Kekiceghan. | Zaqia Azzahra/Noviyana/SMAN 1 Pesisir Tengah
Malam dihiasi bintang berkelip-kelip. Letupan menggema bersahutan seperti tak mau berhenti.
“Duar! Tarr-tarr-tarr.“
Letupannya memantul seakan memecah heningnya langit Pugung, sebagai saksi bahwa tradisi leluhur akan dimulai. Di tengah kerumunan yang mulai hening, dua remaja maju menuju panggung sederhana sebagai tempat tradisi kembali bernapas, dengan memegang sebuah rebana.
Bibirnya melantunkan bait demi bait nyanyian dengan nada yang gembira yang memiliki makna tersendiri di dalamnya. Inilah kekiceghan, tradisi khas budaya masyarakat Pugung, Pesisir Barat, yang diwariskan turun-temurun.
Kekiceghan bukan sekadar tradisi. Ia adalah denyut hiburan yang menghidupkan kembali masyarakat Pugung setelah sebulan menahan lapar dan dahaga.
Setiap tahun, ketika gema takbir Idulfitri mulai memudar, malam pertama Syawal berubah menjadi panggung bagi suara-suara yang merayakan kemenangan. Tepat jam tujuh malam, di bawah langit yang masih dipenuhi sisa-sisa cahaya Hari Raya, warga berkumpul.
Dari anak hingga orang tua. Semuanya larut dalam irama yang mengikat rasa kebersamaan. Kekiceghan berlangsung hingga fajar pertama menyentuh pucuk-pucuk pepohonan sebuah perjalanan malam yang panjang, namun selalu dirindukan.
Tradisi ini berpindah dari satu dusun ke dusun lainnya selama tujuh hingga sepuluh hari. Seolah membawa kabar gembira yang berkeliling tanpa lelah.
Lapangan-lapangan terbuka menjadi saksi bisu, tempat tawa, cahaya lampu, dan suara merdu menyatu dengan embun dini hari.
Setiap tahun, masyarakat di beberapa dusun di Pugung, seperti Kotakarang, Way Narta, Lemong, Pugung Penengahan, Pugung Bandar, dan Kuripan, Kerbang Langgargh, Pugung Tampak, Pugung Malaya, Pugung Bambang, Pugung Pagar Dalam, dan Negeriratu memasuki masa yang dinanti-nanti yaitu kekiceghan.
Prosesnya tidak terjadi begitu saja. Sekitar 20 hari sebelum Idulfitri, tepatnya sejak 10 Ramadan, ketua laki-laki muda dari tiap dusun berkumpul dalam sebuah musyawarah panjang.
Di sinilah segala persiapan dimulai. Pembentukan panitia pelaksana, penentuan giliran tampil, hingga pelatihan tari bagi anak-anak yang akan tampil disusun.
Setiap dusun akan membawa kebanggaannya sendiri. Tari adat dan tari cipta hasil kreasi muda-mudi menjadi suguhan utama.
Kekiceghan pun memiliki ciri khas yang mudah dikenali, terutama pada gerakan melangkah yang unik, seakan menegaskan akar adat yang kuat dalam setiap ayunan kaki dan kibasan tangan yang mengayun serempak.
Pelaksanaan dimulai sejak malam ke-1 hingga malam ke-10 Syawal. Malam-malam itu, suasana dusun yang biasanya tenang mendadak berubah.
Denting rebana dan gamolan beradu dengan suara pantun adat yang dinyanyikan para guru tari, menggema di lapangan tempat acara berlangsung. Di bawah cahaya lampu petromaks dan sorot panggung sederhana, muda-mudi dengan pakaian adat yang telah dipoles bedak rias tampil menari.
Gerakan mereka luwes, serempak, dan penuh ekspresi. Setiap langkah, setiap ayunan tangan, memancarkan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Bukan hanya tari. Kekiceghan juga menjadi ruang berkumpul bagi warga, tempat pantun empat pantun adat kembali bernyawa, doa mengalun lembut, dan anak-anak menatap kagum pada para penari kebanggaan pekon.
Dalam keterangannya, Sumiati, warga Pugung, Pesisir Barat, menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya setempat.
“Setiap tahun kita harus terus melestarikan budaya dan tradisi kita. Ini adalah identitas masyarakat Pugung yang tidak boleh hilang,” ujar Sumiati baru-baru ini.
Kekiceghan bukan sekadar pertunjukan seni. Ia adalah cara masyarakat menjaga silaturahmi, menjaga ingatan, merawat tradisi, dan menyatukan generasi. [Zaqia Azzahra/Noviyana/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda