Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Mengapa Juwendra Asdiansyah Masih Menulis Sampai dengan Sekarang?

Mengapa Juwendra Asdiansyah Masih Menulis Sampai dengan Sekarang?

Juwendra Asdiansyah. | Ade Hermawan

Juwendra Asdiansyah. | Ade Hermawan

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Jurnalis dan penulis Lampung, Juwendra Asdiansyah, menggelar Kongkow Buku dan Bazar Lukisan di Global Surya Islamic School, Jalan Sutan Jamil Nomor 1 Gedongmeneng, Rajabasa, Bandar Lampung, Jumat sore, 8/12/2023.

Hadir beberapa tokoh dalam acara itu. mereka di antaranya eks Wakil Rektor Unila Muhammad Thoha Batin Sampurna Jaya, dan budayawan Ansori Djausal, Ketua Yayasan Global Surya Islamic School Andi Surya, dan Pemimpin Redaksi Tribun Lampung Ridwan “One” Hardiansyah.

Dalam acara itu, Juwe, sapaan akrabnya, menjelaskan alasannya menulis “3 Jagoan” dan berusaha istikamah menulis sampai dengan sekarang.

Pertama, ia sedang menjalani terapi untuk mengurangi berbicara. Ia mengatakan, setiap ucapan memiliki penyesalan dan tidak bisa ditarik, tetapi kalau sebuah tulisan itu bisa diubah atau diedit.

Menurutnya, menulis adalah sebuah inti baginya untuk mengurangi bicara.

Kedua, ia menjelaskan mengapa sampai dengan sekarang masih menulis. Juwe menuturkan, ia pernah menulis pada 28 November 2021 di akun Facebooknya.

“Meski sering malas, aku harus memaksa diri untuk lebih banyak menulis. Ini cara terbaik untuk mengurangi berbicara karena setiap kali berbicara ada saja kata-kata yang akhirnya kau sesali,” katanya.

Karena Juwe harus menulis tentang kisah ayahnya. Ia sadar saat menulis tentang ayahnya, ia sangat kesulitan karena begitu banyak kisah tentang ayahnya.

Pada saat Juwe 15 tahun, ayahnya meninggal dan ia hanya mengetahui sedikit tentangnya. Ayahnya hanya anak semata wayang di keluarganya dan Juwe juga tidak pernah bertemu kakek dan neneknya saat itu.

Saat sedang menulis, dia tidak ada referensi kisah dari ayahnya dan saat itu ia berpikir.

“Kalau suatu saat saya telah tiada, bagaimana cara anak saya bisa menceritakan tentang saya. Saya harus menulis, menceritakan diri saya, teman-teman, dan guru-guru saya,” katanya.

Impian Juwe adalah untuk membantu anak-anak keturunannya agar bisa mengenali dan menceritakan tentang kisah hidupnya dan ayahnya.

Alasan inilah yang menjadi ikhtiar bagi anak-anak keturunannya agar bisa mengenali ayah dan kakeknya. Tidak lupa juga dia memberi sebuah pesan yang disampaikan kepada orang yang ingin menulis.

“Bagi teman-teman yang ingin mulai menulis, menulislah ketika ingin menulis. Jangan menulis ketika tidak ingin menulis. Dan jangan menulis ketika hanya ingin memproduksi tulisan. Penulis itu manusia, bukan pabrik kata-kata. Jika status dan chat-mu di media sosial mudah dipahami orang, mungkin saja kau berbakat menjadi penulis,” kata Juwe. [Ade Hermawan]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda