Penjual tanaman hias. | Ade/Adnan

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Musim kemarau tahun ini menyebabkan pedagang tanaman sulit mengakses air bersih untuk kebutuhan usaha mereka.
Nur, penjual tanaman hias dan penjaga villa di Sukadanaham, mengaku agak kesusahan air akibat kemarau panjang saat ini.
“Airnya susah, mesti ambil dulu saya dari vila. Saya kan menjaga vila, jadinya sekalian dari situ airnya,” kata dia kepada wartalampung.id, Rabu, 25/10/2023.
Ia pun mengeluhkan situasi musim kemarau ini yang sepi pembeli. Ia memprediksi, musim kemarau juga membuat si empunya tanaman enggan menyiram karena keterbatasan air bersih.
“Agak sepi sih, soalnya orang-orang juga pasti susah mau menyiram tanaman mereka. Buat mandi saja kadang susah, apalagi buat menyiram tanaman,” tuturnya.
Meski demikian, tanaman jenis bugenvil masih ada yang membeli. Bugenvil atau biasa juga disebut bunga kertas dinilai masih cocok karena bisa beradaptasi dengan musim kemarau.
Untuk harga juga, Nur mengatakan, kisaran Rp35 ribu-Rp50 ribu, bergantung pada jenis tanaman.
Nur juga menjual tanaman bonsai yang dibanderol mulai dari Rp150 ribu. Jika motif dari bonsainya lebih bagus, harganya lebih mahal.
Tak hanya tanaman hias, Nur juga menjual pupuk khusus untuk tanaman.
“Saya juga menjual NPK harga Rp30 ribu per kemasan besar buat bunga. Kalau urea itu untuk nutrisi daun, kalau NPK itu untuk bunga. Kalau urea satu karung isi 50 kg harganya Rp250 ribu-Rp300 ribu,” kata dia.
Nur menyiram tanaman hiasnya dua hari sekali: pagi dan sore. Ia mengaku sudah menjual tanaman hias ini kurang lebih empat tahunan. [Ahmad Adnan Firdaus/Ade Hermawan]

Tinggalkan Komentar Anda