diharapkan jamaah semakin termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
Anton mengatakan, jangan mendustakan ayat-ayat Allah. Sebab, ayat itu bukan sekadar huruf dan lafal, melainkan getaran cinta dari langit.
Ia hadir dalam setiap desir angin, setiap gemuruh ombak, bahkan dalam hening doa di tengah malam. Tsunami, gempa, banjir, atau bencana lainnya—di mata yang lalai mungkin terlihat sebagai murka.
Tapi bagi hati yang beriman, di sana juga terselip kasih sayang Allah yang menyentuh, sebuah ajakan lembut untuk kembali, untuk pulang kepada-Nya.
Menurut Anton, Alquran itu visioner. Ia menyingkap masa depan dengan bahasa cahaya.
Ia berbicara tentang langkah-langkah kita yang sudah terdengar di langit sebelum kita sampai ke tujuan. Ia bercerita tentang bisikan lirih di sajadah yang mengguncang singgasana Arasy. Betapa romantis hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya:
Saat manusia lain tertidur, ia bangun dengan mata basah. Saat dunia tak peduli, langit justru sibuk mendengarkan. Saat kata tak lagi bisa terucap, Allah membaca isi hatinya.
Allah berfirman: “Dan tiadalah kamu berada dalam suatu keadaan, dan tiadalah kamu membaca suatu ayat dari Alquran, dan tiadalah kamu mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya…” (QS Yunus: 61)
”Maka jangan dustakan ayat-ayat-Nya. Karena setiap ayat adalah panggilan cinta, setiap peringatan adalah pelukan halus, setiap musibah adalah surat rindu dari Allah untuk hamba-Nya.”
Dan ingatlah, ada doa yang tak pernah terdengar di bumi, tapi telah bergema nyaring di langit. Ada air mata yang tak dilihat manusia, tapi telah diangkat oleh malaikat.
”Ada kerinduan yang tak terucapkan, tapi telah sampai kepada-Nya yang Maha Mendengar.”
Sebelumnya ia menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur pada 20 Februari 2009 hingga 30 Oktober 2009. Anton juga pernah menjabat Kapolda Kalimantan Selatan.
Ia adalah salah seorang tokoh kepolisian yang giat menekankan tingkat keagamaan para anggotanya. Salah satunya adalah himbauan memakai jilbab bagi para Polwan dan khataman Alquran di Mapolda Jatim. [ADIAN SAPUTRA]

Tinggalkan Komentar Anda