Hiburan

Mengenal Budaya Lewat Pengalaman: Cerita Salsabilla Azyka “Acha” Anora di Festival Krakatau

Mengenal Budaya Lewat Pengalaman: Cerita Salsabilla Azyka “Acha” Anora di Festival Krakatau

Salsabilla Azyka Anora

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Kemeriahan Festival Krakatau pekan lalu menyisakan banyak cerita inspiratif. Salah satunya datang dari Salsabilla Azyka Anora yang akrab disapa Acha.

Remaja berprestasi ini turut ambil bagian dalam kemeriahan Parade Karnaval budaya terbesar di Provinsi Lampung tersebut.

Tampil memukau, Acha berjalan menyusuri rute karnaval mulai dari Tugu Adipura, melewati Mal Kartini (Moka), Simpur Center, hingga akhirnya kembali lagi ke titik awal.

Sepanjang rute pawai, kehadiran Acha sukses mencuri perhatian publik.

Menggenakan dress merah yang anggun dipadukan dengan sash (selempang) dan crown (mahkota) bertuliskan “The Best Multitalent Teen MEM 2025″—gelar bergengsi yang baru saja ia sabet pada ajang MEM Awards 2025—Acha tampil penuh percaya diri.

Antusiasme warga Bandar Lampung yang memadati sepanjang jalan menambah kehangatan suasana pawai.

Warga tampak sangat excited melihat penampilan Acha. Tidak sedikit dari mereka yang berebut untuk mengambil foto, merekam video, hingga meneriakkan kata-kata semangat kepada Acha selama perjalanan.

Momen saling berinteraksi dan berfoto bersama warga menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi dirinya.

Bagi Acha, mengikuti Festival Krakatau bukan sekadar ajang unjuk kostum atau sekadar parade biasa.

Kegiatan ini memberikan perspektif baru yang mendalam bagi dirinya mengenai esensi dari sebuah kebudayaan.

Menurut dia, hal yang paling menarik dari mengikuti Pawai Karnaval Festival Krakatau adalah ia bisa melihat secara langsung bagaimana budaya dan kreativitas masyarakat Lampung ditampilkan dalam satu kegiatan.

Bukan cuma soal kostum atau pawai, Acha juga belajar bahwa budaya bisa dikenalkan kepada banyak orang dengan cara yang menarik dan menyenangkan.

Lebih lanjut, remaja bertalenta ini membagikan pandangannya yang kritis dan edukatif mengenai arti literasi.

Dari pengalaman berharga di sepanjang rute Tugu Adipura hingga Simpur tersebut, Acha menyadari bahwa wadah belajar tidak terbatas pada ruang kelas atau lembaran kertas saja.

Dari pengalaman itu, ia menjadi sadar bahwa literasi juga nggak selalu tentang membaca buku.

Kita bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan dari pengalaman, budaya, lingkungan, dan kegiatan yang kita ikuti.

”Festival Krakatau juga bisa menjadi salah satu bentuk literasi budaya karena kita mengenal dan ikut melestarikan budaya daerah sendiri,” kata dia. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda