Opini

Melesat dengan Bahasa Prancis, Tetap Membumi dengan Nilai Kearifan Lokal

Melesat dengan Bahasa Prancis, Tetap Membumi dengan Nilai Kearifan Lokal

Setia Rini

Oleh Setia Rini, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Di era globalisasi ini, siapa pun bisa bermimpi besar. Menempuh studi ke Eropa, bekerja di organisasi internasional, atau sekadar menjalin pertemanan lintas benua. Bahasa menjadi kuncinya, dan bahasa Prancis adalah salah satu kunci paling berharga untuk membuka pintu-pintu dunia. Tetapi, di tengah semangat menjelajah itu, penting untuk tak melupakan akar: nilai-nilai lokal yang membentuk siapa kita.

Sebagai bahasa resmi di lebih dari 30 negara dan salah satu bahasa kerja di lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan Uni Eropa, bahasa Prancis memberi banyak peluang bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Tapi pertanyaannya: bagaimana kita bisa “melesat” dengan bahasa asing, tanpa tercerabut dari tanah tempat kita berpijak?

Mempelajari bahasa Prancis bukan hanya belajar bicara dalam aksen yang khas, tapi juga membuka akses ke beasiswa, mobilitas akademik, kolaborasi penelitian, dan karier lintas negara. Namun, globalisasi seharusnya tidak berarti menjadikan kita lupa akan dari mana kita berasal. Kita boleh menjadi warga dunia, tapi tetap dengan identitas yang kuat.

Saat mempelajari bahasa Prancis, kita juga membawa serta cara pandang kita sebagai orang Indonesia, khususnya nilai-nilai kearifan lokal yang berakar dari budaya, adat, dan etika masyarakat kita. Nilai-nilai seperti gotong royong, sopan santun, penghargaan terhadap yang lebih tua, serta filosofi hidup yang selaras dengan alam adalah modal budaya yang justru bisa menjadi daya tarik tersendiri di mata dunia.

Dalam konteks pendidikan bahasa Prancis, ini bisa diterapkan dengan mengangkat konten lokal dalam pembelajaran. Misalnya, memperkenalkan kuliner Lampung atau filosofi Piil Pesenggiri dalam tugas-tugas presentasi berbahasa Prancis. Atau membandingkan adat lokal dengan konsep budaya Prancis dalam diskusi kelas. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga sarana memperkenalkan identitas budaya.

Belajar bahasa asing tidak berarti menjadi asing terhadap diri sendiri. Justru, semakin kita mengenal budaya lain, semakin penting kita memahami dan menghargai budaya sendiri. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pembelajar bahasa yang baik, tapi juga duta budaya yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri: global tanpa harus menjadi asing.

Kita bisa menulis puisi berbahasa Prancis dengan latar kampung halaman. Bisa membuat video edukasi dalam bahasa Prancis yang menjelaskan keindahan kain tapis atau tradisi adat perkawinan. Bisa menjadi pemandu wisata internasional yang fasih berbahasa Prancis namun tetap fasih menjelaskan makna filosofis dari setiap upacara lokal.

Bahasa Prancis memberi kita sayap untuk terbang lebih tinggi. Tapi nilai-nilai lokal adalah akar yang menjaga kita tetap membumi. Justru dengan membawa dua hal ini bersama, kemampuan global dan kearifan lokal, kita bisa menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga kaya secara budaya.

Mari belajar bahasa Prancis bukan hanya untuk mengejar gelar atau prestise, tapi untuk menjadi penghubung antarbudaya yang arif. Melesat ke dunia internasional, namun tetap menginjak tanah dengan penuh hormat pada warisan budaya sendiri. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda