Bandar Lampung

Lebih Dekat dengan Zulfa Auliya Rahmah & Muhammad Fazlee Mawla, Siswa MAN 1 Bandar Lampung Penulis Novel ”Satu Raga Satu Bunga”

Lebih Dekat dengan Zulfa Auliya Rahmah & Muhammad Fazlee Mawla, Siswa MAN 1 Bandar Lampung Penulis Novel ”Satu Raga Satu Bunga”

Zulfa Aulia Rahmah dan Muhammad Fazlee Mawla

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Di balik terbitnya novel Satu Raga Satu Bunga, ada kisah perjalanan dua penulis muda, Zulfa Auliya Rahmah dan Muhammad Fazlee Mawla. Keduanya adalah siswa MAN 1 Bandar Lampung.

Mereka membuktikan bahwa semangat, imajinasi, dan kerja sama bisa melahirkan karya sastra setebal lebih dari 470 halaman.

Zulfa dikenal sebagai sosok imajinatif yang gemar menulis sejak kecil. Sejak SD, ia sudah menjuarai lomba menulis puisi hingga lomba dai.

Di masa remaja, ia aktif membaca dan menulis cerita bersambung di Instagram serta mencoba platform Wattpad.

“Lewat menulis, saya bisa menyalurkan perasaan dan ide-ide dengan lebih hati-hati. Kalau hanya berbicara, kadang kata-katanya kurang pas,” ujarnya kemarin.

Sementara itu, Fazlee justru mengawali perjalanannya dari dunia nonfiksi. Sejak SMP ia terbiasa menulis karya tulis ilmiah (KTI) dan esai. Hobinya membaca buku-buku serius, mulai dari karya Tan Malaka hingga literatur psikologi, membuatnya terbiasa berpikir logis.

“Awalnya bukan menulis novel, tapi tugas di kelas membuat saya tertarik. Ternyata seru juga menuangkan ide-ide ke dalam cerita fiksi,” ungkapnya.

Keduanya dipertemukan lewat tugas Bahasa Indonesia di kelas XI. Saat itu, Fazlee sempat mengalami kebuntuan dalam menulis cerita.

Dari situlah muncul ide untuk berkolaborasi. Zulfa banyak menggarap bagian emosional, sementara Fazlee menyusun alur besar cerita.

Meski kerap berdebat karena perbedaan gaya berpikir. Zulfa yang lebih ke perasaan dan Fazlee yang lebih ke logis.

Mereka berhasil menyelesaikan novel Satu Raga Satu Bunga dalam waktu satu tahun.

Novel ini tidak hanya jadi hasil tugas sekolah, tapi juga bukti komitmen mereka berkarya. Bahkan, novel sudah dicetak dan ditempatkan di perpustakaan sekolahnya.

Dukungan orang tua, guru, hingga teman-teman semakin menguatkan semangat mereka.

Bagi Zulfa, menulis adalah cara untuk mengekspresikan diri dan menyalurkan imajinasi. Bagi Fazlee, menulis adalah medium untuk menuangkan pemikiran logis dan ide-ide yang ia temukan dari bacaan maupun pengalaman.

Kombinasi keduanya menjadikan novel ini unik dalam memadukan rasa dan logika.

Ke depan, keduanya berencana merevisi kembali novel Satu Raga Satu Bunga agar lebih matang dan siap diterbitkan secara luas.

“Kami ingin karya ini bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di lingkungan sekolah, tapi juga di luar sana,” kata mereka penuh semangat.

Dengan usia yang masih belia, Zulfa dan Fazlee telah membuktikan bahwa generasi muda Lampung mampu berkarya melalui sastra.

Novel Satu Raga Satu Bunga hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang mereka sebagai penulis muda yang penuh potensi. [Delima Kurnia/Dandy HR]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda