Olyvia Devita Pertiwi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Olyvia Devita Pertiwi mulai tertarik dengan kontes dunia ketika menyaksikan sebuah kompetisi Putri Hijab Lampung di salah satu mal di Bandar Lampung.
Pemilik dua gelar, sarjana hukum dan sarjana pendidikan itu, terkesan dengan kecantikan, kepercayaan diri, dan kemampuan para peserta dalam berbicara di depan umum.
Selain itu, ia saya juga mengagumi bagaimana kontes sering mengangkat isu sosial dan memberi dampak positif bagi masyarakat.
Hal ini membuatnya melihat kontes bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang pemberdayaan perempuan dan kontribusi sosial.
Kata Olyvia, keberagaman dan inspirasi dari peserta juga menjadi alasan semakin tertarik mengikuti utk bisa menjadi influencer melalui beauty pageant.
Perempuan kelahiran 10 Juni 1998 ini menilai beauty pageant memberikan banyak pengalaman berharga, seperti:
- Pengembangan Diri. Meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan umum.
- Networking. Membangun jaringan dengan peserta lain, juri, dan profesional di industri.
- Keterampilan Sosial. Mempelajari cara berinteraksi dengan berbagai orang dan membangun hubungan.
- Kesadaran Sosial. Menjadi lebih peka terhadap isu-isu sosial dan budaya yang ada di masyarakat terutama kuliner yang ada di Lampung
Saat mengikuti ajang Putri Hijab Lampung, Olyvia memulai dengan persiapan yang matang, termasuk pelatihan untuk meningkatkan penampilan dan kemampuan berbicara.
Selama kompetisi, ia berusaha menunjukkan diri yang autentik dan percaya diri.
Di berbagai tahapan, ia menghadapi tantangan, tetapi dukungan dari teman dan keluarga sangat membantu. Saat pengumuman, merasa campur aduk antara tegang dan harap-harap cemas.
Ketika namanya diumumkan sebagai Putri Hijab Lampung Favorit, rasanya sangat membanggakan.
“Saya merasa perjalanan ini bukan hanya tentang gelar, tetapi juga tentang pengalaman dan pembelajaran yang berharga,” kata dia.
Olyvia juga aktif dalam kegiatan Pramuka. Ia ikut Pramuka hingga tingkat nasional yang dimulai dari pengalaman di tingkat lokal atau daerah.
Menurutnya, siswa aktif dalam berbagai kegiatan, seperti camping, pelatihan, dan lomba, yang membantu mereka mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan kerja sama.
Setelah mencapai prestasi di tingkat daerah, mereka dapat mewakili daerah dalam kompetisi atau kegiatan pramuka tingkat nasional.
Proses ini sering melibatkan seleksi dan pelatihan intensif untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan yang lebih besar.
Pengalaman ini tidak hanya memperkaya keterampilan tetapi juga memperluas jaringan pertemanan.
Berawal lulus SMA, orangtua dan saudara prempuannya, Desti Mareta, mengarahkan agar mengambil kuliah keguruan.
Pasalnya, mereka melihat Olyvia punya potensi mengajar. Akan tetapi, Olyvia lebih minat bekerja pada bidang hukum.
Ia mengatakan, memilih menjadi guru seringkali didasari oleh keinginan karena sejak menempuh kuliah S1 hukum sudah bekerja paruh waktu sebagai pelatih pramuka di beberapa sekolah.
Dengan seperti itu, Olyvia terbiasa mengajar dan membimbing siswa. Ia pun akhirnya memutuskan lanjut kuliah mengambil S1 Keguruan.
Olyvia mempunyai pengalaman awal mengajar formal di Sekolah Tunas Mekar Indonesia (TMI). Prosesnya ketat sehingga ia bisa mengajar di salah satu sekolah swasta terbaik di Bandar Lampung itu.
Olyvia kemudian mengajar mata pelajaran Pendidikan Antikorupsi pada Sekolah Tunas Mekar Indonesia.
Di sana, pengalaman mengajar di lingkungan yang terfokus membantu membangun keterampilan pedagogis.
Setelah mengembangkan kemampuan mengajar dan membangun reputasi, ia memperoleh peluang untuk mengajar di sekolah negeri.
Uniknya, meski bekerja sebagai guru dengan latar belakang sarjana hukum, Olyvia juga punya minat besar dalam bidang kreator konten.
Ia kini fokus pada konten kuliner di media sosial. Ia bilang makanan adalah hal universal yang bisa menghubungkan banyak orang.
Konten kuliner dapat mencakup resep, ulasan restoran, atau tips memasak, yang semuanya memberikan nilai tambah bagi audiens.
Pilihan kuliner bisa jadi karena antusiasme terhadap eksplorasi rasa dan budaya, serta kesempatan untuk berbagi pengalaman kuliner yang unik dan inspiratif.
Selain itu, kata dia, konten kuliner seringkali memiliki daya tarik visual yang kuat, membuatnya lebih menarik untuk dibagikan dan dinikmati.
Ada banyak kejadian menarik yang muncul dari peran sebagai guru dan influencer.
Salah satunya ketika seorang wali murid mendekati saya untuk meminta bantuan mempromosikan usaha kulinernya.
Mereka membuat makanan khas daerah yang sangat enak, dan ia merasa senang bisa membantu dengan membuat konten tentang produk mereka di media sosial.
Di sisi lain, ada juga kerabat teman kerja yang memiliki usaha kuliner dan meminta tips pemasaran.
“Saya membuatkan mereka beberapa strategi sederhana untuk meningkatkan visibilitas online. Melihat bagaimana usaha kecil bisa berkembang melalui promosi dan dukungan dari komunitas sangat memuaskan, dan itu memperkuat hubungan saya dengan orang-orang di sekitar.”
Kegiatan seperti ini menunjukkan betapa kolaborasi bisa membawa manfaat bagi banyak pihak.
Fokus membuat konten ini juga sebagai ikhtiar Olyvia dan calon suaminya untuk menuju jenjang pernikahan.
“Sampai sekarang buat konten bareng dia. Dia bagian videographer dan editing juga,” kata dia.
Wah, kolaborasi menarik ini. Semoga lekas menuju jenjang pernikahan. Sukses selalu, Ibu Guru. [@adiansaputra27]

Tinggalkan Komentar Anda