Sely Anjelina
Wartalampung.id, Liwa – Sely Anjelina dilahirkan di Lampung Barat, 27 September 2002. Orangtuanya beretnik Lampung.
Sely dibesarkan dengan didikan orang tua yang mengutamakan pendidikan.
Meskipun tidak banyak prestasi seperti pada mahasiswa umumya, perlahan, langkah yang dilakukan menghasilkan buah yang pasti.
Pada 2019, Sely Anjelina mengawali dengan mengikuti dan memenangkan juara III Fashion Show pada kategori daur ulang.
Ia menggunakan sampah yang berjenis plastik dan serpihan kaca untuk dijadikan baju dan ditampilkan pada Culture, Fashion, and Food Festival.
Saat itu ia menggunakan bahan seadanya dan didampingi oleh Ari Chanda untuk membantu memenangkan perlombaan tersebut.
Pada tahun yang sama, Sely juga memutuskan untuk meneruskan kariernya untuk mengikuti perlombaan pemilihan Muli-Mekhanai Lampung Barat.
Didukung penuh keluarga, Sely yakin akan memenangkan Muli-Mekhanai Lampung Barat. Langkah tersebut membuahkan hasil yang cukup baik.
Sely pulang dengan dengan membawa kategori harapan III Muli Lampung Barat 2019.
Pada tahun itu juga, Sely menjalankan tugas-tugas menjadi seorang muli di mana bertujuan mempromosikan parawisata Lampung Barat.
Tahun 2020, Sely memutuskan berhenti dan tidak mengikuti perlombaan apa pun.
Ia beralasan fokus berkuliah di Prodi Hukum Tata Negara UIN Raden Intan Lampung dan menikmati setiap proses yang ada.
Alasan mendasar Sely untuk bergabung di Fakultas Hukum adalah, manusia sejak lahir sampai mati telah diatur oleh hukum. Perubahan sosial yang dihadapi akan terus diatur oleh hukum.
”Sehingga kita perlu ilmu hukum agar kita tidak menjadi seorang yang diibaratkan robot, yang hidupnya bersifat kaku, layaknya masyarakat menganggap hukum itu kaku,” kata Sely kepada wartalampung.id lewat pesan tertulis.
Dengan proses yang tidak mudah, tahun 2023, Sely menyelesaikan studi hukumnya di UIN Raden Intan Lampung dengan waktu 3 tahun 3 bulan.
Buat mereka yang sedang skripsi, Sely memberikan tips.
”Mulailah buka skripsimu. Jika merasakan kebingungan dalam menyelesaikan skripsi, itu adalah reaksi normal.”
Tidak perlu terbayang hal menakutkan yang belum tentu akan terjadi.
”Kita pasti akan bertemu dengan orang-orang baik di setiap proses yang kita lalui.”
Usai S1, ia memutuskan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia kini berkuliah dan masuk semester II Magister Hukum Universitas Lampung (Unila). Sely pun menyelami lebih dalam mengenai karya tulis.
Bersama mitranya, Melisa, ia sedang mendalami tulisan yang telah diterbitkan di beberapa media massa mengenai ”generasi guava”.
Generasi ini lahir dari rasa kecewa terhadap filosofi generasi Z yang diibaratkan seperti stroberi yang lembek dan mudah membusuk.
Sely berpendapat, guava yang lebih cocok, karena kehidupan yang dialami tidak mudah untuk dilalui, ada yang harus dikorbankan untuk menggapai cita-cita.
Keras dari guava melambangkan kuat/kerasnya perjuangan dalam menghadapi kehidupan.
Harus menyukai apa yang dilakukan, bukan melakukan apa yang disukai. Sebab, terdapat faktor-faktor yang menuntut agar diselesaikan apa yang telah dimulai.
Kata Sely, mahasiswa yang baik bukan berarti mahasiswa yang IPK-nya 4,00.
”Mahasiswa yang baik adalah mereka yang akan menyelesaikan dan bertanggung jawab dengan apa yang dimulainya.” []

Tinggalkan Komentar Anda