Imelda Astari. | Nathania Shakira
Wartalampung.id, Bandar Lampung — Imelda Astari, perempuan jurnalis asal Lampung, mengawali karier jurnalistiknya bukan dari perencanaan matang, melainkan dari keinginan sederhana untuk mencari penghasilan sendiri saat masih berkuliah.
Hal tersebut disampaikan Imelda saat ditemui dalam kegiatan “Kongko Akhir Tahun dan Reuni Duajurai ++” yang digelar pada Senin, 16 Desember 2025, mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai, bertempat di Nuwono Tasya, Rajabasa, Bandar Lampung.
Imelda mengungkapkan, awal mula terjun ke dunia jurnalistik berangkat dari keisengan melamar pekerjaan.
Pada 2014, ia mulai bergabung sebagai jurnalis di Duajurai.com dan menekuni profesi tersebut hingga 2019.
“Mulai kerja jadi jurnalis ternyata asyik, sesuai passion,” tuturnya.
Setelah lima tahun berkarier, Imelda memutuskan mengundurkan diri pada 2019.
Setahun berselang, tepatnya pada 2020, ia mengambil langkah dengan mendirikan portal berita VoxLampung.com. Media tersebut ia kelola dari rumah dengan merekrut sejumlah wartawan lapangan serta tim pemasaran.
Imelda juga sempat menjadi editor untuk wartalampung.id saat media massa ini baru bertumbuh di November 2020. Imelda juga pernah menjadi redaktur media massa di Jakarta, forumkeadilan.com.
Dalam perjalanannya, Imelda juga menyinggung tantangan menjadi perempuan jurnalis.
Salah satunya berkaitan dengan urusan pribadi, seperti mengurus keluarga.
Selain itu, menurutnya, perempuan jurnalis juga harus mampu menjaga diri dan berani bersuara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saat bertugas di lapangan.
Di sisi lain, Imelda menilai perempuan jurnalis memiliki keunggulan tersendiri, terutama dari segi sensitivitas dan empati.
Menurut dia, perempuan cenderung lebih peka ketika menyoroti sisi humanis sebuah peristiwa.
“Kita kan lebih sensitif hatinya, jadi gampang untuk kita menyalurkan energi ke tulisan,” katanya.
Ia juga mengaku senang melihat semakin banyak perempuan yang kini berani terjun ke dunia jurnalistik.
Menurut diamkondisi saat ini jauh lebih aman bagi perempuan untuk bersuara dan tampil di ruang publik dibandingkan sebelumnya.
Namun demikian, Imelda mengingatkan adanya tantangan baru dalam dunia media, khususnya dengan menjamurnya media daring.
Kata Imelda, kemudahan mendirikan media daring tidak selalu diiringi dengan pemahaman etika jurnalistik.
“Sekarang gampang bikin media online. Modal beberapa juta bisa bikin website dan PT. Akibatnya, media yang benar-benar paham etika jurnalistik ikut tercoreng oleh media-media yang abal-abal,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kepercayaan narasumber terhadap jurnalis.
Padahal, menurutnya, jurnalis profesional telah dibekali pemahaman etika, kaidah jurnalistik, serta standar peliputan seperti 5W+1H, keberimbangan, dan sembilan elemen jurnalistik.
Ia berharap masyarakat dapat membedakan antara media sosial dan karya jurnalistik, mengingat saat ini banyak media sosial yang menganggap dirinya sebagai media. [Nathania Shakira]

Tinggalkan Komentar Anda