Pentas seni teater Baraba. | Dokumentasi
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Teater berjudul Baraba, karya sastrawan Motinggo Boesje, sukses dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis angkatan 2024 dalam sebuah pertunjukan seni yang digelar di Kampus A, Panglima Polim, Selasa lalu, 17/6/2025.
Pementasan ini menjadi bagian dari ujian akhir semester untuk mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia.
Mengangkat latar waktu tahun 1970-an, Baraba bercerita tentang pergulatan batin seorang perempuan yang terjebak dalam pernikahan paksa karena kuatnya ikatan budaya.
Dalam cerita tersebut sang suami (Banio), seorang pria tua terus menikah berulang kali demi mendapatkan anak laki-laki, yang dianggap sebagai simbol kehormatan dalam budayanya.
Pertunjukan ini tidak hanya menyajikan cerita yang penuh konflik dan emosi, tetapi juga berusaha dalam menyampaikan pesan moral yakni: bahwa setiap anak adalah anugerah, tanpa memandang jenis kelaminnya.
Cerita ini diambil karena selaras dengan tema seni pertunjukan pertunjukan yang mengangkat tentang budaya.
Dipentaskan oleh kelompok mahasiswa yang dipimpin oleh Zaki dimana ia berperan sebagai Banio, tokoh suami Baraba.
Total proses persiapan memakan waktu dua bulan sampai saat pementasan. Latihan dilakukan 2 hingga tiga kali setiap minggu, bertempat di rumah salah satu pemain sekaligus pelatih serta di lingkungan kampus A FKIP Pangilma Polim.
Zaki membagikan bahwa tantangan terbesar dalam persiapan adalah proses menghafal naskah, dan ia juga menambahkan ada beberapa bagian yang diimprovisasi dengan tambahan karakter untuk kebutuhan.
Demi mendalami peran sebagai suami tua berusia 70 tahun, Zaki bahkan rela merogoh kocek sebesar Rp70 ribu untuk keperluan make-up karakter, di luar iuran kelompok dan lainnya.
“Aku make-up supaya keliatan berumur gini di MUA bayar Rp70 ribu, kalau untuk kostum aku pakai baju punya ayah aku,” jelas Zaki.
Pertunjukan Baraba menjadi bukti bahwa seni teater bukan sekadar pementasan, melainkan wadah untuk menyuarakan keresahan sosial dan sarana dalam pelestarian nilai-nilai budaya.
Meski bukan berasal dari jurusan seni, Zaki dan kelompok teater Baraba berhasil membawakan pertunjukan dengan baik dan berhasil menyampaikan makna terkandung dengan jelas. [Delima Kurnia Borumanik]

Tinggalkan Komentar Anda