Nusantara

Literasi, Integritas, Melawan KBGO; Menghidupkan Kembali Spirit Roehana Koeddoes di Era Jurnalisme Digital

Literasi, Integritas, Melawan KBGO; Menghidupkan Kembali Spirit Roehana Koeddoes di Era Jurnalisme Digital

Diskusi 3 Wajah Roehanna Koedoes yang dihadiri sejumlah jurnalis dan tokoh (tangkapan layar)

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Nama Roehana Koeddoes mungkin tidak seterkenal perempuan pahlawan nasional lainnya seperti R.A Kartini. Tapi perempuan yang lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat 1884 ini merupakan salah satu tokoh yang membawa perubahan bagi perempuan di Indonesia.

Untuk memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, media IDN Times berkolaborasi dengan Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menggelar diskusi bertajuk “Tiga Wajah Roehana Koeddoes” , beberapa hari lalu.

Diskusi yang digelar di kantor IDN Times ini juga diisi dengan pemutaran film Soenting Melajoe dan sesi diskusi dengan narasumber seperti Najwa Shihab, Komaruddin Hidayat, Khairiah Lubis, Trini Tambu, dan Wahyu Djatmika. Mereka  membahas perjuangan Roehana Koeddoes dengan kondisi jurnalisme dan posisi perempuan jurnalis di Indonesia saat ini.

Pionir dengan Tiga Peran Utama

Roehana Koeddoes, dikenal memiliki “tiga wajah” perjuangan yang saling berhubungan: Pendidik, Jurnalis dan Wirausahawan.

Wajah pertama adalah sebagai pendidik. Roehana mendirikan sekolah kerajinan dan baca-tulis untuk perempuan yang saat itu masih terkekang adat dipingit. Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan, Roehana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Setahun berselang, tepatnya 10 Juli 1912, Roehana mendirikan Soenting Melajoe. Soenting Melayu adalah surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Roehana menjadi perempuan pertama di Indonesia yang memimpin redaksi secara mandiri. Ia tidak hanya menulis tentang isu domestik, tetapi juga politik dan hak-hak sipil. Media ini bertahan hingga 1921.

Wajah ketiga, melalui Yayasan Amai Setia, ia mempelopori kemandirian ekonomi. Ia mengajarkan perempuan cara mengelola keuangan rumah tangga dan memasarkan produk kerajinan tangan agar mereka tidak bergantung sepenuhnya secara finansial kepada laki-laki.

Pentingnya pendidikan terutama membaca sangat disadari oleh Roehana. Dia yakin kaum perempuan harus memiliki akses pendidikan yang baik. “Roehana memahami bahwa literasi membuat perempuan berpikir, dan suara itu harus sampai melalui tulisan,” ujar jurnalis senior Najwa Shihab dalam diskusi tersebut.

Trini Tambu, Ketua Yayasan Amai Setia, menekankan bahwa Roehana telah “memecahkan langit-langit kaca” (glass ceiling) jauh sebelum istilah itu populer. Hingga kini, Yayasan Amai Setia tetap berdiri sebagai bukti hidup wajah kewirausahaan Roehana yang konsisten menjaga ekonomi perempuan.

Cermin Pers Saat Ini

Meski Roehana telah membuka jalan sejak 1911, diskusi tersebut menyoroti bahwa perjuangan perempuan di ranah pers masih menghadapi tembok tinggi. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan data bahwa representasi jurnalis perempuan di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 25%.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menjelaskan kondisi pers saat ini (sumber: komdigi.go.id)

“Angka ini menunjukkan bahwa ruang bagi perempuan untuk mengisi posisi-posisi informasi strategis belum pada fase yang cukup membuat kita bersantai. Kita masih harus menggerakkan ruang informasi khusus bagi karya jurnalis perempuan,” tegas Meutya, yang juga mantan jurnalis.

Meutya juga menggarisbawahi hilangnya “unsur rasa” dan empati dalam karya jurnalistik modern yang sering kali terjebak dalam kecepatan arus digital dan sensasionalisme. “Dulu kita mengutamakan rasa dalam setiap diksi. Sekarang, banyak tulisan yang minim empati, minim data, dan hanya penuh emosi,” tegasnya. Roehana Koeddoes, menurutnya, adalah teladan bagaimana tulisan harus tetap memiliki integritas dan martabat.

Ancaman Baru: Kekerasan Berbasis Gender Online

Diskusi tersebut juga mengangkat isu krusial yang tidak dialami Roehana di zamannya, namun menghantui jurnalis perempuan saat ini: Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).

Jika dulu Roehana menghadapi cemoohan fisik dan tuduhan penggelapan uang yang akhirnya tidak terbukti di pengadilan, perempuan jurnalis saat ini juga menghadapi ancaman tidak kalah berat; doxing, pelecehan seksual saat bekerja dan di media sosial, hingga ancaman keamanan digital.

Angka kekerasan terhadap perempuan jurnalis perempuan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Data Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat sebanyak tujuh perempuan jurnalis menjadi korban dari total  73 kasus kekerasan terhadap jurnalis sepanjang 2024. Pada Januari–Maret 2025, jumlah perempuan jurnalis yang menjadi korban naik menjadi lima orang dari 23 kasus kekerasan, artinya proporsi korban perempuan meningkat dalam periode yang lebih singkat.

Lonjakan ini juga tercermin dalam riset AJI bersama Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2Media) tahun 2022, yang menunjukkan bahwa 82,6 persen perempuan jurnalis pernah mengalami kekerasan seksual sepanjang menjalankan kerja jurnalistik, baik di ranah daring maupun luring.

Ketua Umum FJPI, Khairiah Lubis menjelaskan tantangan pers saat ini (sumber: fjpindonesia)

Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Khairiah Lubis, menekankan pentingnya Standar Operasional Prosedur (SOP) internal di setiap kantor berita untuk menangani kekerasan seksual terhadap jurnalis perempuan. FJPI kini telah memiliki SOP penanganan kekerasan seksual untuk melindungi anggotanya, sebuah langkah perlindungan yang belum terbayangkan di zaman Roehana.

Meneruskan Estafet Roehana

Prof. Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, menambahkan bahwa keberanian Roehana muncul dari tradisi egaliter di Sumatra yang kemudian ia transformasikan ke skala nasional. Menurutnya, profesionalisme hari ini tidak lagi ditentukan oleh gender, melainkan oleh kualitas pengetahuan. Namun, ia sepakat bahwa afirmatif bagi perempuan di lembaga seperti Dewan Pers tetap krusial untuk menjaga keseimbangan perspektif. Ia berharap spirit Roehana tidak hanya menjadi seremoni, tetapi menjadi pengingat bagi perempuan untuk terus menciptakan “ruang publiknya sendiri.”

Selama perempuan jurnalis masih mengalami pelecehan dan ruang redaksi belum setara, maka setiap ketikan di ruang digital hari ini adalah kelanjutan dari tinta hitam yang dulu digoreskan Roehana di Soenting Melajoe. “Kita adalah buah dari perjuangan struktural itu,” pungkas Trini Tambu.  [Sekar Sari IC]

 

 

 

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda