Muhammad Alif Al-Ghifari
Sebuah nama dipanggil lantang pada Sabtu, 18 Oktober. Suara itu mengiris udara panggung, seolah membuka tirai untuk sebuah perjalanan yang telah lama disiapkan.
“Juara satu lomba baca berita Bahasa Lampung. Selamat kepada Muhammad Alif Al-Ghifari.”
Lomba itu baru ia ikuti sehari sebelumnya, 17 Oktober, di Bandar Lampung. Kota yang terasa jauh dari rumah, lebih bising daripada Krui yang ia kenal, namun justru membawa semangat yang sejak awal ia pelihara diam-diam. Ada tantangan yang berdenyut di sana, membuat langkahnya semakin mantap.
Di atas panggung, Alif berdiri dengan wajah tenang dan keyakinan yang tidak dibuat-buat. Penampilan itu adalah hasil dari latihan panjang.
Dari doa yang ia selipkan setiap hari, dan dari keberanian yang tumbuh perlahan namun kuat. Tak tahu namanya berdiri di puncak.
Muhammad Alif Alghifari, anak kelahiran 5 November 2008, adalah putra asli Krui yang kini bersekolah di SMA Negeri 1 Pesisir Tengah.
Rutinitas hidup Alif berjalan rapi, seperti pola yang sudah lama akrab baginya. Ia bangun pagi, salat subuh, mencuci muka, mandi, sarapan, lalu berangkat ke sekolah lebih awal dari sebagian besar teman-temannya.
Ia belajar, salat zuhur, lalu kembali belajar sampai waktunya pulang. Sore hari ia habiskan bermain bola hingga magrib. Malamnya ia mandi, salat isya, menuntaskan tugas atau sekadar menatap ponsel.
Di antara semua itu, ada satu prinsip yang tidak pernah ia lepaskan.
“Tugas sekolah enggak pernah aku tunda,” ujar Alif.
Namun, kehidupan yang begitu teratur itu pernah retak oleh satu pagi. Pagi ketika ia terlambat untuk pertama dan satu-satunya kali.
Kejadian itu berlangsung saat ia kelas 10. Ia menunggu temannya, dan di perjalanan mereka justru terjebak polisi di Simpang Rawas dan Tugu Tuhuk.
“Rasanya kayak dikepung,” kenang Alif sambil tertawa.
Mereka memutar arah, melewati jalan rusak, sempat terjatuh, tetapi tetap melaju.
Saat tiba di sekolah, gerbang sudah tertutup. Guru yang melihat mereka datang terlambat tampak heran. Namun setelah mendengar penjelasan, semuanya dimaklumi. Karena itulah pertama kalinya, gerbang dibuka tanpa banyak bicara.
Latihan hingga larut malam bukan hal baru bagi Alif. Pernah, ia berdiri di depan rumah, mengucapkan teks keras-keras sampai pukul 02.00.
“Kayak orang gila,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Dari kebiasaan itulah, rangkaian lomba mulai memenuhi hidupnya sejak SD.
Alif menceritakan bagaimana perjalanan itu bermula. Lomba pertamanya ia ikuti dengan penuh ketakutan.
“Jantung rasanya mau copot, takut diketawain,” ucapnya.
Perubahan besar datang ketika ia duduk di bangku SMP. Kakaknya, Amalia, menjadi pendorong paling kuat.
Dari menyusun naskah, mengatur nada, memperbaiki cara berdiri, hingga menata ekspresi wajah, semua diajarkan dengan sabar.
“Kak Amel yang ngedorong terus,” katanya penuh semangat. Amel yang dimaksud adalah kakak kandungnya.
Setiap kali kabar lomba datang, Alif selalu menjadi yang paling cepat bergerak. Ia menghubungi panitia, mengecek syarat, membuat naskah, lalu mulai latihan.
Bahkan dua sampai tiga bulan sebelum hari lomba, bergantung besar atau kecilnya acara.
“Kalau udah deket hari H ya tiap hari,” ujarnya.
Meski pernah bosan, ia tidak pernah benar-benar ingin berhenti. Justru saat lomba dimulai, semangatnya selalu menyala paling terang.
“Pas lomba malah semangat banget. Kalo latihan rasanya ngebosenin,” ujar Alif.
Sejak SD hingga SMA, panggung seakan tidak pernah kosong untuknya. Dasar Darma di Kampung Jawa, Pidato Islam, enam kali lomba Bahasa Lampung, lomba puisi tingkat kabupaten hingga provinsi, badminton, sepak bola, cerdas tepat, Putra-Putri Muslim, sampai lomba membaca berita semuanya pernah ia jalani.
Teman-temannya melihatnya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang kagum, ada yang mendukung, tetapi ada juga yang tidak nyaman hingga menyebarkan rumor yang tidak benar.
“Banyak dari mereka nyebarin rumor. Dibilang aku playboy, gonta-ganti cewek. Padahal enggak,” ujar Alif kesal.
Ada satu momen lucu yang selalu melekat di ingatannya. Krui Fair 2022.
Saat SMP, ia mengikuti lomba pidato dengan waktu latihan yang singkat, tetapi tetap berhasil meraih juara satu. Usai lomba, acara hiburan dimulai. Dokter Budi memanggilnya sambil menarik tangannya.
“Nyanyi sekali aja,” pintanya.
Alif menolak. Dipanggil lagi, ditarik lagi. Ia tetap tidak naik panggung.
Dari situlah kisah lucu itu lahir. Peristiwa kecil yang terus ia ingat sampai sekarang.
Kegagalan pun pernah hadir dalam langkahnya. Dalam satu lomba, teks yang ia baca tertukar urutannya. Ia memulai dengan perkenalan, tetapi salam muncul di tengah. Akhirnya ia hanya meraih juara dua.
Namun setelah lomba, seorang tokoh menghampirinya dan berkata, “Kamu bagus. Nanti kamu yang saya kirim ke provinsi.”
Walau kenyataannya, yang dikirim tetap juara satu. Alif menyimpan sedikit kecewa, tetapi akhirnya sirna ketika tahu peserta yang dikirim hanya mendapatkan juara harapan.
Alif adalah sosok humoris, tidak pendiam, namun bisa sangat formal bila bertemu orang baru.
Ia tidak menyukai kemunafikan dan tidak menyukai teman bermuka dua. Ia jarang membuat masalah, kecuali kenakalan kecil seperti menjahili teman sampai menangis.
Ia mengikuti banyak ekstrakurikuler karena ia suka bertemu banyak orang. Ia bisa mengobrol berjam-jam tanpa sadar waktu melaju jauh.
Di sekolah, pelajaran kesukaannya adalah Olahraga, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Lampung. Berbanding terbalik, pelajaran yang ia hindari adalah Matematika.
“Itung-itungan itu nggak banget. Tapi kalau ngitung duit mah bolehlah,” katanya sambil tertawa.
Cita-citanya berubah-ubah seperti kebanyakan remaja. Pernah ingin menjadi sastrawan, pengusaha, kepala dinas, menteri pariwisata, hingga pemain sepak bola. Namun dari semuanya, pengusaha adalah pilihan yang paling ia yakini.
Prestasi Alif berdiri di atas fondasi keluarga yang selalu ada untuknya. Ayah, ibu, dan kakaknya, Amalia Sabila Mukhtar, adalah tempat ia merasa disayang, dihargai, dan dipercaya.
“Bukan cuma soal juara yang buat aku bahagia. Tapi merasa disayang dan didukung penuh sama keluarga, itu yang paling buat bahagia,” kata Alif sungguh-sungguh.
Perjalanan Alif bukan hanya barisan piala. Ini kisah tentang jantung berdebar di panggung pertama, dorongan kakak yang tidak pernah berhenti, latihan sampai pukul 02.00, teks yang tertukar, teman yang salah paham, dan kemenangan yang lahir dari usaha panjang.
Jika suatu hari ia bisa berbicara kepada dirinya yang kecil, ia ingin berkata, “Terima kasih sudah mau mulai. Kalau enggak, aku nggak bakal ada di titik ini.” [Nayla Sakina/Salsa Bila Aini]

Tinggalkan Komentar Anda